Akankah Kita Makin Cerdas Emosi Setelah Pandemik?

125
Menghadapi New Norman dengan sikap baru.

Oleh Anthony Dio Martin

Elang dan new normalnya

Pernah dengar kisah tentang kehidupan burung elang yang luar biasa? Katanya, ada fase dalam hidup burung elang harus melewati rasa sakit yang luar biasa. Kenapa? Karena setelah masa pertumbuhan tertentu, pertumbuhan tubuhnya mulai menganggu. Paruhnya terlalu panjang. Dan cakarnya tumbuh panjang hingga bengkok, yang justru membuatnya sulit mencakar mangsa. Jika tidak dibereskan, maka si elang ini bisa mati kelaparan karena sulit menangkap dan memakan mangsanya, Maka, proses yang menyakitkan pun dimulai.

Konon, si elang akan terbang ke gunung berbatu yang tinggi. Di situlah, ia menggosokkan paruh maupun cakarnya hingga patah. Yang baru pun bertumbuh. Ini proses yang sangat menyakitkan. Tapi setelah proses ini, si elang bisa kembali bebas, melanjutkan hidupnya, dengan paruh dan cakar barunya yang memungkinkan ia melanjutkan kehidupan normalnya.

Kisah si elang memberikan gambaran bagi kita. Sebuah perubahan penting dalam hidup, akhirnya akan memberi pengaruh penting bagi kehidupan selanjutnya. Ada yang maknanya baik, ada pula yang justru bisa menciptakan kondisi yang buruk di masa berikutnya.

Sebenarnya menarik juga jika kita belajar dari suasana setelah depresi ekonomi dunia yang parah di tahun 1929 hingga 1939. Bukan hanya secara ekonomi. Dampak psikologisnya pun besar. Mereka yang hidup di masa itu mengakui, ada dampak yang buruk, tapi banyak pula yang sebenarnya bagus. Misalkan saja, depresi dunia itu membuat banyak keluarga berantakan, muncul angka bunuh diri yang tinggi serta banyaknya orang yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya.

Tetapi, depresi dunia ternyata membuat kaum hawa, jadi ikut bekerja yang sebelumnya tidak banyak dilibatkan. Juga dunia hiburan seperti Hollywood justru mengalami pertumbuhan yang pesat karena orang mulai menghargai work life balance. Begitu juga sistem ekonomi yang lebih memberikan jaminan, bertumbuh.

BACA JUGA:  Leading in Time of Crisis: Seni Memimpin di Saat-saat Krisis

Nah, sekarang kembali ke situasi kita. Akibat wabah yang pandemic ini, kita pun mengalami suasana emosi yang terombang ambing. Ibarat roller coster yang naik turun. Makanya, belakangan ini pun muncul istilah yang viral, kita semua berada di gelombang yang sama, tapi kita tidak berada di satu kapal. Ada yang kapalnya kecil, ada yang kapalnya besar. Ada yang secara individu kuat mengatasinya. Ada pula yang rapuh. Tapi, yang jelas dengan coronavyrus ini dampak emosional ke depannya akan membuat kita menjadi manusia dengan level psikologis yang mungkin berbeda.

Di antara perubahan new normal ini, pertama-tama, kita belajar menjadi lebih siap dengan perubahan yang mendadak. Kita belajar tidak kaku dan lebih siap dengan perubahan. Kita pun belajar lebih mandiri, sebab semua orang toh mengalami hal yang sama. Dan kita belajar untuk menjadi coach bagi diri kita. Di sisi lain, kita pun akan belajar lebih banyak bersyukur untuk hal-hal kecil yang selama ini banyak kita abaikan. Di sisi lain, kita pun jadi punya ambang batas baru menghadapi kesulitan dan masalah yang lebih besar.

