Sularso Sopater, Pendeta Mantan Ketua PGI yang Cita-citanya Dibelokkan Tuhan itu Telah Berpulang

274
Pdt. Prof. Sularso Sopater, D. Th
Pdt. Prof. Sularso Sopater, D. Th

Setelah dirawat selama satu minggu, pada 26/6/20, Pdt. Em. Prof. Sularso Sopater meninggal dunia di RS PGI Cikini. Pdt. Larso meninggal pada usia 86 tahun.

Pak Larso, panggilan akrabnya, lahir di Yogyakarta, 9 Mei 1934. Meraih gelar Master Teologi di Grand Rapids Michigan USA tahun 1975, lalu mengajar dogmatika di STT Jakarta sejak tahun 1978. Gelar doktor teologi diperoleh dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.

Pelayanan Sularso Sopater diawali sebagai pendeta di Gereja Kristen Jawa, Ketua Sinode GKJ, dan terakhir sebagai Ketua Umum PGI selama 3 periode (1987-1989, 1989-1994, dan 1994-1999).

Sedangkan di pemerintahan, Sularso Sopater pernah menjabat sebagai Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dari era Soeharto hingga Megawati. Setelah itu DPA dihapus dalam UUD 1945 yang diamendemen. Dan, pada 13 Agustus 1999 menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden  BJ Habibie.

Dalam buku berjudul Jejak Langkah dan Makna Hidup Pendeta – Memoar Sularso Sopater: Kukuh Menempuh Jalan Ibu, dipaparkan, figur Sularso Sopater telah menorehkan tinta sejarahnya ketika ia mengikuti jejak mendiang ayahnya, Ponidi Sopater, menjadi pendeta di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gondokusuman, Yogyakarta. Dia sendiri mengakui proses menjadi pendeta bukan sebuah kebetulan, melainkan sebagai bagian dari sejarah yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

Takdir Sularso Sopater menjadi gembala, pelayan umat Kristiani, adalah ketentuan-Nya. Ibunya, R Ngt Soekinah sebagai perantara-Nya. Ibunyalah yang mengarahkan jalan hidup Sularso, putra bungsu dari tujuh bersaudara, agar melanjutkan kependetaan Ponidi. Lalu, sebagai anak yang berbakti kepada orangtua, Sularso mengesampingkan cita-citanya semula untuk menjadi insinyur pertanian. Ibarat Tuhan membelokkan cita-citanya.

BACA JUGA:  Untuk Dirjen Bimas Katolik, Perlu Beri Peluang bagi Orang Daerah

Sebenarnya keinginan menjadi insinyur pertanian juga terinspirasi dari bakat ibunya yang bertangan dingin berolah tanam. Namun, lantaran penyakit ginjal yang menyerang Sularso,  akibat sudah banyak kerja keras semasa remaja, ibunya melontarkan wasiat Ponidi agar salah seorang anaknya melanjutkan perjuangan sang ayah menjadi pendeta.

Rentang waktu antara Sularso dengan ayahnya, dalam pengabdian hidup menjadi pendeta, berlangsung dalam kurun tiga dasawarsa. Ponidi menjadi pendeta pribumi pertama di GKJ Gondokusuman yang ditahbiskan pada 1926 dan juga pendeta pribumi pertama di lingkungan Sinode GKJ. Berselang 34 tahun kemudian, Sularso ditahbiskan sebagai pendeta pada Maret 1960 di usia 26 tahun.

Sularso meneruskan kependetaan ayahnya dan menjadi saksi peringatan 100 tahun GKJ Gondokusuman pada November 2013. Sularso pun salah seorang pendeta yang ditulis profilnya di buku Menjadi Garam dan Terang Kehidupan (2013) karya Agoes Widhartono yang mencatat kesejarahan GKJ Gondokusuman Yogyakarta.

Tentang Sumbang Emas kepada Soeharto

Suatu hari Alex Japalatu mewawancarai Pak Larso. Alex bertanya,”Betul Bapak menyumbang emas untuk Pak Harto atas nama PGI seperti dipergunjingkan banyak  orang?”

Kata Alex, Pak Larso seperti tersengat. Ekspresinya berubah. Kali ini beliau mau bercerita! “Saya memang diomongkan sebagai memberi emas bukan kepada bayi Yesus tetapi kepada Herodes,” ujarnya. “Padahal waktu itu sebagai Ketua PGI saya mendampingi Dirjen Bimas Kristen dan anggota rombongan datang ke Cendana. Tugas saya mendoakan Pak Harto.”
Usai didoakan, kata Pdt. Larso, giliran Titus Kurniadi, seorang pengusaha Kristen yang menyorongkan sumbangan berupa emas dan uang. Celakanya, badan Titus tak tampak dalam kamera televisi. Hanya tangannya.
Dari potongan gambar tersebut segera tersiar kabar, atau orang mengambil kesimpulan bahwa Pak Larso atas nama PGI bersekutu dengan Soeharto, yang waktu itu sedang dimaki di mana-mana dan diteriaki pemeras rakyat.
Sularso didemo. Ia diminta turun. Ia dicap sebagai orang Majus yang tersesat. “Tetapi beruntung saya bisa jelaskan dengan detail semua peristiwa itu. Saya lega, meskipun masih banyak yang belum terima,” ujarnya.
Bulan April 2016, Pak Larso meluncurkan memoarnya Sularso Sopater, Kukuh di Jalan Ibu.
Salah satu bab di dalam buku ini berisi penjelasan Pak Larso tentang peristiwa “sumbang emas” tersebut. Sangat detail. Dalam bukutersebut tersua nama Pdt. Em. Weinata Sairin sebagai salah satu atau mungkin satu-satunya orang  membela dia. Ketika itu Pak Wein adalah Wasekum PGI. Ia tahu betul kiprah Pak Larso. “Pak Larso tidak bersalah,” seru Weinata.

Selamat jalan Pak Larso! Requiescat In Pace! (tD)

Facebook Comments

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here