
Memasuki pekan kedua tanggap darurat gempa Flores 2026, Jaringan Caritas Indonesia terus memperkuat layanan kemanusiaan di empat keuskupan terdampak.
Di tengah keterbatasan akses dan ancaman gempa susulan, bantuan bergerak dari kebutuhan paling dasar—pangan dan air bersih—hingga layanan kesehatan dan pendampingan psikososial bagi anak-anak.
Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 M mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026. Bencana itu memaksa puluhan ribu warga meninggalkan rumah. Berdasarkan catatan BNPB per 20 Agustus 2026, jumlah pengungsi telah mencapai 82.691 jiwa.
Ancaman belum sepenuhnya berlalu. Potensi gempa susulan masih berlangsung dan diperkirakan dapat terjadi hingga tiga sampai empat minggu ke depan. Karena itu, kebutuhan di pengungsian bukan sekadar makanan dan tempat berlindung.
Penguatan kapasitas tempat pengungsian, pemantauan kesehatan, air bersih, serta dukungan psikososial menjadi kebutuhan yang terus mendesak.
Bangunan Boleh Runtuh, Semangat Tidak
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, menyampaikan dukungan bagi para korban dan penyintas sekaligus mengapresiasi respons Caritas Indonesia sebagai lembaga sosial resmi KWI.
Ia menegaskan, bencana boleh meruntuhkan bangunan fisik, tetapi tidak boleh mematahkan semangat kebersamaan dan keteguhan iman masyarakat Flores.
“Saya menyampaikan kedekatan doa bagi seluruh korban dan para penyintas. Bencana ini telah meruntuhkan bangunan fisik, namun kita percaya, ia tidak akan pernah meruntuhkan semangat kebersamaan dan keteguhan iman kita,” ujarnya.
KWI mendukung respons terpadu Caritas Indonesia di Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Maumere, Keuskupan Ruteng, dan Keuskupan Labuan Bajo. Mgr. Antonius juga mengajak seluruh elemen Gereja Katolik Indonesia bergerak dalam semangat kerja sinodal dan kolaborasi agar bantuan tersalurkan secara efektif dan merata.
Ketua Badan Pengurus Caritas Indonesia, Mgr. Pius Riana Prapdi, menegaskan komitmen serupa. Menurutnya, tim tanggap darurat Caritas Indonesia, relawan, dan tim keuskupan lokal terus berkoordinasi untuk merespons kebutuhan mendesak.
“Caritas Indonesia bersama seluruh jejaring kemanusiaan Gereja Katolik Indonesia menyampaikan komitmen penuh untuk hadir di tengah para penyintas,” ujarnya.
Dari Surabaya, Bantuan Bergerak menuju Flores
Tantangan geografis dan pemulihan jalur transportasi membuat distribusi bantuan membutuhkan pengelolaan khusus. Caritas Indonesia kemudian membuka Posko Logistik Nasional di Surabaya, didukung Caritas Keuskupan Surabaya.
Posko ini menjadi pusat pengumpulan, konsolidasi, dan transit bantuan dari Pulau Jawa dan sekitarnya sebelum dikirim melalui jalur laut menuju Labuan Bajo, Reo, dan Maumere.
Salah satu kebutuhan strategis adalah 100 unit tandon air bersih berkapasitas 1.200 liter untuk titik pengungsian padat. Pengiriman dijadwalkan berangkat dengan kapal laut pada 24 Agustus 2026. Pada saat bersamaan, tandon yang diproduksi di Ruteng dan Maumere juga dipesan untuk memenuhi kebutuhan warga dan pengungsi.
Layanan Kesehatan ke Kantong Pengungsian
Caritas Indonesia memobilisasi tim medis nasional serta menyalurkan 180 kg obat-obatan dan peralatan medis. Dokter dan tenaga medis tambahan juga dikirim, terutama untuk memperkuat layanan di Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Ruteng.
Di Desa Satar Padut, Manggarai Timur, sebanyak 80 pasien telah dilayani. Di Kabupaten Manggarai, layanan menjangkau 120 pasien di Desa Robek, Kecamatan Reo, dan sekitar 200 warga terdampak di Desa Bajak.
