Wed. Aug 26th, 2026

Cerpen: Anas Tidak Akan Diam Lagi pada Pelakor itu

Malam itu Anas bertanya kepada suaminya dengan suara pelan.

“Siapa perempuan itu?”

Hanya sebuah pertanyaan. Tidak lebih.

Namun pertanyaan itu ternyata cukup untuk membuat malam di rumah mereka berubah menjadi panjang dan menakutkan.

Suaminya tidak segera menjawab. Ia hanya menatap Anas dengan wajah yang sulit dibaca. Telepon genggam yang sejak tadi dipegangnya buru-buru dimasukkan ke saku.

“Tidak usah ikut campur,” katanya.

Anas diam.

Tetapi sebagai seorang istri, ia tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan.

Beberapa bulan terakhir, suaminya memang berubah. Pulang semakin larut. Telepon genggam selalu dibawa ke mana-mana. Bahkan ketika mandi, telepon itu ikut masuk ke kamar mandi. Jika ada pesan masuk, ia buru-buru menjauh dari anak-anak dan istrinya.

Anas bukan perempuan berpendidikan tinggi. Ia tidak pandai membaca gelagat dunia. Ia juga tidak mengerti banyak tentang teknologi.

Tetapi ia tahu satu hal.

Seorang suami yang tidak menyembunyikan sesuatu tidak akan hidup seperti orang yang sedang menyembunyikan rahasia.

“Kalau memang tidak ada apa-apa,” kata Anas lagi, “kenapa telepon itu selalu disembunyikan?”

Tamparan datang lebih cepat daripada jawaban.

Tubuh Anas terhuyung.

Ia belum sempat mengangkat tangan untuk melindungi wajah ketika pukulan berikutnya membuat kepalanya membentur sudut meja.

Sesaat ia tidak mendengar apa-apa.

Kemudian ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari pelipisnya.

Darah.

Anas memegang kepalanya.

Di hadapannya, suaminya masih berdiri dengan napas memburu.

Di sudut ruangan, anak-anak mereka membeku.

Tak seorang pun bergerak.

Tak seorang pun bersuara.

Malam itu Anas belajar bahwa sebuah rumah bisa tetap berdiri meskipun rasa aman di dalamnya telah runtuh.

Sejak hubungan suaminya dengan perempuan lain mulai tercium, pertengkaran semakin sering terjadi.

Setiap kali Anas bertanya, suaminya marah.

Setiap kali Anas menunjukkan ketidaksukaannya terhadap perempuan itu, ia dituduh sebagai istri pencemburu.

Seolah-olah Anaslah yang menjadi penyebab pertengkaran.

Seolah-olah perempuan lain itu tidak pernah ada.

Seolah-olah seorang istri harus menerima begitu saja ketika suaminya memberikan perhatian kepada perempuan lain.

***

Suaminya bekerja serabutan, mengambil berbagai pekerjaan lepas. Tidak selalu banyak hasilnya. Tetapi ketika uang itu didapat, Anas berharap sebagian bisa dibawa pulang untuk kebutuhan keluarga.

Ternyata harapan itu sering kandas.

Ada kebutuhan perempuan itu yang harus dipenuhi.

Ada keperluannya yang harus dibayar.

Bahkan biaya kuliahnya di sebuah universitas di pulau itu, menurut Anas, ikut dibiayai oleh suaminya.

Sementara di rumah, tiga anak menunggu.

Menunggu uang sekolah. Menunggunuang kuliah.

Menunggu buku.

Menunggu uang makan.

Suatu sore, salah seorang anaknya datang membawa selembar kertas.

“Ma, ini dari sekolah.”

Anas membacanya perlahan.

Tagihan pendidikan.

Ia menarik napas panjang.

“Nanti Mama usahakan.”

Anaknya mengangguk dan pergi.

Kalimat ”nanti Mama usahakan” telah menjadi kalimat yang terlalu sering ia ucapkan.

Padahal ia sendiri tidak tahu dari mana harus mengusahakannya.

Malamnya ia meminta uang kepada suaminya.

“Anak-anak perlu bayar sekolah.”

“Tidak ada uang,” bentak suaminya.

Anas terdiam.

Beberapa hari kemudian, ia mendengar suaminya mengirim uang kepada perempuan itu. Saat itulah sesuatu di dalam dirinya seperti patah.

Bukan karena jumlah uangnya.

