Puisi dalam Pandangan Sastrawan Gerson Poyk: Kenangan dari Obrolan Siang di Kala Hujan

70

Oleh Fanny J. Poyk, anak dari sastrawan Gerson Poyk

Fanny J. Poyk

Belakangan ini puisi naik daun. Hampir seluruh grup  di Facebook atau WA mengusung sastra sebagai  point utama dalam menjaring pengikut. Mereka juga  menempatkan puisi sebagai topik  utama  yang paling menarik perhatian untuk ditulis maupun diapresiasi. Pecinta puisi baik yang amatiran, pendatang baru hingga pakar, seakan berlomba menampilkan karya mereka. Penuh rangkaian kata dengan imajinasi yang mudah dimengerti sampai yang kelas tinggi.

Bagi para pakar, pencipta puisi, tentu ada kiat-kiat khusus yang bersumber dari data dan pembelajaran yang intens dari berbagai puisi ciptaan penyair Amerika, Eropa, Afrika, Jepang, China, juga Indonesia.

Hasil obrolan tentang puisi bersama Bapakku Gerson Poyk ini, pasti tidak menunjukkan bahwa kami adalah pakar atau ahli di bidang ini. Mungkin ada persepsi yang berbeda dari para pembaca tentang sebuah puisi. Puisi bisa dimaknai sebagai karya seni yang menarik, menghibur atau dapat memberi makna terdalam bagi pembaca dan penulisnya.

Menurut Gerson Poyk, puisi penuh kritikan. Ia mengibaratkan puisi sebagai “daging mentah” yang belum dicampur dengan bumbu-bumbu. Puisi-puisi seperti ini tidak dibarengi dengan perasaan, imajinasi, logos dan naluri-naluri. Semua itu nantinya akan tenggelam di bawah sadar jiwa.

Sedangkan puisi yang bagus merupakan perkawinan akal dengan imajinasi, perasaan, dan naluri-naluri. Hasilnya menyerupai makanan yang enak. Puisi seperti ini muncul dari getaran-getaran intuitif di dalam batin.

Jika kita membuat puisi yang mudah dimengerti, itu seperti puisi “daging mentah” yang belum dicampur dengan imajinasi, perasaan dan naluri-naluri. Ibarat bumbu masakan, jika tak ada rasa dalam mengolahnya, maka seperti apa pun hasil masakan itu, rasanya akan hambar dan kurang menarik. Jadi semua itu harus ditenggelamkan dan dimasak hingga menjadi suguhan makanan yang enak untuk dimakan.

Seorang penyair harusnya bermodal pada poetic intuition atau intuisi puitis, yang keberadaannya di dalam batin gelap gulita. Dan itu harus kita gali secara terus-menerus. Di sana ada perasaan-perasaan yang tersembunyi di dalam batin, dan itulah yang harus “dimasak” atau diolah. Contohnya: Kulihat bulan di langit adalah arti rasional, tapi kulihat bulan di matamu merupakan arti imajinal.

Seorang penyair pasti memiliki kosa kata bahasa yang indah. Di samping itu dalam sebuah puisi  juga harus ada kemerduan bunyi. Kata-katanya jangan berakhiran a…a…a saja, akan tetapi harus dipadu dengan bunyi m…n…ng…o…i…e dll. Ini disebut dengan poetic sense atau cita rasa puitis dalam kata. Setelah itu harus ada pengalaman puitis yang berasal dari batin sendiri. Misalnya tentang kisah masa kecil, mengenal masa lampau dan lain-lain, di situ terdapat gaung batin yang dalam.  Dalam hal ini anggap saja seperti puisi kuliner, kita makan makanan lengkap meski ada daging dan lauk lainnya, namun tidak terasa daging, tidak terasa garam, namun sudah bercampur menjadi satu rasa yang enak sekali dan begitu pula dengan batin kita.

Di Indonesia, menurut Gerson Poyk, penyair yang puisi-puisinya sangat kuat  adalah Leon Agusta.

Beberapa puisi yang indah seperti puisi Haiku Jepang yang menggambarkan seekor katak melompat di kolam, meski puisi itu hanya singkat, lingkaran air yang terbentuk dari air di kolam itu memberi makna puitis yang dalam. Puisi sesungguhnya harus ada logika rasional, logika imajinal, dan naluri-naluri bawah sadar. Dalam puisi tidak boleh hanya “sadar”, seperti puisi politik, namun harus ada pathos atau perasaan yang menemukan simpati, antipati, kemerduan bunyi pada kata dan getaran batin.

Salam puisi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here