
Ketika tuduhan korupsi datang, dan dirinya harus berhadapan dengan proses hukum, Tom Lembong mengaku berada dalam situasi yang tidak mudah dipahami. Persoalannya, ia merasa telah menjalankan tugas sesuai aturan yang berlaku.
Di tengah ketidakpastian itu, ada orang-orang yang tidak pergi. Istri, anak-anak, kolega, dan para sahabat menjadi sumber kekuatan bagi Lembong. Dukungan mereka, menurut dia, membuat cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang abstrak. Cinta hadir dalam bentuk yang sederhana sekaligus nyata: menemani ketika keadaan sulit.
“Saya sangat beruntung dapat support dari istri, anak-anak serta para kolega dan sahabat,” kata Lembong.
Ia mengisahkan pengalaman tersebut dalam sesi sharing iman di hadapan sekitar 300-an orang yang berkumpul di Gereja St. Perawan Maria Ratu, Paroki Blok Q, Jakarta, Kamis malam, 6 Agustus 2026.
Bagi Lembong, ada bagian dari perkara yang menimpanya yang tidak sepenuhnya ia mengerti. Ia meyakini bahwa apa yang dilakukannya selama ini telah sesuai dengan aturan.
“Saya sendiri tidak mengerti semua yang terjadi karena saya lakukan sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.
Tetapi ia memilih tidak berhenti pada kebingungan. Ia tetap berusaha. Selebihnya, ia senyerahkan kepada Tuhan. “Selain usaha, semua saya hadapi dengan senyum dalam iman. Tetap bersinar di hadapan semua orang. Artinya saya percayakan semua kepada Tuhan,” tutur Lembong.

Kalimat itu menjadi semacam kesaksian tentang cara seseorang bertahan ketika hidup tidak berjalan seperti yang diharapkan: berusaha sejauh yang bisa dilakukan, lalu belajar mempercayakan sisanya kepada Tuhan.
Lembong juga memegang teguh keyakinan bahwa dirinya mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari publik. Keyakinan itu, menurutnya, menemukan salah satu bentuk konkretnya ketika Presiden memberikan abolisi kepadanya.
Tentang Iman
Namun, malam itu Lembong tidak hanya berbicara tentang perkara hukum. Ia berbicara tentang iman, tentang orang-orang yang mencintainya, dan tentang pengalaman ketika seseorang harus belajar percaya di tengah situasi yang tidak seluruhnya dapat ia kendalikan.
Kesaksian Lembong menjadi bagian dari sebuah malam yang sejak awal memang dirancang sebagai ruang doa.
Di dalam Gereja St. Perawan Maria Ratu, cahaya lampu dibuat temaram. Sekitar 300 orang berkumpul mengikuti misa dan adorasi khusus untuk menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Malam itu diinisiasi oleh Catholic Fellowship Jakarta (CFJ), kelompok kategorial yang menghimpun umat asing dan menyelenggarakan misa berbahasa Inggris dengan tema We Are Indonesia Worship Night.
Di tengah suasana gereja yang hening, doa-doa untuk Indonesia dipanjatkan. Kemerdekaan tidak sekadar dirayakan sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga ditempatkan dalam sebuah permenungan iman: tentang negeri yang dicintai, tentang masa depan yang diharapkan, dan tentang peran setiap orang di dalamnya.
Adorasi membawa umat pada suasana yang berbeda dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari kota Jakarta. Tidak ada kegaduhan. Yang tersisa adalah keheningan, doa, dan kesempatan untuk melihat kembali apa yang selama ini menjadi pegangan hidup.
Dalam konteks itulah pengalaman Lembong terasa menemukan tempatnya.
Ia berbicara tentang sebuah masa ketika dirinya menghadapi tuduhan dan ketidakpastian. Namun, di balik semua itu, ia menemukan bahwa dirinya tidak sendirian.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa cinta kadang-kadang baru benar-benar terasa ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan. Bukan melalui kata-kata besar, melainkan lewat kehadiran orang-orang yang memilih tetap tinggal.
“Di saat-saat semacam itu, cinta menemukan bentuknya yang paling konkret,” kata Lembong.
Cinta dan Pengharapan
Mungkin di situlah benang merah malam tersebut: cinta tidak berhenti sebagai perasaan. Ia menjelma menjadi tindakan, kesetiaan, dan keberanian untuk tetap berjalan.
Begitu pula iman. Iman bukan berarti seseorang memahami seluruh jalan hidupnya. Bagi Lembong, iman justru berarti tetap melangkah ketika tidak semua hal dapat dipahami.
Ia berusaha. Ia menghadapi. Ia tetap tersenyum. Kemudian ia menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Di gereja yang temaram itu, pengalaman personal tersebut bertemu dengan doa untuk Indonesia. Orang-orang bukan hanya datang untuk menyambut kemerdekaan, tetapi juga untuk menempatkan kecintaan kepada Indonesia dalam keheningan doa.
Dan seperti pengalaman yang dibagikan Lembong malam itu, cinta justru sering menemukan bentuknya yang paling nyata ketika keadaan sedang paling sulit. (Sonar/EDL)