Tetapi karena ia merasa keluarganya sendiri tidak lagi menjadi prioritas.

Anak-anak yang lahir dari pernikahan mereka harus menunggu.

Perempuan lain justru didahulukan.

Anas akhirnya mengerti bahwa ia tidak bisa terus hidup seperti itu.

Bukan untuk dirinya.

Untuk anak-anaknya.

***

Ketika kesempatan bekerja di Malaysia datang, ia menerimanya.

Keputusan itu bukan keputusan yang mudah.

Malam sebelum berangkat, Anas memandangi ketiga anaknya yang sedang tidur.

Ia membelai rambut mereka satu per satu.

Lama.

Sangat lama.

“Maafkan Mama,” bisiknya.

Ia tahu keberangkatannya mungkin akan membuat anak-anak merasa ditinggalkan.

Tetapi ia juga tahu, jika ia tetap tinggal tanpa penghasilan, masa depan mereka akan semakin sulit.

Pagi harinya, ketika hendak pergi, anak bungsunya bertanya,

“Mama pergi berapa lama?”

Anas tersenyum.

“Tidak lama.”

Padahal ia sendiri tidak tahu.

Di depan anak-anak, ia berusaha tegar.

Di kendaraan yang membawanya pergi, ia menangis.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

Tidak ada anak yang melihat.

Tidak ada suami yang peduli.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia menangis seorang diri.

Bagi Anas, pergi bukan berarti meninggalkan anak-anak.

Ia pergi justru karena tidak ingin meninggalkan mereka dalam kemiskinan.

Namun Malaysia ternyata tidak menjadi jalan keluar seperti yang ia bayangkan.

Tubuhnya yang sejak awal sudah ringkih tidak mampu mengikuti kerasnya pekerjaan.

Ia jatuh sakit.

Hari berganti minggu.

Minggu berganti bulan.

Penyakit itu tidak kunjung sembuh.

Ada malam-malam ketika ia terbaring sendirian dan ingin sekali pulang.

Tetapi ia teringat anak-anak.

Ia bertahan.

Ia bekerja sebisanya.

Ia menahan sakit sebisanya.

Sebab seorang ibu sering kali memiliki cara yang aneh untuk bertahan: ia bisa melupakan dirinya sendiri selama masih percaya bahwa anak-anaknya membutuhkan dirinya.

Tetapi jauh di dalam hati, Anas mulai merasa sangat lelah.

Bukan hanya tubuhnya.

Jiwanya.

Kemudian datang kabar yang membuat hidupnya kembali berputar.

Suaminya ditahan polisi.

Ada video mesum.

Ada dugaan penyebaran video.

Ada perempuan lain di dalam video itu.

Ada perkara hukum.

Anas tahu suaminya bersalah.

Ia tidak ingin mengatakan sebaliknya.

Berzinah adalah kesalahan.

Menyebarkan video mesum juga bukan perbuatan yang bisa dibenarkan.

Tetapi ketika mendengar suaminya menjadi tersangka, Anas tidak merasa menang.

Ia justru duduk diam.

Ada sedikit rasa lega karena akhirnya suaminya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Tetapi ada juga rasa takut.

Bagaimanapun laki-laki itu adalah ayah dari anak-anaknya.

Ia membenci perbuatannya.

Ia marah kepadanya.

Ia pernah takut kepadanya.

Tetapi ia juga tidak ingin anak-anaknya kehilangan ayah.

Perasaan itu membuat Anas bingung.

Bagaimana mungkin seseorang bisa marah kepada orang yang sama, tetapi pada saat yang sama masih mengkhawatirkannya?

Namun yang paling mengganggu pikirannya adalah satu hal.

Perempuan yang ada dalam video itu masih bebas.

Anas merasa seolah-olah seluruh kisah hidupnya kembali dipotong menjadi satu bagian kecil: video.

Tidak ada yang bertanya tentang tahun-tahun sebelumnya.

Tidak ada yang bertanya tentang kekerasan.

Tidak ada yang bertanya tentang anak-anak.

Tidak ada yang bertanya mengapa ia sampai harus menjadi pekerja migran.

Tidak ada yang bertanya mengapa tubuhnya sakit.

Orang-orang hanya berbicara tentang video.

Suatu hari Anas mencoba mencari bantuan.

Ia datang dengan pakaian sederhana.

