Hadapi Pandemi Korona dengan Semangat Beata Rani Mariam Vattalil

31

TEMPUSDEI.ID (14/12/20)

Barangkali, belum banyak yang mengenal sosok Beata Rani Mariam Vattalil. Dia tidak sepopuler orang kudus lainnya seperti Beato Carlo Acutis, remaja usia 15 tahun yang belum lama ini dinyatakan sebagai beato dan menjadi pembicaraan di seluruh dunia.

Namun kalau kita telusuri jejak hidupnya, Beata Rani memiliki tempat tersendiri dalam hati para buruh miskin di Keuskupan Indore, India. Dia tercatat  menjadi teman seperjalanan masyarakat sederhana dan miskin dalam menempuh kehidupan yang sangat idak mudah. Ia mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan ekonomi masyarakat tertindas. Dia terjun melakukan perlawanan terhadap sistem kerja paksa tanpa upah yang dialami masyarakat.

Semangatnya dalam memperjuangkan keadaan ekonomi dan mengangkat martabat manusia bisa menjadi spirit di masa Pandemi Covid-19 ini. Memang konteks perjuangan berbeda, tapi kita bisa timba semangat juang dari Beata Rani ini.

Lebih Dekat dengan Beata Rani Mariam Vattalil

Patung Beata Rani Mariam. Tampak luka-luka di badannya akibat penganiayaan

Siapakah Beata Rani Mariam Vattalil ini? Dia merupakan seorang Katolik Religius dari India yang lahir pada tanggal 29 Januari 1954 di Kelara, India.

Sr. Rani Maria Vattalil masuk Kongregasi Fransiskan Klaris di Kidangoor setelah menyelesaikan sekolah menengah dan mengambil nama religius “Rani Maria” saat memasuki novisiat. Ia masuk ordo pada 3 Juli 1971 untuk masa calon, yang berakhir pada tanggal ¬†30 Oktober 1972. Masa ¬†postulan dimulai pada 1 November 1972 dan berakhir pada 29 April 1973 dan Novisiatnya berlangsung dari 30 April 1973 hingga 20 April 1974.

Sr. Rani Maria diutus untuk membantu masyarakat yang kurang mampu di Keusukupan Indore. Pada tahun 1972 ia masuk ke dalam Kongregasi Klaris Fransiskan. Ia bekerja sebagai misionaris di India Utara pada keuskupan di desa-desa paling terpencil. Ia memiliki preferensi untuk yang tertindas dan terpinggirkan. Tujuannya adalah untuk meringankan penderitaan, menghibur hati yang hancur, membawa perdamaian, membentuk hati nurani, mempromosikan keadilan dan membela kebenaran.

BACA JUGA:  Jalan-jalan Tikus Menjadi Wartawan dalam Kegembiraan, Harapan dan Kecemasan

Pada tanggal 25 Februari 1995 ia harus meregang nyawa karena keberaniannya membela masyarakat tertindas. Beberapa tahun setelah kematiannya ia di Beatifikasi dan diberi nama kudus oleh Paus Fransiskus di Indore pada 27 November 2009. Kisah hidupnya ini dijadikan sebuah film berjudul Heart of a Muderer yang merupakan pemenang Festival Film Harmoni Antaragama Sedunia tahun 2013. (Angelina Eka Putri)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here