Kita punya referensi bagaimana melewati suasana kebosanan dan stress karena harus bekerja di rumah, hidup dalam kekuatiran terhadap virus. Meskipun memang sisi buruknya, situasi pandemic ini mungkin membuat kita lebih paranoid, akan lebih mudah kuatir dan banyak berjaga-jaga. Tapi, apapun yang kita alami sekarang, kondisi new normal yang baru akan memberi kita daya tahan emosi yang lebih tinggai terhadap stress dan juga perubahan.

Bagaimana Melatih Kecerdasan EQ Setelah Pandemi Ini?

Percayakah? Yang jelas, jika kita perhatikan maka ada berbagai aspek positif dari sisi kecerdasan emosi (EQ) yang kita alami yang akan menjadi bagian dari EQ New Normal. Setelah ini selesai, ada beberapa pembelajaran yang akan kita peroleh.

BACA JUGA:  Milikilah Mentalitas Penemu, Jangan Hanya Bisa Melarang Ini dan Itu

Pertama, soal toleransi perubahan versus kekakuan. Bayangkan, siapa yang menyangka pandemi ini akan terjadi? Kalau ada yang mengatakan soal pandemic ini dan work from home di bulan Desember, kita mungkin akan tertawa. Sama sekali, kita nggak menyangka bahwa wabah akan memaksia kita tinggal di rumah, jadi terpaksa aktivitas di rumah. Di sinilah, jadi pembelajaran berharga buat kita. Kekakuan kita mencair.  Lama-lama, kejadian ini membuat kita lebih toleran dengan perubahan yang bisa terjadi! Apa pun dan bagaimana pun bisa terjadi. Jadi, kita menjadi lebih siap!

Kedua, soal resiliensi versus mengeluh. Pandemi ini membuat kegigihan kita bertambah, Kenapa? Karena kita dipaksa untuk bertahan dalam situasi yang tidak menentu, untuk waktu yang panjang. Kita pun belajar bahwa mengeluh, tidak ada gunanya. Kita terlatih untuk belajar gigih dan positif di tengah pandemi ini.

Ketiga, gratitude (rasa syukur) versus mengabaikan. Paling tidak, pandemi ini membuat kita belajar untuk bersyukur terhadap hal-hal. Semangat apresiasi terhadap hal kecil dan sepele jadi meningkat. Betul nggak? Mana pernah kita menghargai jalan-jalan keluar rumah sebagai sesuatu yang berharga? Mana pernah kita menghargai jabat tangan sebagai suatu privilege? Termasuk menghargai pertemuan dan kesempatan berjumpa? Di sinilah, kita belajar bersyukur!

Keempat, hope (harapan) versus putus asa. Kita pun jadi belajar untuk terus-menerus punya harapan meskipun berada di dalam ketidakpastian. Situasi ini membuat kita tetap berusaha melihat hal yang optimis dan positif, dalam situasi yang kritis. Sebuah otot yang berharga sedang dilatih di sini.

So, semoga setelah melewati masa pandemi ini, kita bukan saja lebih cerdas secara spiritual, tapi juga emosional, makin dikuatkan! Stay at home, stay productive.

Anthony Dio Martin: Writer, inspirator, speaker, entrepreneur (WISE). CEO Excellency dan penulis 18 buku best seller penerima Penghargaan MURI. Narasumber tetap acara “Smart Emotion” di radio smartfm. Executive coach, yang oleh media dijuluki “The Best EQ Trainer Indonesia”. IG@anthonydiomartin; youtube channel: Anthony Dio Martin Official

BACA JUGA:  Ketika BKH Sudah Lupa Jalan Pulang

 

Facebook Comments

1 KOMENTAR

  1. Saya suka membaca,dan Suka Dengan Inspirasi Anthony Dio Martin setelah membaca dan ada 3 kisah inspirasi
    Spirtualitas Kerja ini ,Bukan Untuk Di Umumkan ,Diteriakan Tetapi Sungguh di hidupi Dan Di Jadikan Sebagai Terang Yang Menyertai Setiap Langkah Pekerjaan Kita.Dan Kerja Kita Menjadi Berkat Bagi Diri Dan Bagi Orang Tks GBU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here