Terpapar Covid: Ignatius Popo Sudah Negatif, Positif Lagi, lalu Benar-benar Negatif

540
Ignatius Popo, bersyukur selalu dalam lindungan Tuhan. (Dokpri)
Ignatius Popo (berbaju merah) bersama teman-temannya, usai mengikuti sebuah pengajaran. (Foto: Dokpri popo).

TEMPUSDEI.ID (18 FEBRUARI 2021)

Ignatius Popo mengira, demam yang ia alami sama dengan “sakit tahunan” yang biasa ia alami tatkala terjadi perubahan cuaca pada bulan Desember. Biasanya, dia hanya minum obat sumagesic dan antibiotik claneksi 500 mg, lalu sembuh.

Demamnya memang sempat hilang, tapi kemudian muncul lagi. Setelah diperiksa beberapa kali, Popo ternyata terpapar Covid-19. Hasil perawatannya, dari positif, dia sudah negatif. Tapi setelah dia periksa lagi dalam masa isolasi  mandiri, ternyata dia positif lagi. Baru kemudian, dia benar-benar negatif. Bagaimana ceritanya?

Memenuhi ajakan teman, 17 Des 2020, makan-makan PI-OH di Street Food, Jembatan Lima, Kota. Selesai makan, mereka masih sempat bercengkrama di Excelso Poligon Gajah Mada sambil ngopi-ngopi.

Empat hari kemudian (21/12) Popo mulai merasakan demam dan menggigil. Dia minum obat, demamnya hilang. Tapi pada 28/12 demamnya kembali lagi. Dia minum obat lagi dan hilang lagi.

Dorongan yang Kuat

Curiga ada yang berbeda dari “sakit tahunannya”, pada 24 dan 29/12 dia lakukan rapid test. Hasil keduanya negatif atau non reaktif. Popo  pun  sangat bersyukur dengan hasil ini. “Saya sungguh bersyukur dan merasakan kemurahan Tuhan. Dia terus melindungi saya,” ujar Ketua Seksi Kitab Suci Gereja Yohanes Penginjil, Paroki  Blok B, Jakarta Selatan ini.

Tapi entah apa yang mendorongnya, pada 31/12 ia melakukan Swab PCR test, padahal dia tidak merasakan gejala apa pun. “Jika saya waktu itu bebal dan percaya diri, mungkin tidak melakukan swab PCR. Saya seperti dituntun untuk lakukan PCR Swab,” ujar Popo.

Ternyata, dari hasil  PCR Swab Test yang keluar 12 jam kemudian dengan biaya yang sangat mahal itu, menunjukkan Popo positif Covid-19. “Tuhan mendorong saya untuk rendah hati demi keselamatan banyak orang,” ucapnya kepada tempusdei.id.

Hasil yang positif ini membuat Popo merasa sangat bersalah. Betapa tidak? Selama periode 21-31 Desember, dia bertemu dengan para sahabat dan staf kantornya. Pada Natal 25/12 dia juga mengunjungi orang tua dan saudara-saudaranya. Lalu pada 26/12 dia sempat makan siang bersama seorang sahabatnya. “Sungguh! Saya hanya bisa berdoa kiranya orang-orang yang pernah bertemu saya dalam periode 21-31 Desember tidak tertular dari saya,” ungkap Popo.

BACA JUGA:  Dari Pemakaman Pastor Malgesini: Dia Memang Terbunuh, Namun Tidak Mati, Karena Cinta Tidak Pernah Mati

Semua SWAB

Ignatius Popo (paling kanan).

Dia lalu menyuruh orang tua, saudara-saudaranya, supir pribadi, staf di kantor dan sahabatnya untuk lakukan swab test. Hasilnya? Semua negatif! “Kembali ini bukti Tuhan tidak meninggalkan saya seperti pada Mazmur 22. Allah menjagai semua umat-Nya. Tuhan mendengar doa saya dan perasaan bersalah sudah mulai hilang,” jelas Popo.

Popo benar-benar ingin memastikan kesehatannya. Pada tanggal 9 Januari 2021 dia lakukan Swab PCR dan cek darah serta CT Thorax. Hasilnya sudah negatif. Tapi hasil CT Thorax menunjukkan ada peradangan, namun tidak luas. D Dimer Marker sebagai tolok ukur penyumbatan darah masih tinggi, yaitu 900. Normalnya di bawah 500. Hal ini masih bisa diatasi secara oral dengan minum obat pengencer darah.

