
JAKARTA — Ada makna simbolik yang kuat ketika edisi perdana Vatican News dalam Bahasa Indonesia resmi terbit secara daring pada 1 Juni 2026. Bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, kehadiran Bahasa Indonesia di media resmi Takhta Suci Vatikan tidak hanya memperluas akses informasi bagi umat Katolik Indonesia, tetapi juga menjadi penanda penting pengakuan terhadap posisi Indonesia dalam percaturan Gereja universal dan diplomasi global.
Bagi jutaan umat Katolik berbahasa Indonesia, peluncuran ini membuka ruang baru untuk mengikuti berbagai perkembangan resmi Vatikan secara lebih dekat.
Namun di balik terbitnya edisi perdana tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai empat tahun lalu melalui gagasan sederhana: menghadirkan Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa komunikasi resmi Vatican News.
Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI), Rm. Petrus Noegroho Agoeng Sriwidodo Pr, menyebut kehadiran Bahasa Indonesia sebagai sebuah jembatan komunikasi yang memiliki arti strategis.
“Upaya menghadirkan Bahasa Indonesia di media resmi Takhta Suci Vatikan ini adalah untuk menghadirkan Gereja dunia ke Indonesia dan menghadirkan Gereja di Indonesia ke dunia,” ujarnya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, peluncuran ini bukan sekadar penambahan layanan bahasa baru, melainkan bagian dari upaya membangun komunikasi Gereja yang semakin inklusif di era digital. Melalui kerja sama antara Dikasteri Komunikasi Vatikan dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Vatican News edisi Bahasa Indonesia akan terus hadir secara berkelanjutan.
Dalam skema kerja sama tersebut, KWI bertugas mengoordinasikan konten berbahasa Indonesia, menyelaraskan konteks pastoral dan kebangsaan, sekaligus memperkuat komunikasi antara Takhta Suci dan umat Katolik Indonesia.
Perjalanan Panjang dari Sebuah Usulan
Kehadiran Bahasa Indonesia di Vatican News tidak terjadi dalam semalam. Gagasan itu pertama kali dicetuskan pada Juni 2022 oleh Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI).
Ketua PWKI, Asni Ovier Dengen Paluin, mengungkapkan bahwa organisasinya terlibat langsung sebagai inisiator penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News.
“Tidak dapat dipungkiri, MoU penggunaan bahasa Indonesia itu berawal dari usulan PWKI. Yang mengusulkan adalah Founder PWKI AM Putut Prabantoro dan Lucius Gora Kunjana pada Juni 2022,” ujarnya.
Saat itu, usulan resmi disampaikan kepada Duta Besar RI untuk Takhta Suci, Laurentius Amrih Jinangkung. Meski masa tugas sang duta besar tidak berlangsung lama karena kemudian dipercaya menjadi Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri RI, gagasan tersebut tetap diteruskan melalui Kedutaan Besar RI untuk Takhta Suci.
Sejak saat itu, berbagai upaya dilakukan. PWKI beberapa kali melakukan kunjungan ke Vatikan dan berdialog dengan Dikasteri Komunikasi Takhta Suci. Pada November 2022, delegasi PWKI bahkan memanfaatkan momentum audiensi dengan Paus Fransiskus untuk membahas peluang penggunaan Bahasa Indonesia dalam media resmi Vatikan.
Dorongan tersebut semakin kuat karena Indonesia dinilai memiliki posisi penting dalam kehidupan Gereja Katolik dunia. Paus Fransiskus sendiri pernah menyebut Indonesia sebagai salah satu sumber utama para biarawan dan biarawati yang berkarya di berbagai negara.
Selain itu, jumlah peziarah Indonesia yang berkunjung ke Vatikan terus meningkat. Pada Tahun Yubelium 2025, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kunjungan peziarah terbesar kedua ke Vatikan.
“Indonesia memiliki penduduk jauh lebih banyak dibanding beberapa negara yang bahasanya sudah digunakan di Vatican News. Belum lagi jika melihat jumlah peziarah Indonesia dan kontribusi Gereja Indonesia bagi Gereja dunia,” kata Mayong Suryo Laksono, Penasihat PWKI.
Jalan Menuju Penandatanganan MoU
Titik terang mulai terlihat ketika pada April 2024, delegasi PWKI kembali bertemu dengan Dikasteri Komunikasi di Vatikan.
Dalam pertemuan itu ditegaskan bahwa penggunaan Bahasa Indonesia hanya dapat diwujudkan melalui nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara KWI dan Dikasteri Komunikasi Takhta Suci.
Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh KWI bersama Kedutaan Besar RI untuk Takhta Suci. Berbagai pendekatan dan komunikasi dilakukan secara intensif, termasuk oleh Duta Besar RI M. Trias Kuncahyono serta sejumlah tokoh Gereja Indonesia yang bertugas di Vatikan.
Upaya panjang itu akhirnya membuahkan hasil pada 25 Maret 2026 ketika KWI dan Dikasteri Komunikasi Takhta Suci menandatangani MoU penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News.
Penandatanganan tersebut menjadi tonggak sejarah baru dalam hubungan Gereja Indonesia dan Takhta Suci. Sejak saat itu, proses persiapan teknis dan editorial dilakukan hingga akhirnya Vatican News edisi Bahasa Indonesia resmi mengudara pada 1 Juni 2026.
Lebih dari Sekadar Bahasa
Bagi banyak pihak, penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News memiliki arti yang melampaui aspek komunikasi.
Founder PWKI, AM Putut Prabantoro, menilai momentum ini juga memiliki dimensi geopolitik yang penting. Menurutnya, pengakuan Bahasa Indonesia di media resmi Vatikan menunjukkan eratnya hubungan Indonesia dan Takhta Suci yang telah terjalin sejak Vatikan mengakui kemerdekaan Indonesia pada Juli 1947.
Kehadiran Bahasa Indonesia juga bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Takhta Suci.
Dalam perspektif diplomasi internasional, Vatikan merupakan salah satu aktor global yang memiliki jaringan hubungan diplomatik sangat luas, menjangkau hampir seluruh negara di dunia.
Karena itu, penggunaan Bahasa Indonesia dinilai menjadi simbol pengakuan terhadap posisi Indonesia sebagai negara besar yang aktif membangun persahabatan lintas bangsa dan lintas budaya.
Selaras dengan Semangat Pancasila
Peluncuran Vatican News Bahasa Indonesia pada Hari Lahir Pancasila memberi makna tersendiri. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila—persatuan, kemanusiaan, dialog, dan solidaritas—sejalan dengan semangat komunikasi yang ingin dibangun Gereja melalui ruang digital.
Kini, umat Katolik Indonesia dapat membaca berita, refleksi, pesan paus, hingga berbagai perkembangan Gereja universal dalam bahasa mereka sendiri. Sebaliknya, kisah-kisah Gereja Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk dikenal dunia.
Apa yang dimulai sebagai sebuah usulan pada Juni 2022 akhirnya menjelma menjadi kenyataan empat tahun kemudian. Sebuah perjalanan panjang yang memperlihatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga jembatan yang menghubungkan bangsa, budaya, dan iman dalam satu percakapan global. (tD/*)

