Stanislaus Riyanto, Analis Terorisme: Mengikhtiarkan Ilmu bagi Keselamatan Negara

259
Stanislaus Riyanto, analis terorisme
Stanislaus Riyanto, analis terorisme. Foto EDL

Hari ini orang mengenal Stanislaus Riyanto sebagai analis intelejen, khususnya dalam bidang pencegahan terorisme. Selain muncul di media mainstream, dia juga aktif membuat analisis-analisis yang secara sengaja ia sebar melalui Medsos seperti grup WA, wall FB dan lain-lain. “Ya, ini tanggungjawab intelektual dan moral saya sebagai orang yang belajar khusus tentang terorisme. Sedapat mungkin ilmu saya harus berguna. Karenanya, saya selalu bicara menggunakan data agar tidak menyesatkan,” ungkap mahasiswa doktoral UI bidang pencegahan terorisme ini.

Bagi pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah ini, memelajari terorisme itu penting karena hal ini telah menjadi musuh seluruh dunia. Apalagi aksi-aksi terror di Indonesia, sudah melibatkan anak-anak dan perempuan sebagai pelaku. Dia pun ingin Pemerintah memiliki strategi yang tepat dalam mencegah terror.

Dalam upaya pencegahan itu, Stanis berusaha mengamati bagaimana para pelaku terpapar, dari mana mereka terpapar pertama kali. “Ini kuncinya. Lalu kita mulai menganalisis, apa yang perlu dicegah,” jelasnya. Untuk itu dia berjuang bisa bertemu dengan para pelaku terror atau napi terorisme (Napiter) untuk mewawancarai atau mengajak berbicara dari hati ke hati. Dia bertemu beberapa napi yang masih ekstrim untuk mendapatkan penjelasan atau informasi langsung dari sumbernya.

Upaya Stanis ini menuntut ketekunan yang luar biasa. Diperlukan sikap asketis dan daya tahan yang luar biasa. Pertanyaannya, mengapa dia mau melakukan? “Ini bentuk bakti saya kepada negara. Sebagai warga negara harus punya sumbangsih kepada negara. Saya tidak mau cari uang dari sini. Nafkah saya tidak dari sini. Saya memberikan sumbangsih berupa penelitian-penelitian dan analisis buat negara. Bagi saya, bakti yang berkualitas adalah bakti yang berisiko tinggi,” ujarnya serius.

Legalitasnya sebagai mahasiswa peneliti, dan sekarang menjadi peneliti di S3, menjadi modal utama untuk bisa masuk ke mana-mana. Ada resistensi ketika ia masuk ke dalam kelompok yang ekstrim. Dia harus mampu meyakinkan mereka bahwa dirinya bukan ancaman bagi sang Napiter. Sang Napiter pun menjadi teman diskusi. “Saya ketemu beberapa mantan Napiter yang sangat ekstrim, sekarang malah menjadi sahabat saya. Uniknya, yang pertama kali mengucapkan selamat Natal kepada saya justru mantan Napiter itu,” ujarnya sambil tertawa kecil.

BACA JUGA:  Papua Sangat Berduka Atas Wafatnya Wakasad Letjen Herman Asaribab
Stanislaus Riyanto, mengabdikan ilmu untuk negara. Foto: detik.com

Dari pengamatan dan analisis Stanis, para teroris tidak menyerang agama lain secara langsung, tapi mereka memiliki ideologi kelompok yang mengondisikan mereka harus melakukan aksi-aksi terror. Tapi setelah melalui proses dan sadar, jelasnya, mereka mau menerima orang beragama lain dengan baik.

Dalam analisis-analisisnya, Stanis yakin dan berusaha meyakinkan siapa pun bahwa tidak ada agama yang mengajarkan terror. “Ini hal pertama dan utama yang harus diyakini. Memang ada kelompok tertentu yang menggunakan agama sebagai daya tarik dengan penggunaan ayat-ayat yang sepotong-sepotong. Di Irlandia juga ada yang Kristen dan Katolik. Saya punya keyakinan bahwa agama tidak mengajarkan terror. Semua agama mengajarkan cinta kasih,” ujar lulusan  S1 Ilmu Komputer, Universita Sanata Dharma, Yogyakarta ini.

Dia juga menolak teori yang mengatakan bahwa aksi-aksi terorisme atau radikalisme muncul karena faktor kemiskinan atau kesenjangan ekononomi. Dia lalu menunjuk sejumlah contoh pelaku terror yang sama sekali bukan orang miskin bahkan orang kaya dan berpendidikan tinggi. “Ini murni ideologi, ada keinginan yang hendak dicapai. Ada keyakinan pada sebuah kebenaran tertentu atau yang mereka sukai, maka jadilah mereka bergerak ekstrim. Katalisatornya internet dan sosial media,” tandasnya.

