Fri. Aug 21st, 2026
Walau lapar, di tengah bencana pula, mereka tidak mengambil beras di gudang bulog ini. (ist)

Please Pray and Give Our Heart for Flores

Pagi 15 Agustus 2026, pukul 05.58 Wita, Flores tiba-tiba diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,7. Lebih dari 78 orang tewas, sekitar 1.200 lainnya terluka, dan puluhan ribu orang kehilangan rumah serta mengungsi. Gempa susulan masih berulang.

Di tengah tragedi sebesar itu, muncul sebuah cerita yang tampak sederhana, tetapi menyimpan pertanyaan besar tentang manusia.

Ada gudang Bulog yang rusak dan roboh di Reo, Manggarai. Beras di dalamnya terlihat. Sementara itu, para korban gempa lapar, kehilangan rumah, harta benda, bahkan anggota keluarga. Namun beras itu tidak dijarah.

Padahal, dalam situasi seperti itu, batas antara kebutuhan dan pelanggaran bisa menjadi sangat tipis. Orang yang lapar dan terdesak dapat berkata: Saya hanya mengambil sedikit. Saya korban bencana. Saya harus bertahan hidup.

Inilah “anomali” itu: ketika keadaan seolah memberi alasan untuk melanggar, mereka justru memilih menahan diri.

Menariknya, pengalaman bencana tidak selalu membuat manusia menjadi liar. Charles E. Fritz, salah seorang pelopor studi bencana, dalam Disasters and Mental Health: Therapeutic Principles Drawn From Disaster Studies (1961), menunjukkan bahwa kepanikan dan penjarahan dalam bencana kerap dibesar-besarkan. Dalam banyak kasus, korban justru memperlihatkan self-control dan kepedulian terhadap orang lain.

Maka, kisah gudang Bulog di Flores dapat dibaca dari arah yang berbeda.

Menurut pengamat sosial Unika Atma Jaya Jakarta, Benyamin Mali, hal ini terjadi karena orang-orang itu tahu batas. Mereka memiliki kesadaran bahwa mereka tidak mau mengambil yang bukan milik, dan bukan hasil keringat sendiri.

Mereka malu untuk mengambil, walau dalam keadaan darurat, bisa ”dipahami” atau mereka juga bisa membuat alasan ”pembenaran”. Inilah yang acap disebut sebagai ”white sins” atau dosa-dosa putih.

Ada rasa malu, harga diri, dan self-esteem. “Biar miskin, tetapi tetap happy,” kata penulis buku Pendidikan Agama dalam Keberagaman ini.

Di sana, norma adat, keluarga, komunitas, dan iman bekerja seperti pagar batin. Ada pula apa yang disebut Mali sebagai rasa takut akan Tuhan, yang diperkuat oleh ajaran Injil.

Dalam bahasa sosiologi, situasi bencana sebenarnya dapat membuka ruang bagi anomie—keadaan ketika norma dan aturan kehilangan daya mengikat.

Yang terjadi di Flores menarik: gempa meruntuhkan rumah, tetapi tidak meruntuhkan norma. Rumah boleh hancur. Harta boleh hilang. Perut boleh lapar. Tetapi harga diri tetap dijaga.

Maria Nona, perempuan asal Maumere, menyebutnya sebagai “kesaksian iman tentang integritas”.

Barangkali memang demikian. Integritas tidak paling jelas terlihat ketika hidup sedang nyaman. Ia justru tampak ketika seseorang punya alasan paling kuat untuk melanggarnya—tetapi memilih tidak melakukannya.

Karena itu, di balik angka korban dan reruntuhan Flores, ada cerita lain yang layak dicatat: tentang manusia yang kehilangan segala sesuatu, tetapi tidak kehilangan batas.

Gempa menghancurkan bangunan, namun tidak mampu menghancurkan martabat.

Dan untuk Flores, mungkin inilah saatnya kita tidak hanya mengirim bantuan, tetapi juga doa: Please pray and give our heart for Flores.*

Related Post