Buah Dialog Intelektual Penuh Rasa Wanita Katolik dan Fatayat NU

144
"Mamake Curhat" karya bersama WKRI DPC Kristus Raja dan Fatayat NU Kabupaten Banyumas

Inilah buah dialog intelektual penuh rasa bu-ibu WKRI DPC Kristus Raja Purwokerto dan Fatayat NU Kabupaten Banyumas. Ini saatnya “menikmati” curhat berenergi para ibu.

TEMPUSDEI.ID (6/2/21)

“Tak kenal maka tak sayang,” begitu bunyi sebuah adagium yang telah menjadi klasik itu. Ungkapan ini mengiyaratkan bahwa saling kenal memudahkan kerjasama, terutama dalam misi bersama membangun peradaban dan kehidupan yang penuh dengan kegembiraan dan harapan.  Dalam upaya saling mengenal itu muncul  berbagai macam perjumpaan yang acap disebut juga “dialog”. Lalu muncullah macam-macam dialog: dialog antar agama, dialog karya, dialog teologis, dialog intelektual dan lain sebagainya.

Buku Mamake Curhat yang diterbitkan bersama-sama oleh Fatayat NU Kabupaten Banyumas dan WKRI DPC Kristus Raja Purwokerto ini bisa digolongkan sebagai bentuk konkret dari “dialog karya intelektual penuh rasa”. Mengapa? Karena buku ini merupakan hasil olah intelektual para wanita berupa sharing pengalaman hidup yang tentu saja di dalamnya ikut serta perasaan penuh pergumulan mereka. Melalui sharing tersebut, mereka saling masuk ke kedalaman pengalaman dan perjuangan hidup yang bisa saling meneguhkan dan menginspirasi.

Buku ini berisi 60 buah tulisan yang diperkaya oleh Sambutan dan Kata Pengantar yang kian menegaskan kekuatan pengalaman para ibu dalam mengolah kehidupan.

Membaca buku ini, pembaca seperti menyaksikan dan merasakan begitu banyaknya cadangan energi tak terduga dalam diri emak-emak. Misalnya kisah Ani Kholifah, tulisan kedelapan dalam buku ini. Dalam sharinya, Ani Kholifah bercerita tentang kehidupannya sebagai ibu muda dengan putera berumur empat tahun. Ia menulis sekelumit kisah hidupnya dalam judul Dilemaku.

Ani melanjutkan studi dari D3 ke S1 sesudah menikah. Pada semester akhir, pada saat KKN, ternyata ia hamil. Sebenarnya Ani telah berusaha untuk menunda kehamilan. Dalam kondisi hamil muda pada semester akhir itu Ani harus pulang pergi Ajibarang-Purwokerto dengan menanggung rasa lelah pula.

BACA JUGA:  Andre Lemmers, Biarawati Spartan dari Spaarndam, Penolong Penderita Bibir Sumbing

Ketika kemudian melahirkan, lulus dan wisuda, Ani kembali dalam dilema. Apakah ilmu dan gelar yang ia raih dengan susah payah itu akan dibiarkan tak terpakai karena harus mengurus anak? Ia sempat bekerja di koperasi, lantas mengajar di sebuah SMK dan juga MTs. Waktunya mulai banyak di luar rumah. Anaknya yang masih kecil lebih sering bersama dengan neneknya. Pada saat-saat sendiri Ani merenungkan, haruskah demikian yang ia lakukan? Meninggalkan anaknya yang masih membutuhkan perhatian darinya? Ada rasa bersalah yang menyelinap.

Sepenggal kisah Ani tersebut dikutip Sutriyono selaku editor dalam Catatan Editor. Membaca judul-judul tulisan dalam daftar isi saja sudah terasa ada energi yang ditawarkan para penulis.

Ada judul Karena Bahagia itu Bersyukur (A`tina Fatha), Ketika Tulang Rusuk Menjadi Tulang Punggung (Chafie Noeraj), Ayam Goreng NU, WKRI dan Fatayat NU (Benedicta Sari), Ketika Seorang Perempuan Membelah Diri (Ernawati Ubaid), Pejuang Ceberal Palcy (Juni Wihayani), Elegi Si Pengucur Devisa (Roikhatul Jannah), Kata Romo Jangan Makan Kursi (Theresia Sri Supartini Suradji), Puisi dan Surat Buat Ibu (Yohana Nursuwening) dan masih banyak lagi.

Semoga dialog hati, perasaan, pikiran dan pergumulan para ibu dari dua komunitas tersebut melahirkan energi-energi alternatif baru yang menginspirasi untuk membangun bersama kehidupan yang penuh dengan kegembiraan, harapan, duka dan kecemasan ini menjadi kehidupan yang saling meneguhkan dan menopang terutama di masa yang Pandemi Covid-19.

Tentang Virus Korona ini, kata Gus Mus, manusia sering lupa dengan sesamanya, bahwa mereka satu nenek moyang, yakni Adam dan Hawa. “Nah kita diingatkan. Seringkali ketika kita memiliki kelompok, lalu kelompok lain kita anggap sebagai bukan jenis manusia. Peringatan ini kena pada semua. Wabah korona ini adalah wabah kemanusiaan yang mengingatkan manusia terhadap jati dirinya,” jelas Gus Mus beberapa waktu lalu ketika berbicara dalam sebuah zoominar.

Menurut informasi yang beredar, buku ini bisa dipesan melalui Vonny Indrawaty (08988108181) atau Sari di 08158088792. Selamat membaca dan menyerap energi dari emak-emak.  (tD/EDL)

BACA JUGA:  Antologi Puisi “Kasut Lusuh” dan Transfigurasi Pengalaman

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here