In Memoriam Romo Markus Marlon, MSC: Wisuda Agung bagi Sang Gembala di Keabadian

1152
Pastor Markus Marlon, MSC

Oleh Lisbeth Ho, Pecinta karya kontemplatif, tinggal di Salatiga

Kemarin (5/8) subuh saat mentari masih di peraduannya, pada pukul 04.06 WIB, kami di grup WA Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias serasa tak percaya mendengar berita menggelegar bahwa Romo Markus Marlon sudah sowan Gusti.

Rabu dinihari, 5 Agustus 2020, pukul 02.20 WITA imam cerdas itu berpulang kepada Sang Khalik di Pastoran Paroki St. Yosep, Dumaring, Talisayan, Berau, Kalimantan Timur. Almarhum lahir di Playen, Gunung Kidul (Yogyakarta), 22 Januari 1966.

Romo sudah lama mengidap diabetes. Terakhir trombositnya sangat rendah dan sangat kelelahan menjelang kepindahannya ke Pedalaman Sulawesi Selatan  pada 9 Agustus 2020 untuk melayani suku Toraja.

Pada hari Jumat sore 31 Juli, 2020 ia masih berkabar di whatsapp kepada penulis bahwa ia sangat lelah. Sabtu pagi pukul 09 pun, ia masih pamit akan melayani ke stasi serta Hari Mingggu pun masih menengok WA tempat karya tulisnya dibagi. Hari Minggu itu pula setelah pimpin Misa di Paroki, ia muntah-muntah begitu kata Suster Paulina Endri, kakaknya. Ia dijaga oleh umat dan ada keluarga juga. Dia ditangani secara medis. Saat malam terakhir ia kritis, ia cuma minta diurut. Romo tak mau dibawa ke rumah sakit, ingin meninggal di pastoran saja. Begitu keterangan dari kakak lelakinya H.Y Asno.

Berbekal Senter Kunjungi Umat

Pastor Markus Marlon, MSC bersama umatnya.

Sedianya lulusan Seminari Mertoyudan angkatan 1982 – 1986 ini mendapat surat tugas pindah pada tanggal 02/08/2020, namun diundur seminggu. Umatnya di 5 stasi serta paroki utama yang telah empat tahun ia layani menahannya. Banyak yang menangis, berat melepasnya pindah ke tempat tugas baru. Begitu pernah disampaikannya pada penulis. Betapa tidak, domba-dombanya yang adalah mayoritas petani kelapa sawit asal Flores itu sangat dekat dengannya. Gembala mereka ini hampir setiap pagi dan sore, kadang malam pun berbekal senter dengan setia dan penuh sukacita mengunjungi umatnya dari rumah ke rumah. Berbincang hangat seraya menikmati sajian sederhana merupakan kepuasan tersendiri baginya. “Aku selalu senang dan merindukan umatku yang sederhana itu untuk kukunjungi,” begitu ia pernah bertutur.

BACA JUGA:  Dari Pemakaman Pastor Malgesini: Dia Memang Terbunuh, Namun Tidak Mati, Karena Cinta Tidak Pernah Mati

Alumnus STF Pineleng, Manado angkatan 1985 – 1995 ini dikenal baik oleh  teman-teman di grup KPK Deo Gratias serta di grup yang dibentuk oleh penulis untuk mengembangkan karya puisi Tanka rohani kristiani. Ia bukan penulis Tanka, tapi ia adalah penikmat serta suka membuatkan ulasan ala kontemplatifnya bagi karya Tanka kami.

Tanka adalah puisi/nyanyian klasik lima baris ala Jepang dengan sejumah ciri khas tertentu.

Cukup banyak sudah karya Tanka yang diulasnya dalam bentuk kolaborasi dengan karya member kami. Di antaranya ada Tanka dari Romo Rowima (Robert Wiem Maarthin), Alm. Trisno Soriton, Gengsi Sutjahyo, Ang Jasman, Yohanes Harsono, Ibu Dedeh Ssp, Waty Sumiaty Halim, Is Susetyanuingrum, Agnes Kinasih, penulis sendiri dan kolaborasi tulisan dengan responsoria Tanka  Koko Miko.

