
“Saya ini veteran kehumasan yang sesekali terpaksa turun gunung.”
Kalimat Yustinus Prastowo itu tersua di wall FB-nya, dan terbaca atau terdengar ringan. Namun, di baliknya terbentang perjalanan panjang seorang anak dusun Gunungkidul yang kemudian bersentuhan dengan dunia perpajakan, kebijakan publik, pemerintahan, media, akademik, dan Gereja Katolik.
Kini, setelah bertahun-tahun berada di ruang publik, Yustinus memilih bekerja lebih banyak dari belakang layar. Ia tidak lagi terlalu tertarik pada sorotan. Baginya, yang penting adalah pekerjaan selesai dan gagasan memberi manfaat. Pilihan itu terasa seperti kembali kepada akar hidupnya.
Yustinus mengaku sebagai anak dusun, lahir dan tumbuh di Gunungkidul, Yogyakarta, dari keluarga sederhana. Pendidikan dasar hingga menengah diselesaikannya di tanah kelahirannya sebelum melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Pascasarjana Ilmu Administrasi dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia, serta Magister Ilmu Filsafat STF Driyarkara.
Kesederhanaan keluarga tidak membuat cakrawalanya menjadi sempit. Sebaliknya, dari sanalah tumbuh ketekunan dan dorongan untuk terus belajar.
Perjalanan pendidikannya kemudian membawanya ke berbagai bidang. Ia pernah menjadi pegawai negeri sipil di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan pada 1997–2010, bekerja di sejumlah kantor konsultan, sebelum mendirikan Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) pada 2014.
Sebagai Direktur Eksekutif CITA, ia aktif dalam kajian dan advokasi kebijakan perpajakan. Ia juga pernah mengajar di PKN STAN, terlibat dalam penelitian Australia-Indonesia Partnership for Economic Governance (AIPEG), program GIZ, dan menjadi konsultan Asian Development Bank.
Pengalamannya di bidang fiskal dan perpajakan kemudian membawanya ke berbagai ruang kebijakan. Ia menjadi narasumber di Dewan Ketahanan Nasional, BIN, Komisi XI DPR RI, DPD RI, KEIN, Bappenas, Dewan Pertimbangan Presiden, KPK, Bank Indonesia, dan sejumlah lembaga lainnya.
Ia juga pernah menjadi ahli perpajakan di Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, dan Ombudsman RI, serta terlibat dalam Tim Reformasi Perpajakan dan Tim Penguatan Reformasi Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Namun, karier profesional itu hanyalah satu sisi dari perjalanan Yustinus.
Gereja sebagai ruang pengabdian

Di lingkungan Gereja Katolik, Yustinus menemukan ruang lain untuk mengembangkan gagasan dan pengabdian.
Ia terlibat mendirikan Forum Gaudium et Spes (ForGes), komunitas yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. Melalui ForGes, ia berupaya mempertemukan iman dengan persoalan konkret kehidupan masyarakat.
Bagi Yustinus, iman tidak cukup berhenti di ruang ibadah. Gereja perlu hadir dalam kehidupan nyata, membaca persoalan manusia, dan mengambil bagian dalam tanggung jawab sosial.
Perhatian itu juga tampak dari ketertarikannya pada pemikiran Konsili Vatikan II, yang hingga kini terus menjadi salah satu bidang yang ia amati.
Yustinus pernah menjadi Ketua Alumni STF Driyarkara. Ia juga menjadi Anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), pernah menjadi anggota tim panitia seleksi Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama, serta menjadi narasumber berbagai pelatihan, workshop, dan seminar yang diselenggarakan KWI, sejumlah keuskupan, ISKA, Pemuda Katolik, PMKRI, dan komunitas Katolik lainnya.
Keterlibatan tersebut menunjukkan satu benang merah dalam perjalanan Yustinus: keinginan mempertemukan iman, intelektualitas, dan kehidupan sosial.
Menulis untuk merawat gagasan
Jalan lain yang dipilihnya adalah menulis. Yustinus dikenal sebagai penulis produktif. Sedikitnya 13 buku telah dihasilkannya.
