60 Tahun Imamat Suci Pastor Prof. Dr. Kees Bertens MSC   

524
Misa Syukur 60 Tahun Imamat Pastor Kees Bertens. Foto: Stef T

Kristus Menganggap Aku Setia dan Mempercayakan Pelayanan ini kepadaku

Pastor Kees Bertens MSC

Pesta 60 Tahun Imamat Suci dirayakan Pastor Prof. Dr. Kees Bertens MSC secara sederhana bersama konfraternya di Rumah Induk Provinsialat MSC, Jakarta Pusat, Jumat, 4 September 2020. Dihadiri 17 imam dan bruder MSC, tiga di antaranya adalah mantan mahasiswanya di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, Manado, yakni Pastor Andreas Gunawan MSC, Pastor Goni Masela MSC, dan Pastor Yoppi Sumakud MSC.

Pastor Bertens sudah berencana merayakan pesta ini bersama para mantan mahasiswanya di STF-SP, Manado. Karena terhalang pandemi covid-19, hanya 3 orang yang hadir. Sebagai selebran utama, Pastor Kees Bertens didampingi Provinsial MSC Indonesia Pastor Samuel Maranressy dan Asisten Provinsial Romo Dwi Rahadi MSC.

Wajah Pastor Bertens tampak berseri-seri sejak awal Ekaristi. Br Yos Daempal MSC, yang menjadi dirigen utama menghadirkan lagu-lagu penuh khidmat dan dinyanyikan dengan gembira ria oleh para konfrater MSC.

Pastor Kees Bertens MSC lahir di s-Hertogenbosh, Tilburg, Belanda, pada 29 Juni 1936. Ia masuk MSC dan mengikrarkan kaul pertama membiara pada 21 September 1955. Pada 21 September 1958 ia menjadi anggota penuh kongregasi itu lewat pengikraran kaul kekal.

Pada 4 September 1960, bersama enam teman lainnya, ia ditahbiskan imam di Stein, Belanda. Salah seorang teman yang kemudian menjadi misionaris MSC di Indonesia adalah Pastor Kees Bohm MSC, yang sampai kini bekerja di Keuskupan Amboina, Maluku.

Dari tujuh orang yang ditahbiskan itu, kini tinggal empat orang. Dua diantaranya bekerja di Indonesia, yakni Pastor Bertens dan Pastor Bohm MSC. Di Ambon, Pastor Cornelis Bohm MSC juga merayakan 60 imamat suci ini dalam kesederhanaan.

Setelah ditahbiskan imam, Pastor Bertens mendapat tugas belajar filsafat di Universitas Katolik Leuven, Belgia hingga meraih gelar doktor filsafat pada 1968. Sejak 1968 ia mengajar filsafat sistematis dan sejarah filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng dan beberapa perguruan tinggi lain.

Sejak 1983 sebagai dosen etika di Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya, ia aktif sebagai sebagai staf di Pusat Pengembangan Etika Universitas Atma Jaya Jakarta dan mengepalai badan itu pada 1984 hingga 1995. Ia terpilih sebagai ketua Perhimpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia (HIDESI) untuk periode 1990-1998.

BACA JUGA:  IN MEMORIAM Pater Wilhelm Waneger, CSsR (1933-2020) Ketika Kepergian Harus dalam Sunyi

Sejumlah buku telah diterbitkan dan artikelnya tersebar di media cetak, baik dalam negeri maupun luar negeri. Buku  karyanya antara lain Sejarah Filsafat Yunani, Ringkasan Sejarah Filsafat, Etika, Psikoanalisis Sigmund Freud (2006) sebagai editor dan penerjemah, Aborsi sebagai Masalah Etika (2002), Perspektif Etika (2001), Perspektif Etika Baru,  Pengantar Etika Bisnis (2000), Membahas Kasus Etika Kedokteran (1996), Sketsa-sketsa Moral, Pengantar Etika Bisnis, Keprihatinan Moral, dan masih banyak lagi.

Selama 60 tahun itu, ia selalu di bidang akademis. “Saya mengajar 2 tahun di Seminari MSC di Belanda, 11 tahun di Seminari Pineleng, beberapa tahun di STF Driyarkara, dan paling lama di Universitas Katolik Atma Jaya.  Saya ditahbiskan bersama 6 frater MSC yang lain. Dari tujuh neomis waktu itu, hanya 4 pater hari ini boleh merayakan pesta intan, 3 sudah meninggal dunia,” tuturnya.

 Pestanya Korban Covid-19  

Pastor Prof. Dr. Kees Bertens MSC berfoto bersama para konfraternya usai Misa Syukur. Foto: Stef Tokan.

 “Pesta saya 60 tahun imamat ini menjadi korban virus korona yang sedang melanda dunia,” katanya di awal khotbah yang membuat para konfraternya tersenyum-senyum.

Pada awal tahun 2020, Pastor Bertens sudah memberitahukan kepada saudara di Belanda tentang yubileum ini dan ada yang sudah merencanakan mau datang, seperti ketika ia merayakan pesta emas imamat. Belum lagi, semua sahabat dan kenalannya, antara lain mahasiswa kedokteran yang mau ia undang. Dalam keadaan sekarang semua itu tidak jadi.