Penulis dimintanya untuk memilih serta menerjemahkan Tanka-Tanka tersebut  terlebih dahulu sebelum ia ulas atau gabungkan dengan responsoria Tanka. Para penyair Tanka di grup kami senang sekali serta menjadi lebih bersemangat dengan kolaborasi tulisan Romo Marlon dan puisi Tanka tersebut.

Buku untuk Pesta Perak Imamat

Romo Marlon berencana membukukan karya tulisnya  menjadi 8 buku untuk peringatan pesta perak Imamatnya bulan April tahun depan. Buku khusus kumpulan karya kolaborasi tulisannya dengan puisi Tanka kami adalah salah satunya. Namun karena masalah pandemi covid ia memutuskan jadi 5 buku yang akan dicetaknya terdiri dari 125 tulisannya. Sebelumnya ia sudah menerbitkan buku-buku lainnya pula. Ia seorang penulis yang produktif.

Menulis dan membaca menjadi candu yang indah baginya. Seringkali, tatkala memasuki sebuah hari, ia sudah memikirkan akan menulis tema apa pada hari berikut. Aroma mitologi klasik Yunani dengan kutipan-kutipan Latin yang  dipadu dengan kutipan Bahasa Inggris atau Jawa menjadi ciri khas tulisannya. Kemampuannya memilih dan merangkai aneka sumber itu dengan singkat, padat fokus dan bernas selalu dinanti-nantikan di grup-grup kami.

BACA JUGA:  Pastor Malgesini Dibunuh Saat Mengulurkan Tangan Memberi Sarapan Pagi

Kini bergantian teman-teman memperlihatkan dengan terharu buku-buku yang telah dibaginya secara free bila kami berminat pada bukunya. Ongkir pun ia yang tanggung. Kadang kami merasa risih dan tak tega apalagi untuk jarak luar pulau. “Tak apa nanti Tuhan ada saja caraNya akan menggantikan kok. Aku sudah banyak alami lho,” begitu ia katakan saat diingatkan untuk menghargai karyanya sendiri dengan penggantian harga buku dan ongkir. Masih banyak cerita kebaikan serta kemurahan hatinya yang tidak cukup dituliskan di sini.

Romo Rowima, gembala, penyair serta penggiat kebudayaan yang pernah satu mimbar dalam perayaan Natal Oikumene di Samarinda tahun 2015 mengatakan, Pastor Marlon seorang yang cerdas. Tampak dari perkataan dan analisanya yang bagus walau agak lambat kalau bicara. Saat itu Almarhum berkhotbah dan Romo Rowima berdoa syafaat. Penulis andal ini pun seorang yang multi talenta di bidang seni, melukis serta main musik gitar, dan biola. “Tapi aku tidak mengembangkan seni lukis dan musikku karena aku mau fokus pada menulis. Aku ingin menjadi penulis yang hebat. ” Ia pernah bilang. Ia kerap mengalahkkan lawannya dalam permainan catur. Dia pun kuka kebersihan dan kerapihan.

Banyak yang masih mau dikerjakannya, namun Bapa di Surga menyatakan ia sudah cukup pelayanan serta perjalanannya di dunia fana ini. Banyak yang kehilangan memang, tapi Romo Marlon kini sudah berada dalam Firdaus penuh senyum dan pujian tanpa sakit penyakit, air mata dan kelelahan lagi. Terlintas di benakku, ia kini sedang menantikan wisuda terindah sebagai gembala yang baik di hadapan Sang Gembala Agung dalam Kerajaan Allah. Selamat jalan ke keabadian yang lebih nyata muka dengan muka, sobat dan saudara terkasih kami, Pastor  Marlon.

BACA JUGA:  Berdoa Rosario Merah Putih Sepanjang Oktober bagi Bangsa dan Dunia Menghadapi Pandemi Korona
setarik nafas
hati hamba mendulang
flamboyan gugur
kisah sang pengelana
tiba di rumah kekal

(Tanka oleh Rowima)

Salatiga, Kamis 06/08/2020

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here