Antologi Puisi “Kasut Lusuh” dan Transfigurasi Pengalaman

147
Antologi Puisi "Kasut Lusuh" karya Fritz Meko, SVD
Fritz Meko SVD

Kasut Lusuh, frasa yang mengantar pembaca pada permenungan tentang riwayat di balik kasut. Kasut lusuh hanya bisa kita pandangi sesudah sebuah jedah pada perjalanan. Jedah ini memungkinkan kita untuk memandanginya secara utuh dengan hati terbuka: ada bagian yang mungkin sudah sobek, ada sisi yang sudah menyatu dengan debu, ada kerikil yang bisa saja masih menempel pada cela-cela sepatu.

Fritz Meko SVD, Pastor Katolik yang menulis sajak-sajak dalam antologi Kasut Lusuh, menjelmakan rekaman pada kasutnya dalam wujud sajak. Setiap tempat yang pernah ia singgahi, di situ pula terlahir sajak-sajak. Tiap kelahiran sajak, ia beri nama, ia ajak berdialog dan ia ajui pertanyaan-pertanyaan. Tercatat 108 pertanyaan untuk 72 sajak yang terkumpul.

Untuk memudahkan pembaca menikmati sajak-sajak ini, Fritz membagi karyanya dalam dua kategori besar: 37 sajak pertama ia beri judul – menakar hidup dalam perstiwa, 35 sajak lainnya ia kategorikan ke dalam judul –  menatap hidup dari langit.

Untuk mulai merenung tentang hidup yang harus ditakar, buku Kasut Lusuh menempatkan sajak berjudul ‘berbaring senyap’ (hal. 46) sebagai sajak pertama yang berdiri gagah di pintu masuk. Sajak pembuka ini hadir dengan aroma pedesaan: ada gelombang cahaya, suara pacul petani, asap yang meneros bubungan rumah, gadis-gadis menumbuk padi pada lesung warisan, bocah-bocah riang bermain di tepi sungai, suara murai menjemput senja. Kontemplasi di tengah kondisi ini, bagi Fritz, orang bisa dengan mudah mengerti daya ilahi yang berbaring senyap, berkarya dalam hening. Kesadaran pertama inilah yang memberi roh pada langkah peziarah.

Daya ilahi yang berkarya dalam hening, kemudian ditampilkan lebih demonstratif pada sajak berjudul, ‘tambang di jantung rimba,’ sajak ini yang menjadi pembuka untuk tema puisi kedua – menatap hidup dari langit. (hal.104). Daya ilahi datang menabur kepastian, ayunan langkah –Nya melahirkan tafsiran, kata-kata –Nya mengagumkan sekaligus menggetarkan. Ia hadir persis di jantung rimba. Yang Ilahi, sekalipun tampak, ia tetap menjadi misteri.

Dua kategori tematik tadi, sama sekali tidak membedakan proses kelahiran sajak sebab kelahiran sajak adalah pengalaman unik, cara memandang pengalamanlah yang membedakannya. Sajak-sajak yang kemudian berbaris rapi di belakang dua sajak tadi, hadir dalam bentuk dialog batin yang mesra: antara penulis sajak dan siapa saja yang ia jumpai. “Akan kulukis wajahmu yang menawan di keping jiwaku/dan aku berdiri di depanmu tanpa kata/embusan nafasku menerpa wajahmu tanpa enggan/kutapaki hamparan cintamu di segala arah jalanku (hal.80). Ada pula yang hadir dalam bentuk yang deskriptif. ‘Darmono datang dari seberang/membawa kepala dan dadanya/di kepalanya ada rumus rahasia kehidupan/di dadanya ada timbangan menjalankan hidup’ (hal.54)

Pembaca yang teliti dengan mudah menyimpukan bahwa kumpulan sajak dalam Kasut Lusuh, dominan diwarnai oleh kerja indra penglihatan. Semua yang tampak pada mata, segera Fritz tulis. Kemampuan memandang dan menemukan sari-sari pengalaman memberi energi tersendiri atas baris-baris sajak ini.

Kasut Lusuh membuat apa yang tampaknya biasa-biasa saja, menjadi lebih istimewa. Ia meletakkan pengalaman pada tempat yang tepat – di situlah terjadi proses transfigurasi atas pengalaman. Orang kemudian memandang pengalaman yang sama dari sisi yang berbeda. Untuk itu, buku Kasut Lusuh tidak hanya dibaca untuk dinikmati. Kasut Lusuh juga hadir sebagai contoh bagi siapa saja yang hendak membekukan pengalaman dalam tulisan.

Mereka yang suka melakukan perjalanan: entah fisik, perjalanan virtual, ataupun perjalanan batin; sajak-sajak dalam Kasut Lusuh layak menjadi referensi bacaan. Boleh jadi selama ini, setiap pengalaman Anda rekam dalam benak atau dalam bentuk  potret,  kini saatnya Anda menjelmakannya dalam bentuk yang lain, entah itu puisi atau prosa. Membaca Kasut Lusuh, kita merenung tiap pengalaman perjumpaan.   (Bill Halan)

KETERANGAN BUKU: Judul Buku: Kasut Lusuh, Penulis:  Fritz Meko, SVD, Penerbit: Pohon Cahaya, Tahun Terbit: 2020, Tebal Buku: 156 halaman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here