Namun, ia dan seluruh komunitas MSC  tetap bersyukur, bahwa di tengan pandemi ini, pesta 60 tahun imamat ini dapat dirayakan secara sederhana dan kita semua selamat dan sehat terus. “Saya harap dan berdoa agar kita semua selalu mempunyai kehati-hatian dan kesabaran cukup supaya komunitas kita tetap aman dan terlindung,” harap Pastor Bertens MSC.

Tidak Pernah Punya SK Pastor Paroki

BACA JUGA:  Romo L. Sugiri SJ, Wafatnya Imam Karismatis yang Bijaksana dan Murah Senyum

Selama 60 tahun imamat ini, Pastor Bertens merasa tidak pernah bekerja full-time di paroki. Ini menjadi suatu pengecualian dalam Tarekat MSC Provinsi Indonesia. “Tidak pernah ada SK yang mengangkat saya sebagai pastor di salah satu paroki. Yang masih paling dekat dengan SK adalah surat dari Mgr. Verhoeven yang mengangkat saya sebagai pembantu bagi umat di Pulau Siau, Sulawesi Utara, waktu hari raya selama masa libur. Bagi saya cukup menyenangkan melayani umat di sana (Ulu, Ondong, dan di tengah-tengah Beong). Sekarang, saya lihat, sudah ada pastor tetap di Pulau Siau,” ungkapnya.

Meski begitu, Pastor Bertens selalu membantu dalam paroki-paroki, terutama pada hari Minggu. Selama di Jakarta, ia pernah membantu di Paroki Kristoforus, Grogol dan kemudian di Paroki Blok B, Kebayoran Baru sampai sekarang, tahun ini genap 40 tahun.

Pastoral Internasional

Sesudah ditahbiskan, Pastor Bertens langsung melanjutkan studi di Leuven, Belgia. Di sana waktu hari Minggu ia membantu di paroki atau biara suster.

Pengalaman pastoral yang paling mengesankan dirinya, yakni di Perancis. Waktu studi di Leuven, selama libur panjang (dari akhir Juni sampai awal Oktober) beberapa kali ia membantu di kota La Courneuve, pinggiran Paris yang disebut “daerah merah” (la banlieue rouge, = komunis).

Mereka mempunyai suatu sistem, yang disebut “prêtre de garde”, artinya, imam sebagai jaga. Si imam harus melayani semua orang yang membutuhkan. Permintaan yang sering ada adalah “convoi”, yakni pemberkatan dan doa untuk jenazah yang dibawa ke gereja. Orangnya tidak pernah aktif sebagai Katolik, tapi keluarga menginginkan suatu upacara di gereja sebelum ia dikuburkan. Komentar pastor-pastor Prancis ialah “mereka tidak mau dikuburkan seperti anjing”. Juga ada banyak permintaan pembaptisan anak yang – kemungkinan besar – sesudah itu sang terbaptis tidak pernah masuk gereja lagi. Tetapi umat yang masih aktif di sana sangat rajin dan bagi Pastor Bertens ini sangat mengesankan.

Waktu ia mengajar filsafat di Seminari MSC di Belanda, ia juga selama satu tahun membantu di suatu desa pertanian/peternakan, namanya Wijhe. Sabtu sore ia pergi dengan kereta api dan Minggu sore kembali. Di sana ia membantu Pastor Cozijnse. Dari dia, Kees Bertens belajar banyak tentang “kesenian” minum anggur. Waktu itu minum anggur merupakan semacam kultur khusus bagi klerus projo di Belanda. Ia masih ingat, di tempat itu pada tahun 1965 ia mulai pimpin misa dalam bahasa bahasa Belanda.

BACA JUGA:  Greg Tan, Anak Muda yang Bangun 141 Gereja itu, Dulu Jualan Gorengan di Kampus

Karena pengalaman pastoralnya bersifat internasional, ia lantas  melihat beberapa perbedaan. Misalnya, di Belanda anak-anak yang tidak dididik sebagai Katolik tidak begitu mudah akan dibaptis seperti dalam Keuskupan Agung Paris. Dan itu dapat dimengerti alasannya. Jika seorang pastor mempunyai pengalaman pastoral dalam beberapa negara, ia tahu juga bahwa dosa yang sering dikemukakan dalam pengakuan dosa tidak selalu sama. Misalnya, menurut Bertens, dosa yang paling mencolok di Perancis ialah “gourmand”, yang berarti “rakus dalam hal makan”. Peniten mengatakan: “je m’accuse d’avoir été gourmand” atau lebih banyak lagi “gourmande” (=kalau wanita).

Ingat Motto Tahbisan  

Ketika ditahbiskan pada 4 September 1960, Pastor Bertens memilih motto tahbisan dari 1 Timotius 1:12  “Aku bersyukur kepada Dia yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku”.

Sekarang, sesudah 60 tahun, perkataan Paulus dalam Motto tersebut tetap aktual, bahkan barangkali lebih aktual lagi. Dan kalau Kristus menganggap dirinya setia selama 60 tahun, kesetiaan itu hanya mungkin karena menjadi rahmat Tuhan, pemberian dari Tuhan. “Semata-mata sesuatu yang diberikan, bukan prestasi saya sendiri. Karena itu saya mengajak kita semua untuk bersyukur bersama saya. Untuk itu kita tidak punya cara lebih bagus daripada perayaan Ekaristi. Kita tahu, kata eucharistia itu sendiri berarti pengucapan syukur. Karena itu marilah kita meneruskan perayaan Ekaristi ini dalam hidup kita,” ajaknya. (Stef T)

 

 

 

 

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here