Keluarga Korban Tragedi Sigi Memerlukan Doa dan Dukungan Psikologis

407

TEMPUSDEI.ID (12/12/20)

Keluarga korban pembunuhan secara keji oleh gerombolan teroris masih trauma. Sementara itu rumah dan seluruh harta mereka ludes sebab rumah mereka hangus dibakar gerombolan yang sama.

Seperti diberitakan sebelumnya, akibat trauma, mereka bahkan tidak mau pulang ke lokasi rumah mereka. Di mata mereka, segala sesuatu yang mereka lihat di sekitar lokasi bisa memicu rasa trauma itu.

BACA JUGA: https://www.tempusdei.id/2020/12/3131/keluarga-korban-pembunuhan-sadis-di-sigi-sulteng-trauma-dan-tidak-mau-kembali-ke-rumah.php

Secara psikologis, perasaan traumatis seperti yang para keluarga korban alami tidak mudah disembuhkan, apalagi seluruh indra mereka merekam peristiwa tragis itu, sebab terjadi di depan mata mereka.

Andre Wibawa

Lalu, apa yang perlu dilakukan agar bisa pulih dari trauma itu? Para psikolog mengakui trauma yang keluarga korban tersebut alami tergolong sangat berat. Menurut Andre Wibawa, psikolog dari Universitas Bhayangkara, orang yang melihat atau melihat langsung peristiwa sadis, bisa mengalami goncangan berat sebab semua yang terjadi masuk ke alam bawah sadarnya. Hal ini yang menyebabkan orang trauma, paranoid, depresi dan tidak bisa menguasai alam sadarnya atau unconscious system-nya.

Masih menurut ayah dua anak ini, kasus Sigi masuk dalam longterm memory. Artinya, bisa membekas dalam ingatan dalam waktu yang lama. “Ini tidak mudah. Ini healing-nya agak lama,” tambahnya.

Tambah Andre, dalam psikologi dikenal Behaviorism Theory. Artinya, jika seseorang tumbuh dalam lingkungan kekerasan, maka ia bisa terbentuk menjadi keras seperti yang ada di lingkungannya. Jika seseorang tertempa dalam situasi kekerasan, yang muncul bukan pengampunan tapi melahirkan kekerasan baru dan dendam kesumat terhadap pelaku.

Andre lalu menyebut 3 langkah dalam mengatasi trauma, yakni: Pertama, penyembuhan dalam ranah unconscious yang ikhlas, jiwa yang ikhlas, jiwa yang menerima dan mengampuni. “Ini tidak mudah”. Diperlukan spiritual healing.

Kedua, berikan kesibukan di tengah-tengah lingkungan yang sehat. Belajar menerima, mengampuni dan sebagainya. Di sini bagaimana memberikan peran dan tugas harian yang disebut activity learning, semakin banyak aktifitas semakin bisa ia melupakan tragedi itu. Ketiga, organization healing. Di sini dibutuhkan dukungan seluruh komponen bangsa seperti dari komponen HAM,  pemberdayaan wanita, psikolog. Ini bisa membantu percepatan healing. “Di sini sangat penting yang namanya dukungan sosial. Orang-orang ini butuh perhatian dari negara. Negara harus hadir di sana. Ini namanya Social supporting healing,” tambah Andre.

BACA JUGA:  Kapolri Baru, A Wind of Change

Kalau tiga-tiganya dilakukan, kata Andre yang juga adalah pembicara publik dan motivator ini, akan bisa membantu.

Bram Wongkar

Sementara itu, Bram Wongkar, seorang konselor mengatakan bahwa tragedi Sigi menyisakan trauma, bahkan bukan hanya pada keluarga korban, tapi juga pada warga desa  . “Kasus di Sigi selain menyakitkan, meninggalkan trauma dalam kesadaran maupun di bawah alam sadarnya,” kata Bram.

Namun lanjutnya, dalam perjalanan waktu mau tidak mau harus “diterima”. Harus ada pengampunan, dan ini lebih baik daripada menyimpan dendam.

Yang penting tambahnya, secara psikologis ada jaminan keamanan dari aparat pemerintah atau keamanan dengan menempatkan petugas keamanan yang memberikan rasa nyaman untuk penduduk, lalu menangkap orang-orang yang melakukan perbuatan yang tidak berperikemanusiaan itu.

“Hingga akhirnya mereka mengalami kebebasan untuk hidup tenang di dalam lingkungannya.”

Bagaimana menghilangkan rasa benci kepada pelaku dan pada diri sendiri karena tidak bisa menolong? “Nah, apa yang harus dilakukan orang lain,” jawabnya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan menurut Bram adalah Pertama, piihak pemerintah harus membasmi atau mengejar para teroris sampai ke akar-akarnya. Sekaligus menempatkan aparat untuk menjamin atau menjaga keamanan  lingkungan desa Sigi dan sekitarnya.

Kedua, memberi semangat kepada warga bahwa aparat adalah jaminan untuk keselamatan mereka dengan menambah pos-pos keamanan yang rawan untuk penduduk setempat.

Sedangkan dari masyarakat setempat, perlu ada tim relawan selain untuk memberi dukungan moril, juga untuk memberi terapi psikospiritual. Artinya, menciptakan terapi berupa permainan-permainan, sekaligus mendengarkan ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, kebencian tanpa menghakimi. “Perlahan-lahan ajak mereka  mendoakan, melakukan metode doa pemulihan batin (mengampuni) di lokasi tersebut.  Bila tidak bisa terjun langsung ke tempat tersebut, perlu korensponden atau komunikasi lewat media. Kasih spirit positif,” jelas. “Jelas! Mereka memerlukan doa dan dukungan,” tambah ayah satu anak ini.

BACA JUGA:  Kejutan ala Jokowi
Istiani

Sementara itu, Dr. Cornelia Istiani, psikolog dari Universitas Binus mengatakan, orang-orang yang hendak membantu memulihkan keluarga korban,  perlu memahami kondisi psikis dan perilaku yang muncul pada mereka.

Menurut Isti, ketika seseorang mengalami krisis (trauma) kondisi mentalnya menunjukkan beberapa ciri seperti mengalami ketidakpastian, khawatir, cemas, takut, putus asa, tak berdaya, penyangkalan, atau panik.

Sementara itu, perilaku yang muncul biasanya mencari perlakuan khusus, melakukan tindakan yang tidak sesuai, atau melakukan stigmatisasi.

“Dengan memahami dua hal tersebut, maka  bantuan psikologis yang diperlukan untuk memberikan rasa aman, terhubung dengan orang lain, memiliki harapan, akses kepada bantuan sosial, fisik dan emosional. Dan yang tidak boleh terlupakan adalah membuat individu tersebut kembali mendapatkan rasa kendali dengan mampu membantu diri sendiri”. (tD/EDL)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here