
BEKASI — Alam masih diselimuti sisa-sisa gelap ketika sejumlah prodiakon Gereja Santa Clara mulai berdatangan ke gereja, Senin (25/8/2026). Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.00 WIB. Namun, semangat untuk berkumpul dan menjalani hari bersama telah lebih dahulu menyala.
Setelah melakukan berbagai persiapan, sekitar pukul 06.00 WIB, sebanyak 15 mobil bergerak menuju Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Tujuan mereka bukan sekadar mencari suasana baru dan melepas penat.
Di Anjungan Kalimantan Barat, para prodiakon mengikuti kegiatan rekreasi yang lebih terasa sebagai rekoleksi dengan tema “Merajut Kebersamaan dalam Pelayanan.”
Meski disebut rekreasi, kegiatan tersebut justru lebih terasa sebagai sebuah rekoleksi. Para prodiakon diajak berhenti sejenak dari rutinitas pelayanan untuk kembali melihat hakikat tugas yang mereka emban: melayani Tuhan dan umat, bukan mencari pengakuan ataupun menonjolkan diri.

Pesan itu mengalir melalui ibadat yang disampaikan Martinus Martono dan Muji PS, meditasi yang dipandu Purnomo, serta berbagai permainan dan simulasi yang disiapkan panitia.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah simulasi tata pelayanan seorang prodiakon. Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak melihat kembali secara konkret bagaimana seorang prodiakon seharusnya mempersiapkan diri sejak dari rumah, apa yang dilakukan ketika tiba di gereja, bagaimana bersikap di sakristi, mengikuti Misa, hingga saat membagikan Komuni Kudus.
Setiap kelompok diminta membuat simulasi dengan merancang alba prodiakon dari kertas. Sembilan orang kemudian menjadi model dalam simulasi tersebut.
Dalam presentasi kelompok, ditegaskan bahwa pelayanan seorang prodiakon semestinya dimulai jauh sebelum ia tiba di gereja. Dari rumah, prodiakon diharapkan telah membaca bacaan-bacaan Kitab Suci untuk hari itu dan mempersiapkan diri melalui doa agar hati dan batinnya siap menjalankan tugas pelayanan.

Jika memungkinkan, prodiakon juga diingatkan untuk berpuasa selama satu jam sebelum bertugas atau mengikuti Misa, sebagai bagian dari persiapan diri sebelum menerima dan membagikan Komuni Kudus.
Setibanya di gereja, prodiakon hendaknya terlebih dahulu berdoa. Setelah itu, ia menuju ruang persiapan dengan tertib dan menjaga suasana silentium atau tenang. Kerapian dan kebersihan diri juga menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
”Semestinya, ketika sudah masuk sakristi, tidak ada lagi yang berisik apalagi tertawa-tertawa. Hal ini yang sangat diabaikan,” kata seorang prodiakon kepada tempusdei.id.
Bukan hanya soal penampilan, tata gerak dalam pelayanan pun perlu diperhatikan. Gerakan yang kompak dan seragam menjadi cermin kesiapan sekaligus penghormatan terhadap liturgi yang sedang dirayakan.
Dari simulasi tersebut, para prodiakon seperti diajak kembali kepada pertanyaan sederhana namun mendasar: untuk siapa pelayanan ini dilakukan?
Jawabannya bukan untuk diri sendiri. Bukan pula untuk mendapatkan pujian. Pelayanan seorang prodiakon pada akhirnya merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan dan pelayanan kepada umat.

Karena itu, rekoleksi rekreatif tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sehari di luar lingkungan gereja. Ada harapan bahwa setiap prodiakon pulang dengan kesadaran baru untuk menjalankan tugas dengan lebih sungguh-sungguh, rendah hati, dan sepenuh hati.
Namun, di balik pesan spiritual yang kuat itu, masih ada ruang yang perlu diperhatikan dalam kegiatan serupa pada masa mendatang. Unsur rekreasi yang bertujuan membangun kekompakan dan kebersamaan antarpelayan perlu mendapat porsi lebih besar.
Sejumlah permainan yang dilakukan memang menghadirkan suasana santai dan menyenangkan. Namun, belum banyak ruang yang memungkinkan para prodiakon saling berkenalan lebih dekat, khususnya mereka yang mungkin belum banyak berinteraksi dalam pelayanan sehari-hari.

Padahal, kebersamaan bukan hanya lahir dari duduk bersama dalam satu kegiatan. Ia tumbuh dari kesempatan untuk saling mengenal, berbagi cerita, bekerja dalam kelompok, tertawa bersama, dan menyadari bahwa setiap orang memiliki tempat dalam satu persekutuan pelayanan.
Pada akhirnya, perjalanan menuju TMII pagi itu bukan sekadar perjalanan 15 mobil menuju sebuah destinasi rekreasi. Ia menjadi perjalanan batin untuk kembali mengingat makna pelayanan.
Dari Gereja Santa Clara, para prodiakon berangkat membawa semangat kebersamaan. Dan dari Anjungan Kalimantan Barat, mereka diharapkan pulang membawa sesuatu yang lebih penting: kesadaran bahwa pelayanan yang tulus tidak membutuhkan sorotan, melainkan hati yang siap mengabdi.
Semoga semangat “Merajut Kebersamaan dalam Pelayanan” tidak berhenti pada tema sebuah kegiatan, tetapi benar-benar menjadi semangat yang hidup dalam setiap pelayanan para prodiakon Gereja Santa Clara. (tD)

