
JAKARTA — Sebuah foto tua masih menjadi bagian dari identitas Sido Muncul. Di dalamnya tampak seorang perempuan tua bersama seorang anak kecil. Perempuan itu Rakhmat Sulistio, atau Go Djing Nio. Anak kecil di sampingnya adalah cucunya, Irwan Hidayat. Kelak, foto itu menjadi inspirasi logo Sido Muncul.
Foto itu seperti menyimpan pesan sederhana: sebuah perusahaan besar bisa bermula dari hubungan yang sangat dekat—seorang nenek dan cucunya.
Tujuh puluh lima tahun kemudian, hubungan keluarga itu menjelma menjadi sejarah panjang salah satu perusahaan jamu Indonesia.
Pada November 2026, Sido Muncul genap 75 tahun sebagai perusahaan yang berdiri dengan nama Sido Muncul di Semarang. Namun, akar sejarahnya jauh lebih tua.
Dari Melkrey ke Roti Muncul
Sebelum dikenal sebagai peracik jamu, Rakhmat Sulistio bersama suaminya, Siem Thiam Hie, menjalankan usaha pemerahan susu bernama Melkrey di Ambarawa, Jawa Tengah.
Pada 1930, pasangan itu merintis Roti Muncul. Pada tahun yang sama, Rakhmat mulai meracik jamu masuk angin. Dari tangannya pula cikal bakal Tolak Angin bermula.
Pada 1935, pasangan tersebut membuka usaha jamu di Yogyakarta. Lima tahun kemudian, Tolak Angin dalam bentuk godokan mulai dipasarkan.
Saat itu jamu belum mengenal laboratorium modern. Pengetahuan tentang khasiat tanaman obat tumbuh dari pengalaman, resep keluarga, rempah-rempah, dan kepercayaan masyarakat.
Namun, dari dunia yang sederhana itulah sebuah industri kemudian lahir.
1951: Impian yang Terwujud
Situasi politik dan keamanan membuat keluarga tersebut berpindah dari Yogyakarta ke Semarang. Di kota inilah, pada 1951, berdiri usaha bernama Sido Muncul—sebuah nama yang berarti “Impian yang Terwujud.”
Menurut laporan tahunan Sido Muncul, industri rumahan itu pada awalnya hanya memiliki tiga pekerja. Produk utamanya jamu seduh Tujuh Angin, racikan Rakhmat yang kemudian dikemas dengan merek Tolak Angin.
Perusahaan itu masih kecil. Tetapi sejak awal tumbuh keyakinan bahwa jamu tradisional dapat menjadi usaha yang bertahan lama sekaligus bermanfaat bagi masyarakat.
Ada pula nilai yang sudah hidup sejak masa awal: berbagi. Sebuah penelitian sejarah tentang Sido Muncul mencatat, Rakhmat memandang pemberian makan siang kepada karyawan sebagai bagian dari semangat berbagi. Ia ingin Sido Muncul menjadi pabrik yang bermanfaat bagi masyarakat.
Artinya, berbagi bukan nilai yang muncul setelah perusahaan menjadi besar. Nilai itu sudah tumbuh sejak Sido Muncul masih berupa usaha kecil.
Dari Rakhmat kepada Desy dan Yahya
Sekitar 1970, Rakhmat yang semakin tua pensiun dari kegiatan pabrik. Tanggung jawab perusahaan diteruskan putrinya, Desy Sulistio, bersama suaminya, Yahya Hidayat.
Dari pasangan inilah lahir lima anak yang kemudian menjadi generasi ketiga Sido Muncul: Irwan Hidayat, Jonatha Sofjan Hidayat, Johan Hidayat, Sandra Hidayat, dan David Hidayat.
Dengan demikian, Rakhmat adalah nenek Irwan Hidayat dari pihak ibunya, Desy Sulistio.
Hubungan itu bukan sekadar silsilah. Irwan menghabiskan sebagian masa kecilnya bersama sang nenek di Semarang. Foto Irwan kecil bersama Rakhmat kemudian menjadi bagian penting dari identitas Sido Muncul.
Di situlah sejarah perusahaan dan sejarah pribadi Irwan bertemu.
Warisan yang Datang Bersama Utang
Irwan bergabung dengan perusahaan keluarganya pada 1969, awalnya di bagian pemasaran. Namun, pada awal 1970-an, Sido Muncul masih jauh dari gambaran perusahaan besar. Keterbatasan modal, peralatan, dan utang menjadi persoalan.
Ketika mulai memimpin pada 1972, Irwan menerima bukan warisan berupa kemewahan, melainkan pekerjaan rumah: bagaimana menyelamatkan perusahaan sekaligus membuat jamu tradisional mampu bertahan menghadapi perubahan zaman? Jawabannya adalah modernisasi.
Irwan melihat industri farmasi berkembang karena bertumpu pada ilmu pengetahuan, penelitian, standardisasi, dan teknologi. Jamu pun, menurutnya, tidak boleh tertinggal.
Pada 1997, Sido Muncul membangun pabrik modern seluas sekitar 30 hektare di Klepu, Bergas, Ungaran, lengkap dengan laboratorium terstandardisasi. Pada 11 November 2000, pabrik tersebut diresmikan dan Sido Muncul menerima sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
Jamu yang bermula dari racikan seorang nenek mulai masuk ke dunia laboratorium.
