Berdiri Pada Pelataran Agustus, Bulan Keramat

36
Gagah dengan Merah Putih. Ist

Oleh Emanuel Dapa Loka, tinggal di Bekasi

Kali ini kita berjumpa di pelataran “bulan keramat” bernama Agustus. Keramat? Ya, keramat. Namun, bukan dalam arti menakutkan atau menyeramkan. Agustus adalah momentum amat tepat bagi kita dengan penuh takzim menyatakan syukur dan refleksi atas Tanah Air merdeka ini.

Pada bulan ini pula kita diajak menghidupkan imajinasi  tentang masa silam dan membuka mata batin untuk melihat saat-saat para pahlawan bertarung merebut negeri ini—mereka mengorbankan segalanya, bahkan nyawa dan keluarga demi impian akan negeri yang merdeka dan berdaulat. Mereka benar-benar melupakan kepentingan diri, bahu-membahu, memaksimalkan segala potensi yang ada bagi tercapainya cita-cita negara merdeka. Mereka sudah menghidupi tema Kita Bhinneka Kita Indonesia.

Ya, kenyataan beragam itulah yang mengantar kita menjadi bangsa dan negara merdeka. Inilah yang terartikulasikan dalam lirik ini: Kita kini membusungkan dada sebagai bangsa karena cinta dan jiwa teramat mulia dari mereka yang “terbaring” dari Aceh sampai Papua. Ya, karena mereka menumpahkan darah dan melepas nyawa dari balik-balik bebukitan, dari lembah dan rimba-rimba, dari antara rerimbunan jumput-jumput ilalang, dari antara jerit dan tangis anak mereka yang laparnya tak pernah tuntas (dari puisi Emanuel Dapa Loka “Pada Tiang Matahari”)

Kini, kita pun perlu menerbangkan imajinasi untuk melihat hal-hal yang tercipta pada masa yang akan datang, yang merupakan buah dari kemerdekaan dan upaya mengisi kemerdekaan. Seperti apa masa depan nanti, sangat tergantung dari yang kita lakukan dan rencanakan hari ini dengan segala kemampuan dan keikhlasan.

Pada hari-hari ini, kita patut mengambil kesempatan untuk dengan jernih melihat kejujuran dan keikhlasan berbagai pihak dan kita sendiri dalam membangun negeri ini. Rekam jejak adalah cermin yang tidak pernah bohong. Kepada orang yang rekam jejaknya hitam, gagal, korup, tukang tebar fitnah tidak perlu dikasih kesempatan memimpin dan mengelola negeri ini. Terlalu berat bagi mereka dan nantinya bagi orang seantero persada ini. Kita memerlukan orang yang mau dan telah terbukti mewakafkan dirinya untuk keberhasilan negeri ini. Negeri ini hanya selamat di tangan orang semacam ini, yang bekerja dengan tangan dan pikirannya, digerakkan oleh imajinasi akan masa depan negeri ini.

BACA JUGA:  Menyebut Paus Dukung Perkawinan Sejenis, Pendeta Gilbert Lumoindong Tidak Peka dan Kebablasan

Banyak bicara dengan kecenderungan menyalah-nyalahkan orang lain tanpa melakukan sesuatu yang menggerakkan partisipasi banyak orang adalah ciri khas pemimpin yang gagal. Pandai bicara itu baik, namun haruslah bicara yang strategis, yang memetakan persoalan dengan baik karena dasar pertimbangan yang terukur. Namun lebih dari itu, dia juga haruslah seorang eksekutor yang jitu. Tidak banyak orang yang semacam ini. Untuk itu, kita perlu cermat. Caranya dengan membaca rekam jejak yang ada. Maka sangat perlu orang-orang yang ingin mengabdi bagi kepentingan publik memiliki rekam jejak yang baik dan mengesankan. Tidak ada cerita “tahu-tahu piawai”. Ini yang filsuf Alfred North White Head sebut everythings always in process of becoming atau segala sesuatu selalu dalam proses menjadi.

Mari berjuang bersama bagi masa depan negeri ini. Jangan kasih peluang sedikit pun bagi mereka yang ingin mengubah dasar dan prinsip hidup berbangsa kita. Bulan ini adalah pelataran yang tepat untuk merenda semangat dan tekad. Merdeka!

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here