Kata Popo, Virus Korona merusak sistem darah dan menyebabkan penyumbatan. “Yang ditakutkan adalah penyumbatan pembuluh ke paru-paru atau trombosit paru-paru. Ini yang membuat sesak nafas dan menjadi kritis,” jelasnya.

Ketika berkomunikasi dengan tempusdei.id pada 16 Februari 2021, Popo sedang dalam proses pemulihan. Dia juga melakukan olah raga ringan dan latihan pernafasan sesuai saran dokter. “Kembali Tuhan sangat mengasihi saya dan Kemurahan Tuhanlah yang setia melindungi saya,” ucap Popo penuh takzim.

Popo merasa sangat bersyukur. ”Benar Tuhan menjagai saya karena selama terpapar Covid saya tidak ada gejala apapun. Bisa tidur, makan, masih bisa membaui dan tidak ada sesak nafas. Selama isolasi mandiri, saya konsumsi Minyak Buah Merah Papua dan madu hitam setiap pagi hari,” ujarnya.

Hasil analisa CT Thorax menunjukkan bahwa sudah ada virus dalam paru-paru Popo, tetapi tampaknya tidak terlalu menempel, sehingga kerusakan yang ditimbulkan tidak meluas.

“Sungguh Tuhan menyertai saya dalam melawan Covid-19. Covid ini tidak ada obatnya, jadi hanya iman bahwa Tuhan akan melindungi sepanjang belum waktunya kita dipanggil. Mungkin masih banyak tugas yang mau diberikan pada saya untuk kemuliaan nama-Nya.”

BACA JUGA:  Pater Stefanus Adi Budi Kristanto, MSC, Imam Pertama dari Paroki Santa Clara, Bekasi Utara

Positif Lagi

Ignatius Popo (barisan belakang, berbaju merah, paling kiri).

Pada 15 Januari, Popo kembali lakukan PCR Swab. Hasilnya sangat mengejutkan! Dia kembali dinyatakan positif dengan CT Value Gen E sebesar 34,7 dan tidak terdetect CT Value untuk Gen RDRP dan Value Gen N.

Ini mengherankan, sebab dari tanggal 9-15 Januari, dia masih isolasi mandiri dan tidak berjumpa dengan siapa pun. Ada sedikit hiburan dari dokter yang mengatakan, “Ini hanya bangkai virus, jadi sudah tidak berbahaya.”

Ketika terdeteksi positif, Popo merasa khawatir, sebab dia memiliki penyakit bawaan. Jantungnya sudah dipasangi 3 ring.

 Pada tanggal 22 Januari 2021, Popo  kembali melakukan PCR Swab yang ke-3 kali. “Puji Tuhan hasilnya kali ini sudah negatif,” ucap Popo.

Lalu, pada 5 Februari 2021 sekali lagi dia lakukan PCR Swab untuk memastikan benar-benar bahwa sudah negatif. Hasilnya memang sudah negatif.

Harus Peka

Pengalaman tersebut membuat Popo semakin percaya bahwa Allah tidak meninggalkan Umat-Nya, selama Umat itu tetap berpengharapan dan berdoa kepada Tuhan. “Saya sungguh merasakan pertolongan dan perlindungan Tuhan, baik untuk saya sendiri maupun untuk orang orang yang pernah bertemu dengan saya selama periode kemungkinan saya terpapar.”

“Jangan sampai kita hilang pengharapan akan Kasih Tuhan selama menghadapi pandemi ini. Roh atau jiwa adalah pemberian dari Tuhan. Kita juga diberi kehendak bebas dan akal budi. Gunakan itu semua untuk membentuk iman yang tangguh. Kita juga harus peka mendengar pesan-pesan-Nya agar kita tidak ceroboh. Roh atau jiwa pemberian dari Tuhan, maka kapan mau Dia ambil dan minta kembali, itu sepenuhnya hak Tuhan. Kita hanya bisa berpasrah,” saran Popo memungkasi kesaksiannya. (tD/EDL)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here