Namun, Irwan tidak ingin ilmu pengetahuan menggantikan tradisi. Ia ingin ilmu pengetahuan membuktikan dan memperkuat tradisi.
Mengajak Kampus Meneliti Jamu
Transformasi itu kemudian diperluas melalui kerja sama dengan perguruan tinggi.
Pada 2006, Sido Muncul bekerja sama dengan Universitas Sanata Dharma dalam penelitian toksisitas. Pada 2008, penelitian dilanjutkan bersama Universitas Diponegoro, antara lain untuk menguji aspek farmakologi Tolak Angin.
Kerja sama kemudian berkembang dengan sejumlah perguruan tinggi lain, termasuk Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Universitas Maranatha, dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Tujuannya bukan hanya mengembangkan produk, tetapi juga memperkenalkan jamu dan tanaman herbal Indonesia kepada dunia kedokteran.
Di sinilah karakter kepemimpinan Irwan terlihat: dari resep keluarga menuju penelitian, dari pengalaman turun-temurun menuju pembuktian ilmiah, dari dapur menuju laboratorium.

Dan atas perjuangan yang spartan, terutama bidang Manajemen Mutu (Branding), Universitas menganugerahkan Doktor Honoris Causa kepada Irwan Hidayat pada 13 Nobember 2024.
Berbagi sebagai Cara Bersyukur
Semakin panjang perjalanan Sido Muncul, semakin jelas pula benang merah yang telah hidup sejak zaman Rakhmat: berbagi.
Berbagi hadir dalam berbagai bentuk, antara lain operasi katarak, operasi bibir sumbing, bantuan bagi korban bencana, penanganan stunting, serta santunan bagi anak yatim dan kaum duafa.
Program operasi katarak telah menjadi salah satu kegiatan sosial terpanjang Sido Muncul sejak 2011, dilakukan bersama PERDAMI, rumah sakit, dan berbagai mitra. Pada 2024, perusahaan memberikan bantuan operasi bibir sumbing gratis bagi 60 pasien di Belu, Nusa Tenggara Timur.
Menjelang usia 75 tahun, pada Oktober 2026, semangat yang sama kembali diwujudkan melalui persiapan operasi katarak gratis bagi masyarakat Gorontalo.
Bagi Irwan, berbagi bukan sekadar program perusahaan. Ia memiliki dimensi pribadi.
Dalam sebuah wawancara pada 2026, Irwan mengisahkan pengalaman sakit yang pernah dialaminya sejak muda. Pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap keberhasilan.
Keberhasilan, menurut pengalaman batinnya, bukan hanya tentang kemampuan mengumpulkan sesuatu, tetapi juga kemampuan memberikan sesuatu.
Karena itu, ia merasakan kebahagiaan ketika perusahaan dapat membantu orang lain. Ada rasa lega ketika sesuatu yang dimiliki dapat berguna bagi sesama.
75 Tahun: Dari Nenek kepada Cucu
Maka ketika Sido Muncul memasuki usia 75 tahun pada November 2026, yang dirayakan bukan sekadar umur sebuah perusahaan.
Ada perjalanan tiga generasi di dalamnya. Rakhmat Sulistio memulai dari pengetahuan tentang jamu dan rempah-rempah. Desy Sulistio dan Yahya Hidayat meneruskan usaha keluarga. Lalu Irwan Hidayat bersama empat saudaranya membawa tongkat estafet itu menuju industri modern.
Dari generasi pertama lahir resep. Dari generasi kedua lahir ketekunan mempertahankan usaha. Dari generasi ketiga lahir keberanian melakukan modernisasi, penelitian, dan membangun kerja sama dengan perguruan tinggi.
Namun, satu hal tidak berubah: keinginan untuk bermanfaat. Itulah yang membuat perjalanan Sido Muncul tidak cukup diceritakan sebagai kisah bisnis.
Ia adalah kisah keluarga. Kisah tentang seorang perempuan yang meracik jamu, seorang cucu yang tumbuh dekat dengannya, dan sebuah perusahaan yang pernah menghadapi keterbatasan tetapi tidak menyerah.
Jamu tradisional masuk laboratorium. Perusahaan tumbuh menjadi industri modern. Dan keberhasilan itu berusaha dikembalikan kepada masyarakat.
Pada usia 75 tahun, Sido Muncul telah bergerak jauh dari usaha sederhana tempat jamu dahulu dibuat. Tetapi semangat dasarnya tetap sama: bagaimana membuat hidup orang lain menjadi sedikit lebih baik?
Barangkali itulah makna terdalam dari nama Sido Muncul—sebuah impian yang terwujud.
Namun, impian itu tidak berhenti pada keberhasilan perusahaan. Ia terus mencari bentuk dalam ilmu, kesehatan, keluarga, kerja, dan terutama dalam berbagi.
Sebab setelah 75 tahun, sebuah perusahaan bukan hanya dinilai dari apa yang berhasil dibangunnya, tetapi juga dari apa yang ditinggalkannya bagi manusia. (EDL/tD)

