
JAKARTA – Suasana penuh sukacita itu terasa dalam Misa Bersama Komunitas Lansia Dekanat Selatan yang diselenggarakan pada 23 Juli 2026 di Gereja St. Yohanes Penginjil, Paroki Blok B, Jakarta Selatan.
Di bawah kepemimpinan MM Liestiyowati, komunitas yang menghimpun enam paroki—Blok B, Blok Q, Jagakarsa, Pasar Minggu, Tebet, dan Cilandak—kembali berkumpul dalam semangat persaudaraan dan syukur.
Perayaan Ekaristi dipimpin secara konselebrasi oleh tiga imam, yakni Rm. Aloisius Pramudya Daniswara SJ dari Paroki Blok B, Rm. Petrus Bimo Handoko MSF dari Paroki Jagakarsa, dan Rm. Jozef Kurkowski SCJ dari Paroki Cilandak yang juga melayani sebagai Pastor Moderator Komunitas Lansia Dekanat Selatan.
Dalam homilinya, Rm. Pramudya mengawali permenungan dengan sebuah pertanyaan retoris yang menggugah, “Siapa bilang lansia tidak berguna?”
Pertanyaan sederhana itu seakan menepis anggapan bahwa usia lanjut identik dengan berakhirnya peran seseorang.
Sebaliknya, Romo Pram mengajak umat memandang lansia sebagai akar sebuah pohon. Akar memang tidak terlihat, tetapi darinyalah seluruh pohon memperoleh kekuatan untuk bertumbuh, berbunga, dan berbuah.
Perayaan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa martabat manusia tidak pernah berkurang karena usia.
Di mata Allah, setiap pribadi tetap berharga, dipanggil untuk berkarya sesuai dengan tahap kehidupannya.
Masa lansia bukanlah masa menunggu akhir perjalanan, melainkan masa menuai buah iman sekaligus terus menaburkan harapan bagi generasi berikutnya.
Misa bersama yang diselenggarakan setiap empat bulan sekali ini bukan sekadar ajang berkumpul.
Lebih dari itu, menjadi ruang bagi para lansia untuk saling menguatkan, merasakan kehadiran Gereja yang merangkul mereka, dan meneguhkan keyakinan bahwa mereka tetap memiliki tempat yang istimewa dalam perutusan Kristus.
Pertemuan berikutnya akan dilaksanakan pada November mendatang di Paroki Pasar Minggu. Hingga saat itu tiba, pesan yang dibawa pulang para peserta tetap bergema: usia boleh bertambah, tenaga boleh berkurang, tetapi kasih, doa, pengalaman, dan iman seorang lansia akan selalu menjadi akar yang menghidupi.
Sebab di hadapan Allah dan sesama, setiap lansia tetap berharga, tetap berguna, dan tetap dicintai. (Sonar Sihombing)

