Ketika Korona Menjadi Panglima Revolusi Senyap

92
Ki Hajar Dewantara
Bersusah payah ke sekolah. Foto: tribune

Korona ibarat panglima revolusi senyap bernama “Revolusi Covid-19”. Sosoknya tidak tampak, tapi aksinya membuat hampir 8 miliar orang sejagad ini tunggang-langgang sekaligus tersandera. Revolusi tersebut telah berhasil merombak banyak hal yang sebelumnya nyaris dianggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Akibat aksi senyap korona, manusia pemilik “kebenaran mutlak” itu pasrah. Mau tetap bertahan dengan cara lama berarti mati. Contohnya terbentang di mana-mana. Hanya covid bisa memaksa manusia untuk berubah. Sekali lagi, tidak berubah, berarti mati. Ini ancamannya super serius.

Dunia pendidikan adalah salah satu medan yang tidak luput dari revolusi tersebut. Juga dunia kerja, ibadah, marketing, dll. Dunia lalu mengenal istilah belajar dari rumah, bekerja dari rumah, ibadah dari rumah, dll.

Dalam belajar dari rumah misalnya, siswa diwajibkan terhubung dengan guru dan teman-teman melalui teknologi, tentu saja dengan pengandaian teknologi dan SDM telah siap. Internet dan gadget atau peralatan lain menjadi faslitas utama.

Covid ini datang serta-merta. Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi, tapi dalam kesertamertaan ini manusia dipaksa untuk siap secepat-cepatnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Walau tidak siap seperti yang ideal, setidaknya untuk sebagian kalangan (yang belum siap dengan teknologi) muncul semangat untuk mengikuti perubahan. Lihatlah! Walau dengan amat terpaksa di tengah berbagai keterbatasan, banyak orang di daerah terpencil, karena anak mereka harus tetap belajar, mereka berjuang sedemikian rupa untuk menggunakan teknologi yang tentu saja menuntut biaya tersendiri.

Pendidikan Jarak Dekat

Donni Koesuma, di mana hartamu berada di situ hatimu

Di tengah maraknya  belajar dari rumah (jarak jauh), pengamat pendidikan A. Donni Koesuma memberikan warning penting. Pada hari Pendidikan Nasional (2/5/20) dia mengatakan,  pendidikan itu seharusnya jarak dekat, bukan jarak jauh seperti diributkan sekarang. Bila pendidikan itu belajar tentang kehidupan, maka ia harusnya dekat, sedekat jantung dengan hati, sebagai sumber kehidupan dan spiritualitas.

BACA JUGA:  Menunggu Pelayanan "Berkualitas Prima Plus" Kapolri Listyo Sigit Prabowo

Yang membuat pendidikan itu pendidikan lanjutnya, adalah kedekatan guru dan murid. Bukan alat, metode, atau cara mengajarnya. “Maka akan keliru bila di masa covid-19 ini kita sibuk dengan sarana, tapi lupa tujuan pendidikan, yaitu mendekatkan anak-anak dengan kehidupan apa pun caranya. Sebab dalam hati, di situlah inti kehidupan,” kata penulis buku Pendidik Karakter di Zaman Keblinger ini.

Dia pun melontarkan ungkapan “Di mana hatimu berada, di sanalah hartamu berada.” Maka, menurutnya, alih-alih sibuk dengan sarana, para guru semestinya belajar mengenali isi hatinya sebab di sanalah harta yang terbaik itu akan ia berikan pada murid.

Dalam bukunya tersebut ia menyebut satu prinsip pendidikan, yaitu nemo dan quod non habet yang berarti “tak seorangpun memberikan dari apa yang tidak dimilikinya”. Menurutnya, tugas utama guru bukan mengajar materi, tapi mengajarkan dirinya sendiri, hatinya, aspirasinya, nilai-nilai kehidupan yang diyakininya. “Maka di Hari Pendidikan Nasional 2020 ini, saya mengajak para guru untuk bertanya, apa harta dalam hatiku yang aku miliki untuk aku berikan pada para murid? Sebab di mana hatiku berada, di sana hartaku berada. Berikan harta terbaik buat bekal para murid,” ajaknya.

Bagaimana operasionalnya dalam pandemik ini? “Para gurulah yang paling tahu situasi yang ada sesuai konteks, kebutuhan murid dan sarana yang tersedia. Sejauh mungkin tidak kontak fisik, tapi kalau terpaksa bisa ketemu, terutama yang tidak ada listrik apalagi sinyal, penting ikuti protokol covid, pakai masker dan jaga jarak,” pungkas Donni. Singkatnya menurut Donni, sesuai dengan konteks yang ada berusahalah sedapat mungkin untuk “belajar dari dekat”.

Untuk saat ini, berbagai hal yang “terpaksa” atau serta-merta dimulai, memang tidak ideal. Tapi hal-hal yang bersifat terpaksa dan tidak ideal saat ini, ke depan akan menjadi habitus.

Tema Hari Pendidikan Nasional tahun ini adalah Belajar dari Covid-19, maka mestinya kita belajar baik-baik agar ketika tiba saatnya, kita semua naik kelas untuk menyambut masa depan dunia yang harus lebih baik.

BACA JUGA:  Saya Belum Gagal jika Saya Masih Berjuang

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

EMANUEL DAPA LOKA

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here