
Di bawah langit biru yang lapang, lebih dari 70 rumah adat Sumba berdiri berjajar. Menara-menara menjulang tinggi, seolah menghubungkan bumi dengan arwah para leluhur.
Sementara atap-atap berbalut ilalang yang menguning menjadi penanda bahwa tradisi masih teguh bertahan di tengah perubahan zaman yang berlari.
Di antara rumah-rumah adat itulah, sebidang pelataran masih tampak kosong. Namun, tak lama lagi tempat itu akan berubah menjadi Umma Karara, rumah adat yang telah lama dinantikan keluarga besarnya.
Di Sumba, rumah adat bukan sekadar tempat berteduh. Rumah adalah jantung kehidupan. Di sanalah anak-anak belajar mengenal asal-usulnya. Di sanalah para tetua bermusyawarah, merawat ikatan persaudaraan, menyelesaikan persoalan keluarga, merancang masa depan bersama, sekaligus menjaga adat yang diwariskan turun-temurun.
Kamis, 6 Agustus 2026, menjadi hari yang membawa harapan baru.
Sejak pagi, suara mesin kendaraan memecah keheningan kampung. Sebuah truk 10 roda disusul dua dump truck perlahan memasuki Kampung Tossi.
Muatan mereka bukan barang dagangan, melainkan bahan-bahan yang kelak menjelma menjadi rumah adat kebanggaan keluarga besar Umma Karara.
Satu batang tiang karara sebagai tiang utama, tujuh batang tiang kadimbil, sebelas batang tiang wela, tiga kubik balok pohon kelapa, dua batang kayu jati, 400 junjung alang-alang, 400 batang bambu, serta tali ikat hutan (wolo) diturunkan bergotong royong oleh anggota keluarga dan warga kampung.
Setiap batang kayu yang dipanggul bukan sekadar material bangunan. Di pundak mereka ikut terangkat harapan agar rumah adat itu kembali menjadi pusat kehidupan keluarga besar.

Umma Karara merupakan milik keluarga besar yang terdiri atas lima Ambu, yakni Ambu Bero Waliti, Ambu Leko Kaleyo, Ambu Tari Koba, Ambu Meha Waliti, dan Ambu Lighu Bera.
Sebelum sepotong kayu pun memasuki pelataran rumah, adat lebih dahulu berbicara.
Seekor babi dan seekor ayam dipersembahkan dalam ritual Yaghe, sebuah upacara memohon restu kepada Marapu dan para leluhur agar seluruh proses pembangunan berlangsung aman, lancar, dan membawa kesejahteraan bagi seluruh keturunan Umma Karara.
Bagi masyarakat adat, rumah tidak dibangun hanya dengan tenaga manusia. Restu leluhur adalah fondasi pertama yang harus ditegakkan.
Ketua Panitia, Saverius Tanggu Ghoba, mengatakan pembangunan fisik akan dimulai pada 10 Agustus 2026. Seluruh keluarga menargetkan pekerjaan selesai pada 9 September 2026.
Namun, menurut Saverius, yang hendak dibangun sesungguhnya jauh lebih besar daripada sebuah bangunan.
“Spirit utama pembangunan Umma Karara adalah melestarikan budaya sekaligus memupuk semangat gotong royong agar seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik,” ujarnya.

Gotong royong memang menjadi denyut utama pekerjaan itu. Hampir setiap keluarga mengambil bagian sesuai kemampuan. Ada yang menyumbangkan kayu, ada yang mengangkut bahan, ada pula yang menyediakan makanan bagi para pekerja. Tidak ada yang merasa bekerja untuk orang lain. Mereka bekerja untuk rumah bersama.
Penasihat pembangunan, Bonefasius Radu Kaka, menyebut semangat itu telah diwariskan oleh para leluhur.
“Semangat keluarga kami adalah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.”
Menurutnya, nilai itu tetap menjadi pegangan keluarga besar Umma Karara dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ia juga menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial saat ini, yang menurutnya memperlihatkan beban kehidupan lebih banyak dipikul rakyat, sementara praktik korupsi membuat sebagian pejabat menikmati berbagai kemudahan.
Karena itu, semangat kebersamaan di tingkat keluarga dan masyarakat menjadi semakin penting untuk terus dipelihara.
Bagi Agustinus Tamo Mbapa, tokoh Kampung Tossi, pembangunan rumah adat ini menghadirkan makna yang jauh lebih dalam.
Selama bertahun-tahun, impian membangun kembali Umma Karara tertunda akibat konflik dalam keluarga.
Kini, setelah berbagai perbedaan berhasil dilewati, saudara-saudara kembali berdiri dalam satu barisan, memanggul kayu yang sama, mengikat bambu yang sama, dan menatap tujuan yang sama.
“Saya bangga dan terharu. Semangat ini tetap ada, dan kini segera tampak wujud konkretnya dalam rupa rumah adat yang dinanti-nantikan,” katanya.
Mungkin bagi orang luar, yang sedang dibangun hanyalah sebuah rumah adat.
Namun, bagi masyarakat Kampung Tossi, yang sedang ditegakkan adalah martabat sebuah keluarga. Yang sedang disusun bukan hanya tiang-tiang kayu, melainkan kepercayaan yang pernah retak.
Yang sedang dianyam bukan sekadar atap ilalang, tetapi harapan agar anak cucu kelak tetap mengenal akar budayanya.
Ketika Umma Karara berdiri tegak pada September nanti, ia akan menjadi lebih dari sekadar bangunan. Ia akan menjadi penanda bahwa persaudaraan selalu dapat dipulihkan, bahwa gotong royong masih hidup di tanah Sumba, dan bahwa warisan leluhur akan tetap berdiri kokoh selama masih ada anak-anak kampung yang bersedia memanggul kayu bersama, berjalan berdampingan menuju rumah yang mereka sebut milik bersama. (EDL)

