
Oleh Rm. Andreas Suhana Nitiprawiro, CSsR, Pernah melayani di Hombakaripit, Kodi, dan Gereja Santo Leo Agung Jatiwaringin, Jakarta
Injil tidak pertama-tama membutuhkan gedung yang megah untuk menjadi nyata. Injil membutuhkan manusia yang bersedia hadir, memberi diri dan terlibat.
Pengalaman pastoral saya di Kodi, Sumba Barat Daya, pada 1997–1999, dan kemudian di Jakarta pada 1999–2006, membawa saya pada satu kesadaran: ekumenisme dan inkulturasi tidak cukup dibicarakan sebagai konsep teologis. Keduanya harus menjadi cara hidup.
Di Kodi, iman belajar duduk di dapur dan ruang tamu. Di Jatiwaringin, iman belajar duduk bersama di altar dan, beberapa tahun kemudian, belajar memikul jenazah seorang saudara seiman di tengah banjir. Dari sanalah saya memahami bahwa membumikan iman berarti menghadirkan Kristus di tengah kehidupan manusia yang nyata.
Kodi: Ketika Gereja Keluar dari Gedung Gereja
Kodi adalah tanah yang kaya dengan nilai adat dan spiritualitas Marapu. Nilai hamba, kabisu, dan pamangu membentuk cara masyarakat memahami persaudaraan, tanggung jawab, dan kehidupan bersama.
Dalam konteks seperti itu, pewartaan Injil tidak mungkin hanya dilakukan dari mimbar. Gereja perlu masuk ke dalam denyut nadi kehidupan masyarakat.
Ketika saya bertugas di Kodi, saya melanjutkan semangat ekumenis yang telah ditanamkan para pendahulu, antara lain Mgr. Willy Wagener, CSsR, dan beberapa imam lainnya. Salah satu warisan pentingnya ialah kesediaan membangun relasi dengan saudara-saudari dari gereja lain, bukan hanya dalam forum resmi, tetapi dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya melalui Forum Ekumene. Pastor, pendeta, rato, dan kepala desa duduk bersama membicarakan sekolah, jalan, pembangunan, dan berbagai persoalan konkret masyarakat. Kami belajar bahwa persaudaraan sering tumbuh bukan karena kita berbicara tentang persatuan, melainkan karena kita bersama-sama mengerjakan sesuatu yang berguna.
Ada pula pertukaran mimbar. Pendeta berkhotbah dalam perayaan umat Katolik, dan pastor berkhotbah dalam ibadat umat Protestan. Bagi masyarakat yang hidup dalam keragaman denominasi, pengalaman ini memiliki daya yang besar. Umat belajar melihat bahwa saudara yang berbeda gereja bukanlah orang asing. Perbedaan tradisi gerejani tidak menghapus kesamaan iman kepada Allah.
Ekumenisme juga hadir melalui kerja bakti. Ketika umat Katolik membantu pembangunan gereja Protestan dan umat Protestan membantu pembangunan gereja Katolik, yang terjadi bukan sekadar gotong royong. Ada teologi persaudaraan dan teologi kerja yang sedang dipraktikkan.
Orang boleh berbeda, tetapi ketika rumah saudara membutuhkan pertolongan, kita datang. Persaudaraan tidak lagi menjadi slogan. Ia menjadi keringat, tangan yang mengangkat batu, dan kayu yang dipikul bersama.
Namun, dari semua pengalaman itu, ada satu ruang yang paling saya kenang: dapur dan ruang tamu rumah Pendeta Yesaya.
Saya biasa datang tanpa janji formal. Kami makan, minum kopi, berbicara tentang keluarga dan umat, lalu percakapan perlahan berubah menjadi pembicaraan pastoral. Tidak ada meja konferensi, agenda resmi, atau notulen. Tetapi justru di sanalah banyak hal penting lahir.
Dapur menjadi ruang ekumenisme. Ruang tamu menjadi tempat menyusun rencana pastoral. Persahabatan perlahan berubah menjadi persaudaraan.
Ketika pada 1999 saya meninggalkan Kodi, Pendeta Yesaya menyambut kepergian itu dengan tangis. “Kami kehilangan saudara,” katanya.
Bagi saya, kalimat itu jauh lebih bernilai daripada banyak keberhasilan pastoral yang tercatat dalam laporan. Sebab di situlah saya menemukan ukuran sederhana keberhasilan pelayanan: ketika seorang pastor pergi, apakah orang merasa kehilangan seorang pejabat gereja atau kehilangan seorang saudara?
Dari Kodi ke Jakarta
Tahun 1999, perjalanan pastoral membawa saya dari Kodi ke Jakarta. Konteksnya berubah total. Kodi adalah masyarakat yang dekat dengan adat dan kehidupan komunal; Jakarta adalah kota metropolitan yang plural, padat, dan bergerak cepat.
Namun satu hal tetap sama: manusia membutuhkan persaudaraan.
Di Jakarta, semangat yang dibangun di Kodi diterjemahkan dalam situasi yang berbeda, terutama dalam pengalaman perkawinan campur dan bencana banjir.
Salah satu pengalaman berkesan ialah pelayanan perkawinan campur gerejani yang mempertemukan umat Katolik dan Protestan. Peristiwa itu berawal dari Gereja Katolik Hombakaripit dan berlanjut dalam perayaan di Gereja Protestan Pangkalan Jati, Jakarta Timur.