Pada 19–20 Agustus 2026, pelayanan kesehatan di tujuh titik menjangkau 661 pasien, terdiri atas 247 laki-laki dan 405 perempuan, termasuk delapan anak.
ISPA menjadi keluhan terbanyak. Pada kelompok lansia ditemukan hipertensi, diabetes mellitus, kolesterol, dan COPD. Tim juga menemukan lima kasus fraktur di Pos Pengungsian Gereja St. Thomas Morus, Desa Robek, kasus keratitis, luka termasuk akibat tertusuk paku, serta lima ibu hamil di Desa Paralando yang sebagian belum memperoleh ANC secara optimal. Kasus diare yang diduga berkaitan dengan konsumsi air sumur juga ditemukan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa krisis kesehatan di pengungsian berkembang dari persoalan luka akibat gempa menjadi persoalan yang lebih luas: penyakit infeksi, penyakit kronis, kesehatan ibu dan anak, serta kualitas air.
Menjaga Anak-anak Tetap Kermain
Di antara para penyintas, anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan. Mereka menghadapi trauma akibat gempa utama sekaligus ketakutan karena gempa susulan yang masih terjadi.
Pada 19–20 Agustus, layanan psikososial di empat titik—Posko Damer, Posko Wae Waru, Pos Lemarang, dan Pos Ojang—menjangkau 481 orang, terdiri atas 91 laki-laki, 59 perempuan, 288 anak dan remaja usia 1–16 tahun, serta 193 orang dewasa.
Anak-anak diajak bermain, bernyanyi, menggambar, bercerita, dan mengikuti aktivitas kelompok. Orang tua memperoleh Psychological First Aid (PFA), sharing kelompok, dan penguatan spiritual.
Di Desa Satar Padut, 42 anak berusia 3–12 tahun mendapatkan pendampingan psikososial secara intensif. Kegiatan serupa berlangsung di wilayah Ruteng, Maumere, dan Labuan Bajo.
Di tengah tenda pengungsian, permainan dan tawa anak mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi mereka yang kehilangan rasa aman, kesempatan untuk bermain kembali menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Empat Keuskupan, Satu Gerakan Kemanusiaan

Di Keuskupan Agung Ende, bantuan disalurkan ke wilayah Nagekeo, Ngada, dan Ende, antara lain melalui Paroki Stella Maris Danga, Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo, dan Paroki Kombandaru. Bantuan meliputi beras, telur, minyak goreng, mi instan, air kemasan, popok, dan obat-obatan dasar.
Di Keuskupan Maumere, bantuan menjangkau wilayah pesisir dan Pulau Palue. Distribusi mencakup 2.500 kg beras, 204 papan telur, 200 dus air mineral, 200 lembar tikar, 35 terpal berukuran 6×4 meter, perlengkapan dapur, dan ratusan hygiene kit.
Bantuan juga disalurkan ke Paroki Lela dan Paroki Lekebai serta mendukung dapur umum di Paroki Lei dan Seminari Menengah Bunda Segala Bangsa Maumere.
Di Keuskupan Ruteng, Caritas memfasilitasi tenda darurat di RSUD Ruteng dan menyalurkan pangan serta hygiene kit di Barang Kolong, Damer, Lengor, Ndekok, Bonar, Golo Tebo, dan Galang. Kajian kebutuhan terus dilakukan sebagai dasar distribusi berikutnya.
Sementara di Keuskupan Labuan Bajo, bantuan pangan dan hygiene kit disalurkan ke Paroki Bari, Orong, Bajo, Reweng, dan Wangkung.
Pekan kedua tanggap darurat belum menandai berakhirnya krisis. Selama puluhan ribu orang masih berada di pengungsian dan gempa susulan masih mengancam, kebutuhan akan terus berubah.
Dari kapal pengangkut logistik, layanan kesehatan, dapur umum hingga ruang bermain anak, solidaritas terus bergerak. Caritas Indonesia menyampaikan terima kasih kepada para donatur, relawan, dan mitra kemanusiaan yang telah bergotong royong membantu para penyintas.
Gempa mungkin telah mengguncang Flores hingga ke fondasinya. Namun, dari tengah puing dan tenda pengungsian, satu hal tetap berdiri: kemanusiaan dan kebersamaan tidak boleh ikut runtuh. (*/tD)

