Indonesia dalam Balutan Mukjizat demi Mukjizat

166
Prof. Dr. Azyumardi Azra. Foto: Dok. Media Indonesia.
Buku Indonesia Bertahan. Foto: EDL

Judul Buku: Indonesia Bertahan; Dari Mendirikan Negara  Hingga Merayaka n Demokrasi, Penulis: Azyumardi Azra, CBE, Editor: Idris Thaha, Penerbit: Penerbit Buku Kompas (PBK) 2020, Tebal Buku: X + 294 halaman

Membaca judul buku ini, sebuah pertanyaan langsung mengemuka: mengapa judul ini yang penulis pilih? Dan bisa jadi penulis langsung mengatakan, “Berarti judul saya berhasil karena segera melahirkan pertanyaan baru”. Dan sejatinya, sebuah judul mesti melahirkan pertanyaan sebagai pintu masuk ke dalam buku.

Namun setelah membaca pengantar penulis di halaman IX berjudul Indonesia itu Mukjizat, lalu judul yang sama muncul lagi pada halaman 10, muncul sebuah pernyataan “seharusnya Indonesia itu Mukjizat yang tepat menjadi judul ini”. Penulis sendiri menguatkan pernyataan tersebut dengan berbagai fakta bahwa Indonesia memang adalah mukjizat atau mengalami mukjizat demi mukjizat.  Seperti dikutip penulis pada hal 11, JS Furnivall dalam karya klasiknya Netherlands East Indies: A Plural Economy (1939) sudah mengajukan skenario kiamat (“doomed scenario”) bagi Hindia Belanda (Indonesia). Argumentasi utamanya, jika Belanda tidak dapat kembali berkuasa di Hindia Belanda, negara ini bakal terpecah karena pluralitasnya yang luar biasa, tidak ada satu faktor pun yang dapat mempersatukan.

Mengapa Indonesia adalah mukjizat? Sejarah mencatat hal ini dengan berbagai bukti.  Sebutlah tiga momentum historis yang amat menentukan, yakni Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 1908), Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) dan Hari Kemerdekaan (17 Agustus 1945). Dan ketiga peristiwa amat bersejarah tersebut melahirkan tokoh masing-masing sebagai penanda mukjizat itu. Sebutlah sosok Sutomo, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara dan Douwes Dekker. Lalu tokoh Sumpah Pemuda  Moehammad Yamin, Soegondo, Mr. Sunario. Dan pada Hari Proklamasi ada Soekarno dan Hatta sebagai tokoh sentral.

Pertanyaan lanjutan muncul, mengapa tokoh-tokoh tersebut dilekati predikat sebagai “penanda mukjizat”? Ya, karena mereka muncul dalam interval sejarah yang amat tidak mudah yang mestinya menggoda mereka untuk mencari selamat sendiri-sendiri. Tapi energi keindonesiaan dan rasa cinta yang tak terdustai serta visi besar akan Indonesia membuat mereka menaklukkan kepelbagaian yang ada dan menjinakkan egoisme mereka sebagai orang Jawa, Padang, Sulawesi, Batak dan sebagainya. Mereka pun tidak melihat perbedaan agama, dan tentu saja pandangan teologi sebagai penghalang kebersatuan mereka. Persis hal ini yang amat bermasalah saat ini di mana orang mudah memusuhi bahkan hendak saling meniadakan karena perbedaan pandangan, aliran, agama, dan lain-lain. Ini kemunduran yang teramat sangat!

Setelah itu, berbagai prahara besar atau kecil menimpa Indonesia silih berganti, namun Indonesia tetap tegak berdiri. Sekali lagi, karena alasan ini, maka judul yang menggetarkan adalah Indonesia adalah Mukjizat, namun kebertahanan Indonesia dari berbagai gempuran bisa juga diartikulasikan dengan judul Indonesia Bertahan, hanya memang terasa kurang “berenergi”.

Materi Ujian Kelas Dewa

Bangsa ini telah bertahan dan teruji dengan materi ujian kelas dewa dan selalu lulus dan lolos. Belakangan, setelah bangsa ini lolos dari ujian Pilkada, Pileg dan Pilpres yang banyak mengeruhkan akal sehat dan nurani, kini muncul korona yang pada dasarnya menakutkan namun juga “dimainkan” dengan berbagai gaya: gaya politis, gaya ekonomi, gaya nyinyir dan sebagainya.

Hari ini pun, bangsa yang besar ini wajib mengibarkan bendera optimisme bahwa ia akan lolos juga dari pandemi ini, tentu saja dengan juga bekerjasama secara serius untuk mengatasinya. Inilah saatnya dengan cara sangat sederhana, setiap orang bisa mengambil bagian secara konkret menyelamatkan bangsa ini, yakni rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan mengenakan masker.

Sangat patut disyukuri bahwa di tengah masa pandemi adalah tumbuh mukjizat berwajah solidaritas di antara sesama anak bangsa. Di mana-mana orang tergerak untuk saling membantu, bahkan ada yang berkeliling ke jalan-jalan untuk membagikan nasi bungkus atas sembako dan lain-lain. Harian KOMPAS, 18 Mei 2020 menurunkan laporan yang menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kelima dunia dari 164 negara untuk modal sosial dan peringkat pertama untuk partisipasi sipil dan sosial dengan tingkat kesukarelawanan tertinggal dari negara manapun (Legatum Prosperity Index 2019). Ini sesuatu yang membanggakan tanpa mengurangi kenyataan bahwa di tengah-tengah kebanggaan seperti itu, tidak sedikit pula yang memprihatinkan, misalnya ada saja orang yang memanfaatkan situasi, kesempatan dan posisi untuk meraih keuntungan.

Buku ini terdiri atas enam bab, dan pada masing-masing bab tersua tulisan-tulisan pendek nan bernas dengan gaya penulisan yang memikat. Dengan membaca buku ini, akan terasa bahwa penyertaan Tuhan pada Indonesia sangat nyata melalui berbagai cara dan melalui aneka momentum dan banyak tokoh.

Dalam keyakinan atas perlindungan Tuhan yang akan selalu ada, kita sambut “bulan keramat” bernama Agustus, saat salah satu mukjizat terbesar terjadi atas bangsa ini pada 75 tahun lalu, yakni Proklamasi 17 Agustus 1945. Selamat membaca.

EMANUEL DAPA LOKA, wartawan Tempusdei.id dan penulis biografi.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here