Duduk di sebuah ruangan bersama orang-orang yang berbicara tentang hukum.

Ada pasal.

Ada bukti.

Ada unsur perkara.

Ada prosedur.

Anas mendengarkan semuanya.

Sebagian besar tidak ia mengerti.

Ia hanya mengangguk.

Sampai akhirnya seseorang bertanya,

“Ibu sebenarnya ingin apa?”

Pertanyaan itu membuat Anas terdiam.

Ia ingin menjawab.

Tetapi terlalu banyak yang ingin diceritakan.

Ia ingin mengatakan bahwa kepalanya pernah berdarah.

Ia ingin mengatakan bahwa suaminya memukulnya.

Ia ingin mengatakan bahwa uang untuk anak-anak tidak ada, sementara perempuan lain dibiayai.

Ia ingin mengatakan bahwa ia harus pergi ke Malaysia.

Ia ingin mengatakan bahwa ia sakit.

Ia ingin mengatakan bahwa selama ini ia merasa sendirian.

Ia ingin mengatakan bahwa sekarang suaminya ditahan, tetapi perempuan yang dianggapnya telah ikut menghancurkan rumah tangganya masih bebas.

Namun semua kata itu berhenti di tenggorokannya.

Air matanya jatuh.

“Saya tidak tahu,” katanya akhirnya.

Ruangan menjadi hening.

***

Anas mengusap pipinya.

“Saya tidak sekolah. Saya tidak mengerti hukum.”

Ia menarik napas panjang.

“Saya cuma ingin ada yang mendengar cerita saya dari awal.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi bagi Anas, itulah seluruh perjuangannya.

Bukan semata-mata agar suaminya dihukum.

Bukan semata-mata agar perempuan itu dihukum.

Ia hanya ingin seseorang memahami bahwa sebelum perkara itu sampai di polisi, ada seorang perempuan yang sudah lama terluka.

Hari-hari berikutnya tidak serta-merta menjadi lebih mudah.

Suaminya masih menjalani proses hukum.

Perempuan itu masih menjalani kehidupannya.

Anak-anak masih membutuhkan biaya.

Penyakit Anas belum sembuh.

Dan rumah tangga yang pernah ia perjuangkan tidak mungkin kembali seperti semula hanya dengan sebuah keputusan pengadilan.

Tetapi sesuatu telah berubah dalam diri Anas.

Ia tidak lagi malu dengan air matanya.

Ia tidak lagi merasa rendah hanya karena tidak sekolah.

Ia mulai memahami bahwa tidak memiliki pendidikan bukan berarti tidak memiliki suara.

Tidak memiliki uang bukan berarti tidak memiliki hak.

Dan menjadi perempuan sederhana bukan berarti harus menerima semua luka dalam diam.

Malam itu, Anas berdiri di dekat jendela.

Langit gelap.

Tidak ada bintang yang terlihat.

Ia teringat anak-anaknya.

Ia teringat Malaysia.

Ia teringat darah yang pernah mengalir dari kepalanya.

Ia teringat semua malam ketika ia menangis sendirian.

Lalu ia mengusap wajahnya.

“Cukup,” bisiknya.

Bukan kepada suaminya.

Bukan kepada perempuan itu.

Bukan pula kepada siapa pun.

Ia mengatakannya kepada dirinya sendiri.

Cukup sudah menjadi perempuan yang selalu menyalahkan dirinya sendiri.

Cukup sudah merasa bahwa ia tidak berharga hanya karena tidak berpendidikan.

Cukup sudah mengira bahwa mempertahankan keluarga berarti harus menanggung semuanya sendirian.

Anas tahu, hukum akan berjalan dengan jalannya sendiri.

Ia juga tahu tidak semua keinginannya akan menjadi kenyataan.

Tetapi setidaknya sekarang ia berani mengatakan satu hal:

Aku juga korban.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kalimat itu tidak membuatnya merasa lemah.

Sebaliknya, kalimat itu membuatnya berdiri.

Anas mungkin tidak memiliki banyak hal.

Ia tidak memiliki gelar.

Tidak memiliki uang yang cukup.

Tidak memiliki banyak orang untuk membelanya.

Tetapi ia masih memiliki sesuatu yang selama ini hampir dirampas darinya: suara.

Dan kali ini, ia tidak akan diam lagi. Dia laporkan wanita pelakor itu ke kepolisian!!

Related Post