Luar Biasa! Pada Mata Uang Amerika Serikat Ada Tanda Tangan “Anak Haram” Ini

1319
Azie dan Dollar AS yang ada tanda tangannya. Foto: ist
Azie Taylor Morton. Foto: ist

Nama Azie Taylor Morton adalah nama legendaris bagi Amerika dan kemanusiaan. Dia lahir dari seorang ibu miskin, amat miskin. Ibunya yang bisu dan tuli mengandung dirinya akibat pemerkosaan. Karena menanggung malu akibat kehamilan yang tragis itu, sang Ibu melahirkan Azie di kebun yang sepi tanpa bidan. Yang membantu proses kelahirannya hanya dibantu seorang ibu tua pemilik kebun. Pria yang memerkosa ibunya tidak pernah mengaku, dan karenanya, seumur hidupnya, Azie tidak pernah tahu siapa ayahnya.

Karena sangat miskin, dalam umur yang masih sangat belia, Azie terpaksa bekerja sebagai buruh kasar di perkebunan kapas, sekadar untuk mendapatkan biaya makan bagi dirinya dan sang ibu yang terserang stroke.

Menghadapi situasi berat ini, Azie merasa kecewa kepada TUHAN. Dia merasa Tuhan dan semesta tidak adil padanya. Di masa kecilnya itu dia menyaksikan anak-anak seusianya yang dengan enteng menikmati hidup layak, sementara dirinya harus bergumul dengan kemiskinan dan derita lahir  – batin.

Berkali-kali dia menyesali keadaan. Kata-kata penyesalan secara verbal meluncur dari mulutnya, apalagi teman-teman seusianya sering mencemoohnya: “si anak haram”. Mereka pun tidak mau berteman dengannya. Azie pun makin sakit hati dan kecewa berat!

Titik Putar Azie

Pada lembaran uang ini ada tandatangannya. foto: ist.

Mungkin ini yang dinamakan “rahmat tak terduga”. Suatu hari, Azie bertemu dengan seseorang yang berkata kepadanya, “Azie.. Tahukah kamu bahwa hidup ini adalah anugerah, nak? Tuhan memberikan kamu kebebasan memilih. Mau tetap mengeluh seperti ini atau bangkit dari kemiskinan. Pilihan itu ada di tanganmu. Rencana Tuhan atasmu bukan rencana kecelakaan, melainkan hari depan yang penuh harapan. Selama bisa memilih, pilihlah yang terbaik.”

Nada-nada lirih penuh makna itu bagai setrum yang mengagetkan tubuh dan jiwanya. Kata-kata itu membangkitkan semangatnya untuk berdiri tegak. Tekad untuk beranjak dari situasi yang membelenggu itu ia katakan kepada ibunya yang tak berdaya. Namun dalam ketidakberdayaan, sang ibu berdoa bagi Azie agar tegar menghadapi tantangan kehidupan.

BACA JUGA:  Pengacara Ini Hendak Membawa Anak-anaknya Masuk Surga

Ia semakin giat bekerja. Tidak hanya itu, kerja dan kehidupannya ia jalani dengan gembira daan penuh syukur. Sejak itu, ia sepertinya terlepas dari beban teramat berat dan masuk dalam suasana baru yang melegahkan. “Berkat doa ibuku serta kerja keras yang ulet, akhirnya Tuhan memberkatiku dengan melimpah, aku meraih kesuksesan,” ungkap Azie pada suatu ketika.

Singkat cerita, setelah perjuangan yang luar biasa diiringi rasa syukur dan gembira, Azie meraih sukses dalam study dan berhasil meniti karier.

Senyap pada Suatu Siang

Wanita luar biasa dalam sejarah Amerika Serikat. Foto: ist

Suatu hari, sebuah kampus kecil di daerah California Selatan, AS, diumumkan akan kedatangan seorang wanita penting di negara adidaya tersebut. Aula kampus pun penuh sesak.

Setelah Gubernur selesai menyampaikan kata sambutan, seorang wanita berkulit hitam maju mendekati mikrofon, memandang khalayak pendengarnya dari sisi kiri, ke kanan, dan mulai berbicara.

