Jika Ingin Hidup, Milikilah Visi Tentang Masa Depan

139
Buku yang mengajak bersikap optimistis.
Agustinus Tetiro, penulis buku.

Kalimat pada judul tulisan ini bukanlah rumusan kosong. Atau bukan sekadar ungkapan motivasional hampa yang membuat orang terbius. Judul yang bersifat ajakan tersebut secara memukau telah dibuktikan sendiri oleh Victor Emil Prankl, tokoh utama dalam buku ini.

Betapa tidak dikatakan “memukau”? Dalam masa hidupnya, Frankl pernah mengalami tiga kamp konsentrasi Nazi (Dachau, Buchenwald dan Auchwitz) yang terkenal kejam itu. Siapa pun tahu, bahwa penderitaan di kamp konsentrasi bersifat amat sangat. Yang ada di sana hanyalah penganiaya, penganiayaan dan yang teraniaya. Dengan tekanan hidup dan penderitaan lahir batin saja, jika Frankl tidak memiliki imajinasi tentang masa depan, maka habislah dia. Bisa saja dia tidak langsung dihabisi oleh penguasa Nazi kala itu, tapi situasi atau suasana batin yang selalu menyergap bisa mengeringkan tulangnya. Dia memang menderita, namun penderitaan itu memicunya melihat harapan.

Menurut Frankl, orang-orang yang sangat menderita dalam kamp-kamp konsentrasi dapat bertahan hidup karena mereka memiliki visi tentang masa depan. Frankl dengan tegas mengatakan bahwa makna kehidupan hanya dapat ditemukan di dalam penderitaan, tentu saja bukan asal penderitaan.

Karena itu, Frankl mengatakan, penderitaan tidak dapat menghapus kehendak manusia untuk menjadi pribadi yang bermakna. Penderitaan justru membuat manusia semakin kreatif menunjukkan makna hidupnya sejauh manusia itu tahu alasan hidupnya dan masih mempunyai harapan untuk bertahan (halaman 14-15).

Tentu saja yang dimaksud Frankl, seseorang yang bisa memberi makna pada penderitaan adalah manusia yang membiarkan diri ditarik oleh visi hidup dan menerbangkannya ke masa depan untuk mengalami sebuah situasi baru. Dan perangkat atau tools untuk berada dan hidup penuh harapan di masa depan adalah visi, daya kreasi, sikap inovatif yang dipicu oleh penderitaan itu.

Memetik Inspirasi dari Korona

Lantas, bagaimana relasi konsep Frankl tersebut dengan realitas hidup manusia yang hari ini sedang dalam kepungan virus korona? Jelas, Frankl menginspirasi manusia di “era korona” ini untuk tidak secara fatal memandang hidup akan segera tamat gara-gara korona. Dengan cara berpikir yang sama, Frnakl mendorong manusia untuk memacu daya kreasi, menstimulasi kemampuan dalam diri yang selama ini tertidur untuk bisa bertahan hidup. Siapa mengira bahwa manusia zaman ini dari semua generasi bisa akrab dengan yang namanya webinar antara lain melalui aplikasi zoom, atau dalam bidang kerohanian, bisa “mengakui” pelayanan Misa melalui livestreaming? Ini semua muncul karena manusia mengalami “tekanan penderitaan”. Ya, manusia menderita jika tidak berdiskusi, manusia menderita jika tidak mendengar khotbah dan sebagainya.

Makna hidup, menurut Frankl, dapat ditemukan dalam setiap situasi, termasuk dalam penderitaan dan kematian. Bagi Frankl, hidup adalah menderita, tetapi untuk menemukan arti hidup dalam penderitaan, seseorang mesti tetap bertahan hidup (halaman28). Tentu saja yang Frankl maksudkan bukan “bertahan bodoh”, tetapi bertahan sambil menggerakkan inner strength berupa daya kreasi dan daya juang berenergi positif yang bersemayam dalam diri setiap manusia, dan yang sewaktu-waktu bisa dipanggil. Menyerah, apatis dan sikap bersikap fatalistis akan dengan cepat menyudahi kehidupan manusia, lalu lenyap.

Sekali lagi, sikap positif dan keberanian memandang jauh ke depan adalah energi dahsyat yang bisa membawa manusia pada situasi hidup di masa depan. Contohnya, kerja keras para ahli vaksin yang hasilnya sudah mulai nampak, sungguh didorong oleh penderitaan yang melanda manusia sejagat. Dan dalam kerangka ini, penderitaan yang sedang mengimpit bahkan mengancam kehidupan bisa menjadi blessing indisguise bagi penyelamatan hidup manusia itu sendiri. Dan ini adalah salah satu contoh kekuatan visi seperti yang dikatakan Frankl.

Hal yang senada dengan “bersikap positif” adalah tidak boleh kehilangan harapan. Dalam perang pandemik, tulis Agustinus Tetiro yang adalah alumni STFK Ledalero, Flores dan STF Driyarkara Jakarta, di halaman 90,  hilangnya harapan akan lebih berbahaya daripada derita raga. Orang yang kehilangan harapan di masa pandemik bisa bersifat ceroboh, tidak peduli, bahkan bengis sehingga memperparah keadaan.

Mengambil keputusan membaca buku ini berarti membiarkan diri terbawa ke dalam sebuah meditasi yang mengantar pembaca ke sebuah pelataran penuh optimisme yang dengan tegas meyakinkan bahwa hidup dan masa depan manusia tetap berpengharapan, apa pun tantangannya, termasuk makhluk amat renik bernama virus korona itu. (EMANUEL DAPA LOKA)

JUDUL BUKU: Makna Kehidupan di Tengah Pandemi; Meditasi Bersama Viktor Emil Frankl  PENULIS: AgustinusTetiro PENERBIT: Penerbit Ikan Paus TEBAL BUKU: 103 halaman

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here