Mengutip Fathali Moghaddam dalam teorinya yang dikenal dengan Staircase to Terrorism, Stanis mengatakan bahwa proses radikalisasi hingga terjadinya aksi teror melalui enam tangga atau tahapan.

Pertama, individu mencari solusi tentang apa yang dirasakan sebagai perlakuan yang tidak adil. Kedua, individu membangun kesiapan fisik untuk memindahkan solusi atas persoalan tersebut dengan penyerangan yang dianggap sebagai musuh. Ketiga, individu mengidentifikasi diri dengan mengadopsi nilai-nilai moral dari kelompoknya.

Pada tangga keempat, setelah seseorang memasuki organisasi teroris, dan hanya ada kemungkinan kecil atau bahkan tidak ada kesempatan untuk keluar hidup-hidup. Tangga kelima seseorang menjadi siap dan termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan terorisme. Pada tangga terakhir adalah tangga di mana seseorang sudah berada pada puncak keyakinan untuk melakukan aksi teror.

BACA JUGA:  Andy F. Noya Persembahkan Penghargaan yang Diterimanya untuk Orang yang Punya Hati untuk Berbagi

Menurut Stanis, di era 4.0, saat peran teknologi terutama internet sangat dominan, dan informasi dapat diperoleh dengan cepat dan mudah, berpengaruh terhadap berkembangnya radikalisasi. Pada era sebelumnya radikalisasi dilakukan dengan tatap muka secara selektif, sembunyi-sembunyi, dan memerlukan waktu cukup lama, namun saat ini radikalisasi dapat dilakukan dengan sangat cepat, masif dan terbuka. Konten-konten dengan narasi radikal disebarkan melalui media sosial dan situs web sehingga mudah diakses oleh siapa saja.

Untuk mewadahi penelitian-penelitiannya di bidang terorisme, pria yang gemar naik gunung ini menginisiasi sebuah lembaga riset yaitu Pusat Studi Politik dan Kebijakan Strategis Indonesia (Polkasi). Ia akui, fokus lembaga ini terkait radikalisme dan terorisme. Salah satu tujuan lembaga ini adalah memberi pemahaman yang clear terhadap masyarakat terkait radikalisme terorisme, termasuk bagaimana radikalisme dan terorisme  bisa terjadi dan bagaimana pencegahannya.

Dari penelitian-penelitiannya, Stanis sering membuat tulisan tulisan atau analisis pendek yang tersebar di berbagai media. Tujuannya, agar bisa dibaca sebanyak mungkin orang. Dia paham betul bahwa sekarang kebanyakan pembaca enggan membaca tulisan-tulisan panjang. “Kalau saya buat tulisan-tulisan panjang, seperti jurnal, siapa juga yang baca, namun akan ada saatnya sebagai intelekual, saya buat tulisan panjang atau buku tentang ini semua,” jelasnya.

Terpengaruh Karl May

Stanislaus Riyanto, menyukai hal-hal yang bersifat detektif. Foto: EDL

Dilihat dari jurusannya di bangku kuliah S1, yakni Ilmu Komputer dengan keahliannya sekarang, tampaknya tidak ada hubungan langsung. Lantas bagaimana ia menekuni ilmu terorisme ini?

Setelah lulus S1, dia mengajar ilmu Komputer di SMA De Britto, Yogyakarta lalu bekerja di sebuah perusahaan di Kalimantan selama beberapa tahun. Karena sebuah alasan tertentu, dia pindah ke Jakarta. Dalam diskusi dengan teman-teman, dia sering memberi analisis yang jitu menyangkut peristiwa-peristiwa terror yang meledak di Tanah Air. “Saya suka yang sifatnya detektif, mungkin saya terpengaruh bacaan waktu kecil seperti buku Karl May “.

BACA JUGA:  Pengacara Stefanus Roy Rening Sembuh dari Covid-19: Ini Wujud Bahwa Iman Menyelamatkan

Teman-temannya mendorong dia untuk mengambil studi S2 bidang analisis terorisme. Akhirnya pada tahun 2014 dia mengambil studi S2 di Universitas Indonesia bidang pencegahan terorisme. Dalam waktu singkat ia menyelesaikan studinya dengan predikat kelulusan cum laude pada 2016. Saat ini, ia sedang menyusun disertasi juga di UI dengan jurusan yang sama. “Saya memang sangat tekun, sebab saya yakin, kalau saya biasa-biasa saja, siapa yang pakai atau dengarkan saya?  Saya harus punya keunggulan. Kalau tidak, ya nggak akan  laku. Bukti ketekunan, selama kuliah di UI saya nggak pernah bolos,” ujarnya lagi.

Merefleksikan keberadaannya hari ini sambil melihat riwayat sebelumnya, Stanis seringkali tersenyum sendiri. “Tuhan itu bercanda secara serius dengan saya. Hahaha,” ujarnya sambil tertawa kecil.

EMANUEL DAPA LOKA

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here