Tidak banyak kata pengantar basa-basi yang dia utarakan. Dia justru membuka sambutannya dengan berkata, “Saya dilahirkan oleh seorang ibu yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat bicara, alias bisu dan tuli. Dan saya pun tidak tahu siapa ayah saya. Juga, apakah dia masih hidup atau sudah meninggal, saya tidak tahu. Ia memperkosa ibu saya, jadi saya adalah anak yang tidak direncanakan. Saya dan ibu miskin sekali, sehingga pekerjaan pertama yang saya geluti adalah buruh kasar di pertanian kapas. Saat itu saya membenci keadaan saya, dan saya bahkan pernah merasa kecewa terhadap Tuhan. Saat itu saya belum mengerti, untuk apa saya hadir di dunia ini. Saya merasa tidak berguna.”

Suasana aula serta-merta menjadi senyap. Semua tertegun. Kemudian suara wanita itu kembali terdengar jelas dan memecah keheningan ruangan yang begitu besar. “Suatu hari saya berjumpa dengan seseorang yang mengingatkan bahwa berhasil atau tidak adalah pilihan dan itu ada di tangan saya. Saya lalu yakin bahwa tidak ada sesuatu pun yang akan tetap sama jika kita tidak menghendaki begitu,” lanjutnya. Sambungnya, “Suara hati saya mengatakan, ‘Kamu dapat memilih: mau tetap seperti ini atau mau keluar dari perasaan tidak berguna ini. Pilihan ada di tanganmu!’ Jadi saya mulai bekerja dengan giat untuk mencari uang demi membiayai sekolah dan ibu saya. Saya terus bekerja keras dengan tekad baja dan akhirnya bisa meraih kesuksesan!’” katanya dengan suara bergetar.

BACA JUGA:  Pietro Sarubbi, Pemeran Barabas dalam The Passion of the Christ, Alami Pertobatan Mendalam

Di tengah kesenyapan yang kembali tercipta, ia melempar senyum dan berkata, “Nama saya Azie Taylor Morton. Saya sekarang berdiri di sini sebagai Menteri Keuangan Amerika Serikat.” Tepuk tangan lalu bergemuruh, rasa haru mengobok hati para mahasiswa.

Dia lalu melanjutkan kata-katanya, “Kita tidak ditadirkan Allah menjadi miskin dan menderita. Tuhan justru mau kita menikmati setiap berkat-Nya. Namun begitu, ada hal yang harus kita ambil sebagai bagian kita, yakni bekerja. Ketika kita berusaha, penyertaan Tuhan dan perkenanan-Nya turun ke atas kita dan oleh sebab itulah kita akhirnya menerima yang dijanjikan-Nya bagi hidup kita, yakni hidup dalam kesuksesan dan kelimpahan.”

Menteri Zaman Jimmy Carter

Azie Taylor Morton (1 Februari 1936 – 7 Desember 2003) menjabat sebagai Bendahara Amerika Serikat selama pemerintahan Jimmy Carter dari 12 September 1977 sampai 20 Januari 1981. Tanda tangannya dicetak pada mata uang AS selama masa jabatannya.

Sebelum menjadi bendahara, dia bertugas di Komite Presiden John F. Kennedy tentang Kesempatan Kerja yang Setara. Dari tahun 1972 hingga 1976, ia adalah asisten khusus untuk Robert Schwarz Strauss, ketua Komite Nasional Demokratik.

Azie juga adalah pengamat pemilihan untuk pemilihan presiden di Haiti, Senegal, dan Republik Dominika dan seorang anggota Delegasi Amerika ke Roma, Italia untuk Penobatan Paus Yohanes Paulus II, dan masih banyak lagi jabatan bergengsi lain yang ia sandang.

Azie Taylor menikah dengan James Homer Morton pada 29 Mei 1965 dan memiliki dua anak perempuan. (tD/EDL/DBS)

Facebook Comments

1 KOMENTAR

  1. Pengalaman dan motivasi yg luar biasa, menunjukkan rancangan Tuhan itu ya dan amin saat kita mgandalkannya dan menghidupinya dengan kerja keras dalam ketekunan. Keadilan Tuhan justru ditunjukkan ditengah2 hidup yang seakan tidak adil dalam pandangan manusia. Semua tergantung pada diri kita masing2.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here