Harus Semakin Waspada, Sejumlah Rumah Ibadah,Termasuk Beberapa Gereja jadi Klaster Baru Covid-19

4667
Romo Benny Susetyo, Pdt. Albertus Patty dan Romo P.C. Siswantoko. Foto: Ist.

Jakarta, Tempusdei.id – Gereja perlu sangat berhati-hati dalam memutuskan untuk menyelenggarakan ibadah atau Misa offline atau peribadatan yang dihadiri umat secara langsung. Dan kalau sudah memutuskan untuk ibadah tatap muka, Gereja perlu betul-betul menataati protokol kesehatan dan perlu memastikan bahwa umat yang hadir di gereja sudah melalui protokol kesehatan yang benar dan ketat.

Hal tersebut dikatakan Romo Antonius Benny Susetyo menanggapi berita tentang sejumlah tempat ibadah termasuk beberapa gereja yang menjadi klaster penyebaran virus korona.

Hal senada dikatakan oleh Pdt. Albertus Patty. Menurut Pdt. Patty, gereja harus menahan diri untuk tidak melakukan aktifitas dulu. Aktifitas atau ibadah tidak bergantung pada selesainya PSBB atau pada dibukanya izin pemerintah, tetapi bergantung pada kurva yang ada. “Bila kurva penyebaran masih tinggi, lebih baik ibadah di rumah. Keselamatan umat lebih penting,” tegasnya.

Dalam diskusi  yang disiarkan secara langsung oleh BNPB melalui Youtube pada 29/7/2020, Dewi Nur Aisyah  dari Tim pakar Satgas COVID-19,  mengungkapkan adanya klaster baru penyebaran virus korona (COVID-19) di DKI Jakarta, yaitu klaster rumah ibadah. “Tadi ada kita menemukan ternyata di DKI Jakarta ada 9 klaster dengan total 114 kasus,” ujar Dewi

Dari data yang ditampilkan Dewi, terlihat klaster rumah ibadah di antaranya ada di gereja, masjid, asrama pendeta, pesantren, dan juga di acara tahlilan. Gereja ada 3 klaster dengan 29 kasus, masjid 3 klaster dengan 11 kasus, lalu asrama pendeta 1 klaster dengan 41 kasus, pesantren 1 klaster dengan 4 kasus, serta tahlilan 1 klaster dengan 29 kasus.

Gereja Katolik Sangat Berhati-hati

Kardinal Ignatius Suharyo. Foto: Humas KAJ

Ketika Pemerintah DKI Jakarta mengizinkan untuk melakukan peribadatan di gereja, Keuskupan Agung Jakarta tidak segera mengadakan Misa di gereja-gereja. “Kehati-hatian yang dilakukan KWI maupun Keuskupan, tidak buru-buru mengajak umat beribadah di gereja, karena kami tidak ingin gereja menjadi klaster baru penyebaran Covid-19, akibat ketidakhati-hatian,” tegas Kardinal Suharyo menanggapi izin pada awal minggu kedua Juni lalu.

Sampai saat ini belum semua gereja Katolik di Keuskupan Agung Jakarta melakukan Misa tatap muka. Baru beberapa yang diizinkan dengan protokol yang sangat ketat. Protokol yang tidak boleh dilanggar itu antara lain: yang boleh menghadiri Misa adalah mereka yang berusia 18-59 tahun dan dalam keadaan sehat. Yang boleh ikut serta dalam Misa adalah umat hanya dari paroki setempat berdasarkan data di paroki dan terlebih dahulu harus mendaftarkan diri untuk hadir dalam Misa tatap muka. Dari seluruh kapasitas gereja hanya boleh terisi ¼ agar umat bisa menjaga jarak. Setiap umat yang datang ke gereja akan diperiksa suku tubuhnya di gerbang pekarangan gereja lalu diarahkan untuk mencuci tangan pada tempat yang disiapkan dengan pengawasan petugas. Umat juga diwajibkan membawa handsanitizer untuk membersihkan tangan saat akan menyambut komuni walaupun saat masuk pintu gereja sudah membasuh tangan dengan handsanitizer. Para petugas liturgy termasuk para imam harus menjalani pemeriksaan dan protokol yang sama.

Berita tentang adanya sejumlah rumah ibadah termasuk beberapa gereja yang menjadi klaster baru, Romo P.C. Siswantoko Pr, Sekretaris Eksekutif Komisi Kerasulan Awam KWI mengatakan, ini merupakan peringatan bagi Gereja Katolik agar lebih berhati-hati dan benar-benar menaati protokol kesehatan saat melakukan misa tatap muka. “Dengan begitu, diharapkan tidak ada Gereja Katolik yang jadi klaster,” ujar imam murah senyum ini tenang.

Dia juga mengimbau gereja atau paroki yang belum melakukan Misa tatap muka, agar tidak tergesa-gesa. “Selama 4 bulan lebih ini, toh kita juga mulai terbiasa mengikuti Misa melalui live streaming. Bahwa ada kerinduan untuk tatap muka dan menyambut komuni secara langsung, itu kerinduan semua orang. Jangan paksakan diri dalam keadaan rawan ini. Jika abai, bisa jadi bencana,” tegasnya.

Dan menurutnya, kepatuhan mengikuti protokol kesehatan dan sikap tidak buru-buru melakukan Misa tatap muka, merupakan komitmen Gereja Katolik dalam membantu Pemerintah mengatasi Covid-19. (tD/EDL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here