
FLORES-NTT – Jaringan Caritas Indonesia bersama Caritas Keuskupan di wilayah terdampak bergerak cepat merespons gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB.
Gempa dangkal yang berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, sempat memicu peringatan dini tsunami dan berdampak pada 10 kabupaten di NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana tersebut menyebabkan 68 orang meninggal dunia, 213 orang luka-luka, dan lebih dari 15.000 jiwa mengungsi yang tersebar di berbagai wilayah. Pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Sikka, Manggarai dan Nagekeo. Ada juga di wilayah Bima dan Kepulauan Selayar.
Gempa juga memicu lebih dari 341 kali gempa susulan dan merusak 914 rumah secara berat, 126 rumah rusak sedang, serta 317 rumah rusak ringan. Sebanyak 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintah turut mengalami kerusakan. Kebutuhan mendesak penyintas meliputi tenda darurat, beras, obat-obatan, selimut, velbed, tikar, air bersih, dan genset.
Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, Pr, mengatakan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mendukung penuh respons tanggap darurat melalui Jaringan Caritas Indonesia. Dukungan tersebut diberikan atas arahan Ketua KWI Mgr. Antonius Bunjamin Subianto, OSC, bersama para uskup organ Yayasan Karina KWI.
“Bencana ini memanggil kita untuk bertindak atas dasar kasih dan solidaritas kristiani,” ujar Romo Fredy.
Caritas Indonesia menetapkan Status Skala Dampak Level III (Orange) melalui surat Nomor 356/SK-YK-VIII/2026. Jaringan Caritas kemudian mengaktifkan pos layanan kemanusiaan di empat keuskupan terdampak, yakni Keuskupan Agung Ende, Maumere, Ruteng, dan Labuan Bajo.
Di Keuskupan Agung Ende, respons difokuskan pada pendataan kerusakan, penanganan pengungsi, dan distribusi logistik awal. Sedikitnya 20 bangunan gereja dilaporkan rusak. Pos pelayanan juga didirikan di Paroki Aeramo, termasuk posko pengungsian bagi lansia.
Sementara itu, Caritas Keuskupan Maumere mengaktifkan pos koordinasi kemanusiaan bersama paroki-paroki pesisir di Sikka. Tim menyiapkan makanan, air bersih, hygiene kit, dan bahan pokok bagi pengungsi. Rumah sakit di Maumere juga masih melayani masyarakat terdampak.
Di Keuskupan Ruteng, Caritas mendirikan tenda darurat di area rumah sakit untuk memastikan pasien tetap mendapat pelayanan medis dengan aman. Pengungsian mandiri terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Reo. Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada lebih dari 50 gereja, termasuk Katedral Ruteng.
Adapun Keuskupan Labuan Bajo memusatkan respons pada aktivasi pos kemanusiaan, penyediaan shelter kit, serta pendampingan psikososial. Sekitar 150 rumah dilaporkan terdampak, meski data masih diverifikasi.
Caritas Indonesia juga mengerahkan Core Response Team (CRT) untuk memperkuat asesmen cepat, pengelolaan data, dan distribusi bantuan. Posko transit logistik disiapkan di Surabaya dan Kupang.
Dalam semangat “One Church, One Response”, Jaringan Caritas Indonesia mengajak seluruh komponen Gereja dan masyarakat memperkuat solidaritas bagi penyintas. Caritas juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti arahan resmi BMKG serta BPBD, sembari memastikan pendampingan berlanjut hingga tahap pemulihan pascabencana. (tD)

