Wow! Di Lokasi Tambang Emas Liar di Papua, Mie Instan Dibarter Emas

454
Para penambang emas di sebuah lokasi.
dr. Aaron bersama seorang penderita kaki gajah.

Sejauh mata memandang, yang terlihat pada siang hari di lokasi “tambang emas liar” di Kawe, Papua adalah ribuan penambang emas yang bekerja tak kenal lelah. Sejak pagi mereka mendulang emas sampai pukul 15.00 WIT. Secara berkelompok mereka bekerja pada lokasi tambang atau mining. Di satu mining terdapat ratusan orang yang terbagi ke dalam puluhan grup. Mereka menambang menggunakan kuali atau alkon.

Setiap grup memiliki koordinator yang setiap minggu, wajib menyetor beberapa persen dari hasil emas yang didulangnya kepada Tuan Dusun. Tuan Dusun adalah para pemilik hak ulayat yang ada di wilayah itu.

Di lokasi tambang, harga emas Rp.500 ribu/ gram. Sedangkan di Jayapura Rp 1 juta/gram. Dari hasil kerja keras inilah para pekerja makan dan minum dan menghidupi keluarga.

Salah satu warung di lokasi tambang. Foto: dr. Aaron

Memang penghasilan mereka sanga menggiurkan. Namun harga berbagai kebutuhan pokok juga melangit biru. Yang unik, di lokasi ini para penambang membeli beras, minyak goreng, bahkan mie instan dengan emas. Semua kebutuhan itu dibarter dengan emas. 10 kg beras dibarter dengan 8 gram emas, mie instan 1 karton ditukar dengan 2 gram emas atau minyak goreng 5 liter ditukar dengan 4 gram emas. Paket data internet 600 MB untuk masa pakai tiga hari ditukar dengan 1 gram emas.

Dokter Aaron Rumainum, M.Kes bersama tim kesehatan menyaksikan dan mendapat banyak informasi seputar hidup dan perjuangan para penambang tersebut. Sejak 25-30 Juni 2020 dr. Aaron dan tim berada di lokasi. Kehadiran Aaron dan kawan-kawan di tempat ini untuk melakukan pengetesan Covid-19 kepada para buruh tersebut. Sangat beruntung dari hasil pengetesan tidak ada yang terjangkit Covid-19.

Menurut dr. Aaron, fisik dan daya imun para buruh sangat kuat. Kata Aaron, masalah Covid tak perlu dikuatirkan di daerah tambang. Yang rata-rata diderita para penambang adalah malaria dan kaki gajah. “Fisik mereka sangat kuat, lebih kuat dari tenaga kesehatan di rumah sakit, Puskemas atau Dinkes. Bahkan, lebih kuat dari prajurit. Mereka itu gila fisiknya, pikul alkon atau barang 40 kg naik akar-akar kayu, dan panjat tebing,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Dari Pemakaman Pastor Malgesini: Dia Memang Terbunuh, Namun Tidak Mati, Karena Cinta Tidak Pernah Mati

Sepekan berada di sana, Aaron menyaksikan geliat kehidupan yang bergairah. Pertumbuhan ekonomi berjalan baik. Lokasi tambang yang terbuka memberi akses masuk bisa melalui tiga pintu. Bisa dari Tanah Merah, Seradala, Yahukimo, dari Mabul dan Asmat.  Secara administrasi wilayah ini masuk dalam Kabupaten Pegunungan Bintang.

Setiap orang yang ingin bekerja di tambang,  harus melapor ke Tuan Dusun. Tuan Dusun ini memiliki otoritas untuk menentukan apakah seseorang bisa diterima atau tidak untuk bekerja di sana sebagai penambang emas dengan sejumlah aturan yang harus dipenuhi.

Setiap penambang yang melanggar aturan akan diusir keluar dari lokasi.  “Saya melihat ada azas keadilan dan ada dampak positifnya bahwa ekonomi di sana benar-benar hidup. Mau dia penjahat, pencuri, kalau  dia datang kerja di penambangan, dia bisa hidup. Semua orang di penambangan tiap hari harus kerja. Tidak kerja, tidak dapat emas,” jelas dr. Aaron.

Aturan lain yang ditetapkan Tuan Dusun, para penambang tidak boleh memasok minuman keras, air raksa, perempuan dan tidak boleh mercuri. Selain itu, tidak pada semua kali boleh dilakukan pendulangan. Ada kali yang menjadi tempat untuk mandi dan mencuci.

Masih menurut penjelasan dr. Aaron, pada malam hari lokasi tambang tampak terang laksana kota. Listrik dari mesin genset menyuplai penerangan ke semua kamp atau barak-barak bertenda biru.

Jika mereka mau pulang, mereka bisa naik helikopter yang datang menyuplai kebutuhan, tentu saja setelah berjalan kaki menuju Pisang-Pisang untuk selanjutnya dengan loang boat ke Tanah Merah lalu naik helicopter. “Kalau carter helikopter sekali terbang dari Tanah Merah ke Mining 33, biayanya Rp 48 juta. Kalau pendulang mau turun ke Tanah Merah dengan helikopter, bayar 3 gram emas per orang,” katanya.

BACA JUGA:  Sushi, Makanan Jepang yang Estetis dan Berkelas

Aaron menilai, sistem dan aturan penambangan yang di Kawe ini cukup baik untuk menghidupkan ekonomi masyarakat di wilayah itu. Sekitar ada 17 lokasi penambangan emas di Korowai. Lokasi itu tersebar di Pegunungan Bintang, Yahukimo, Asmat, Mappi, dan Boven Digoel. Adapun areal penambangan terbesar berada di Bravo Tujuh, Pisang-Pisang, dan Kawe. (EDL/Gusty Masan Raya)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here