Menulis baginya bukan sekadar menuangkan pikiran. Ia menjadi cara membaca kenyataan, menguji gagasan, merawat ingatan, sekaligus membuka ruang percakapan.
Mungkin karena itu, meski lama berkutat dengan angka, regulasi, dan kebijakan, Yustinus tidak pernah sepenuhnya meninggalkan dunia pemikiran. Ia mengajar. Ia meneliti. Ia menulis.
Dan melalui tulisan, ia membawa pengalaman dari berbagai dunia itu ke ruang refleksi yang lebih luas.
Dari sorotan menuju kesunyian
Pengalaman Yustinus di ruang publik membuatnya akrab dengan media. Ia pernah menjadi narasumber televisi dan radio, pembicara seminar, menulis kolom, dan dikutip berbagai media.
Ia bahkan pernah menjalani lima wawancara langsung di televisi dalam satu hari.
Pada 2020–2024, ia menjadi Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis, mendampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Lima tahun di Kementerian Keuangan memberinya pengalaman bekerja di institusi negara yang besar dan kompleks. Ia menyebut pengalaman itu sebagai sesuatu yang sangat berarti, bahkan dapat disebut sebagai puncak karier di bidang yang sebenarnya tidak pernah ia kejar sebagai ambisi pribadi.
Kini ia menjadi Wakil Koordinator Staf Khusus Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Namun, ia memilih tidak larut dalam publisitas.
Ketika membantu Pramono Anung, misalnya, sejak awal Yustinus ingin mengambil posisi di belakang layar.
“Ketika membantu Pak Pram, sejak awal saya ingin menjadi orang di belakang, bekerja di dapur,” ujarnya.
Ia menikmati pekerjaan yang lebih banyak berisi rapat teknis, dokumen, literatur, dan berkas. Undangan wawancara televisi, podcast, maupun permintaan menjadi narasumber pun tidak selalu ia terima.
Baginya, ini bukan soal menjauh dari publik. Ia hanya ingin memastikan bahwa kehadirannya tidak bergeser dari tujuan semula. “Sebelum yang menyilaukan itu melenakan, saya segera menarik diri,” katanya.
Ia tidak ingin jabatan berubah menjadi privilese atau kehadirannya dipersepsikan sebagai upaya mencari keuntungan pribadi. “Jujur saya tak berbakat jadi pejabat atau politisi. Maka saya selalu mengantisipasi bahwa jabatan itu mandat yang mesti memenangkan rakyat,” ujar Yustinus.
Pandangan itu menjelaskan mengapa ia merasa lebih nyaman bekerja tanpa banyak sorotan.
Baginya, pekerjaan yang penting tidak selalu membutuhkan panggung. “Tanpa pernah disadari, yang gemerlap itu terjadi berkat panggung belakang yang sigap,” tuturnya.
Dari pengalaman bekerja bersama Pramono Anung, ia pun menemukan pelajaran yang ia anggap penting: bekerja sungguh-sungguh ketika berada di belakang, dan tetap rendah hati ketika berada di depan.
“Di sini saya sungguh belajar dari Pak Pramono Anung: sosok sepenuh hati di belakang panggung dan rendah hati di panggung depan,” katanya.
Pada akhirnya, perjalanan Yustinus Prastowo seperti membentuk satu garis yang sederhana.
Dari anak dusun Gunungkidul, ia tumbuh melalui pendidikan dan kerja keras. Ia memasuki dunia perpajakan dan kebijakan publik, terlibat dalam kehidupan pemerintahan, aktif menulis, dan tetap merawat keterlibatannya dalam Gereja Katolik.
Di tengah perjalanan itu, ia tidak kehilangan akar. Kesederhanaan menjadi nilai yang membentuknya. Pendidikan memperluas cakrawalanya. Gereja memberinya ruang untuk menghubungkan iman dengan persoalan manusia. Dunia publik memberinya pengalaman tentang tanggung jawab.
Dan kini, setelah mengenal berbagai bentuk sorotan, ia memilih kesunyian yang lebih produktif. Bukan untuk menghilang, melainkan untuk tetap bekerja, tetap berpikir, dan tetap berguna—tanpa harus selalu terlihat. (EDL/tD/dbs)