Sebuah meja sederhana disiapkan dan diubah menjadi altar. Saya memimpin janji perkawinan, pendeta menyampaikan khotbah, koor gabungan menyanyikan lagu-lagu liturgi, dan umat Katolik serta Protestan duduk bersama.
Sekilas, yang terjadi hanyalah sebuah upacara perkawinan. Tetapi sesungguhnya dua orang dengan latar belakang gereja berbeda sedang berjanji membangun satu rumah tangga, sementara dua komunitas gerejani belajar menerima bahwa kasih Allah tidak boleh dibatasi tembok denominasi.
Perkawinan campur dengan demikian bukan hanya persoalan administratif atau pastoral. Ia dapat menjadi laboratorium ekumenisme: perbedaan tidak dihapuskan, tetapi dibawa ke dalam kasih yang lebih besar.
Banjir 2000: Ketika Ekumenisme Berhadapan dengan Kematian
Pengalaman ekumenis yang paling dalam justru terjadi bukan di altar, melainkan dalam suasana duka.
Pada saat banjir besar Jakarta tahun 2000, datang kabar dari RS Harum bahwa seorang warga Protestan meninggal dunia. Keluarganya sedang mengungsi, sementara pendeta yang biasanya melayani tidak diketahui keberadaannya.
Dalam keadaan itu, umat Katolik Gereja Santo Leo Agung Jatiwaringin memutuskan untuk hadir.
Jenazah dijemput, dibawa ke kompleks Gereja Katolik Jatiwaringin, dirawat dan disemayamkan di aula gereja, lalu diantar ke pemakaman. Saya memimpin doa.
Di titik itu, tidak ada lagi pertanyaan tentang siapa Katolik dan siapa Protestan. Tidak ada perdebatan denominasi. Yang ada hanyalah seorang manusia yang telah meninggal dan saudara-saudara yang datang untuk menghormatinya.
Di depan kematian, identitas kita yang paling dalam bukanlah denominasi. Kita adalah manusia yang sama-sama membutuhkan kasih dan pengharapan.
Peristiwa itu menjadi kulminasi perjalanan ekumenisme yang saya alami. Di Kodi, kami duduk bersama di dapur. Di Pangkalan Jati, kami berdiri bersama di altar. Di Jatiwaringin, kami memikul jenazah bersama. Tiga ruang yang berbeda, tetapi satu Injil yang sama.
Dari Dapur ke Altar, dari Altar ke Rumah Duka
Kini, ketika mengenang perjalanan itu, saya melihat satu benang merah: inkarnasi.
Allah yang kita imani adalah Allah yang masuk ke dalam kehidupan manusia. Karena itu Gereja pun tidak boleh takut masuk ke dalam kehidupan manusia.
Allah hadir di ruang-ruang konkret. Maka Gereja pun harus hadir di sana: di dapur ketika keluarga makan, di ruang tamu ketika sahabat berbicara, di altar ketika dua manusia mengucapkan janji perkawinan, di jalan ketika masyarakat bergotong royong, di rumah sakit ketika seseorang meninggal, dan di rumah duka ketika keluarga membutuhkan saudara.
Inilah wajah diakonia yang saya temukan: dari membangun gereja bersama, membangun keluarga bersama, sampai mengantar jenazah bersama.
Ekumenisme akhirnya bukan sekadar program. Ekumenisme adalah cara hidup.
Ia dimulai dari kesediaan melihat orang lain bukan sebagai “orang dari gereja lain”, tetapi sebagai saudara.
Injil yang Terlihat
Pengalaman dari Kodi ke Jakarta mengajarkan bahwa Injil tidak selalu menjadi kuat karena kata-kata yang indah. Kadang-kadang Injil menjadi nyata melalui tindakan yang sangat sederhana.
Ketika kita masuk ke dapur seorang pendeta. Ketika kita berdiri bersama di depan altar. Ketika kita membantu membangun rumah ibadah saudara. Ketika kita membuka aula gereja bagi jenazah yang bukan anggota gereja kita. Dan terutama ketika kita bersedia memikul peti mati seorang saudara di tengah banjir.
Mungkin itulah salah satu cara paling sederhana untuk mengukur apakah iman telah benar-benar membumi: Siapa yang menangis ketika kita pergi?
Dan ketika bencana datang: Siapa yang datang memikul kita ketika kita tidak berdaya?
Dari dapur Pendeta Yesaya di Kodi, ke meja altar Pangkalan Jati, lalu ke aula Gereja Santo Leo Agung Jatiwaringin saat banjir 2000, saya belajar bahwa Gereja dipanggil bukan hanya untuk mewartakan Injil dengan kata-kata.
Gereja dipanggil untuk menjadi Injil yang dapat disentuh, dirasakan, dan dialami. Sebab pada akhirnya, Injil yang paling nyata bukan hanya ketika kita berkhotbah, tetapi ketika kita hadir bagi saudara yang sedang membutuhkan. Ad Maiorem Dei Gloriam.
*Didedikasikan untuk Pendeta Yesaya, umat Kodi, umat Hombakaripit, umat Pangkalan Jati, Pendeta Aris, serta umat Paroki Santo Leo Agung Jatiwaringin.

