Yerusalem ! Yerusalem !

107
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Puisi Emanuel Dapa Loka

Aku tulis sajak ini di gerbangmu, Yerusalem

Dengan kakiku sendiri aku menjejak jalan dan lorong-lorongmu

Di depan tembok raksasamu yang sekemilau gading

takjubku bergelora, lalu menyeruak dan berpendar di antara sisa cahaya senja…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sekelebat malam rebah ke pangkuanmu

yang lalu bersiram di bawah runcing gerimis, yang disapu angin

lalu menyangatkan dingin pada kulit – menembus tulang – menggeretakkan gigi

Samar-samar kudengar nyanyian:

“Yerusalem….! Yerusalem! Lihatlah RajaMu”

 

Gempita pekik pun sabung-menyabung:

“Hosanna….! Hosanna…!

Hamparan palma dan baju juga jubah menutupi jalan

Agar kaki keledai tunggangan Tuhanku tidak terantuk pada batu

Hosanna! Hosanna!

Jalanan pun riuh dan penuh gempita tarian sukma

***

Melanjutkan cinta kepada manusia dan BapaNya

Dengan suara bariton Ia berseru

Inilah dagingKu

Inilah darahKu

Makanlah

Minumlah

***

Aku melangkah dan melangkah lagi

Lalu terdengar teriakan keji “Salibkan Dia!! Salibkan Dia”

Tuhanku menunduk

Nestapa menyusup – menyelinap memenuhi hati dan jiwaNya,

memandang orang-orang yang hendak merajamNya

Oh!! Merekalah yang makan dan minum dari tanganNya,

yang tahir lalu bisa melihat, berjalan, berbicara bahkan bangkit oleh karena kuasa BapaNya

 

Yerusalem….!

Dengan lutut gemetar aku terus menjejaki punggungmu

Tatkala menikas ruang gelap nan sempit tempat Tuhanku diikat bagai domba yang hendak dibawa ke pembantaian – tak ubahnya penjahat kelas super, Ia hendak dihabisi dengan keji, hatiku bagai tertikam belati teramat tajam dan menembus kesadaran:

Ah…! Aku pun serupa kau, Yerusalem!

Menyesalkah Ia telah mencintai aku dan kau, Yerusalem serta kaum yang mendera – menghabisiNya?

Menguapkah CintaNya yang teramat mulia bagi kau dan aku?

Tidak…! Tidak….!

HatiNya adalah hati Allah Pencinta

BACA JUGA:  Puisi Agust G. Thuru: Darah Merah Darah Putih

HatiNya melampauai luasnya Tiberias

Mengatasi bentangan padang gurun tak bertepi

dan batas-batas kaki cakrawala

Ia tetap melanjutkan perutusan sampai tarikan nafas terakhir        penuh cinta

Ya, Cinta yang dipancangNya bagi jiwa-jiwa yang papa

 

Emanuel Dapa Loka adalah wartawan dan penulis biografi yang menyukai dunia susastra, khususnya puisi. Dia selalu menyebut dirinya “penyair kambuhan”

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here