Agustinus Bora Dairo, Sekolah Sambil jadi Pengaspal Jalan dan Penggali WC, Yakin Akan Sukses

947
Agus Bora Dairo, optimistis di tengah kesulitan.
Agus Bedha, pekerja keras

Sinar matahari kota kecil Weetebula, Sumba Barat Daya, NTT tergolong panas. Kadang terasa seperti menikam ubun-ubun. Meski begitu remaja bernama Agustinus Bora Dairo atau Agus Bedha seperti tidak hirau. Ia rela terpanggang matahari demi masa depannya. Ya, setiap kali pulang sekolah, ia harus bekerja sangat keras dari pukul 15.00-17.00 WITA. Kadang ia ikut mengaspal jalan, memotong batu putih, menggali WC, membuat kandang babi untuk tetangga dan masih banyak lagi. Dan ketika anak-anak seusianya menikmati hari-hari libur, ia malah bekerja menanam palawija di kebun orang untuk mendapatkan uang.

Hari-hari berat itu ia jalani selama duduk di bangku SMA Santo Alfonsus, Weetebula (2012-2014). “Saya harus benar-benar bekerja keras. Tidak ada pilihan lain. Kalau malas, ya gagal total, dan saya pasti menyesal,” ujar Agus.

Dia tahu betul, kalau dia berdiam diri, ia akan segera berhenti sekolah dan cita-citanya untuk menjadi orang sukses akan kandas. Maklumlah dia anak petani kecil dari Desa Weekombaka, Wewewa Barat dan memiliki 6 saudara yang juga membutuhkan biaya hidup.  Dia lalu nekat meninggalkan desanya untuk “bertarung” di kota. Di kota dia langsung berhadapan dengan kewajiban membayar uang sekolah, kos, makan minum dan berbagai kebutuhan lain termasuk pakaian dan peralatan sekolah seadanya.

Dari kerja keras tersebut, selain ia bisa memenuhi kebutuhannya, ia juga bisa membawa beras atau kebutuhan lain ke kampung saat kangen dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Tahun 2014 ia menyelesaikan SMA.

Kesedihan Menyergap

Agus Bedha ketika sudah di Jakarta

Ketika tamat SMA, kesedihan mendalam serta-merta menyergap hatinya. Teman-temannya ramai-ramai menentukan kampus tempat kuliah, sedangkan Agus hanya menangis. “Kasihan sekali saya ini. Andai orang tua mampu, saya bisa kuliah juga,” ungkapnya dalam hati. Di pelupuk matanya, tampak jalan untuk kuliah sudah tertutup rapat.

Meski begitu, tekad Agus untuk mengubah nasib tidak juga padam. Walau tak memiliki siapa-siapa di Jakarta, ia memilih merantau ke Jakarta. Di Jakarta ia melakoni pekerjaan apa pun sambil menyisihkan uang sedikit demi sedikit dengan harapan suatu saat bisa kuliah. Dan benar! Dua tahun kemudian, ia bisa  kuliah di STMIK WIT Cirebon Jawa Barat. Kini ia memasuki semester terakhir. Nilai-nilai tergolong gemilang.

Sambil bekerja dan melakukan apa pun, Agus selalu menanamkan dalam dirinya bahwa orang sabar dan rajin pasti sukses,  dan kesuksesan bisa berawal dari penderitaan.

Kembali sebentar saat di bangku SMA. Melihat kerja spartan Agus, Naja Saverius, Kepala sekolah SMAK Santo Alfonsus Weetebula, memberinya apresiasi. Ia didapuk sebagai siswa teladan dalam tekad, kesabaran dan kerja keras. Sang Kepala Sekolah pernah menunjuk Agus di hadapan ratusan siswa dalam sebuah acara di lapangan sekolah sebagai contoh yang baik. Ibu kosnya, Margareta juga seringkali menyebut namanya di hadapan anak kos yang lain sebagai anak yang rajin dan pekerja keras.  “Sungguh! Pengalaman dan keadaan saya hari ini adalah hadiah terindah dari Tuhan karena Dia memberikan kesabaran dan semangat kerja keras,” ucap Agus penuh haru.

Agus benar-benar merasakan beratnya perjuangan. Uniknya, dia tidak mau mengeluh, bahkan menjalani keadaan dengan gembira sambil yakin bahwa ia akan menjadi orang sukses suatu saat. Baginya, kerja keras, doa dan kejujuran akan membuat orang berhasil.

Ia beruntung, biaya untuk mengurus berbagai surat penting, sedikit uang saku dan transportasi ke Jakarta ditanggung oleh suster RS Karitas  Weetebula yang mengirimnya ke Yayasan Mutiara Kasih di Jakarta. Di yayasan ini dia mengikuti pelatihan kesehatan selama 2 bulan lalu ditempatkan di Cirebon untuk merawat dan mendampingi pasien.

Suatu saat Agus meminta pengertian kepada majikannya agar diizinkan untuk kuliah sambil kerja. Karena melihat semangat dan tekadnya yang tinggi, ia pun diizinkan untuk kuliah sambil bekerja. Dan karena pasien yang dia rawat meninggal pada Maret 2020, istri almarhum yang adalah seorang notaris mengalihkan dia bekerja di kantornya. Maka jadilah dia sebagai staff kantor  Notaris PPAT  di Cirebon. (tD)

2 COMMENTS

  1. Desa Gollu kayanya blm dikunjungi IBU,,,, bnyk sekali sdra2 yg tdk dpt BANSOS tapi data2 mereka selalu diambil oleh pengurus Desa,,, saya berharap ibu juga bisa dtg. Langsung kalo msh ada wkt diSUMBA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here