
PONTIANAK – Selama sepekan terakhir, Kompleks Katedral Santo Yosep Pontianak menjadi ruang perjumpaan bagi para pegiat komunikasi sosial Gereja Katolik dari berbagai penjuru Indonesia.
Mereka datang membawa pengalaman, gagasan, dan harapan yang sama: membangun komunikasi Gereja yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat.
Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII yang berlangsung sejak Selasa (26/5) hingga Minggu (31/5) resmi ditutup dengan Misa Kudus di Katedral Santo Yosep Pontianak.
Namun, berakhirnya rangkaian kegiatan ini bukanlah titik akhir, melainkan awal dari langkah baru bagi para peserta untuk menerjemahkan hasil pertemuan ke dalam karya nyata di keuskupan masing-masing.
Sebanyak 18 keuskupan dari berbagai wilayah Indonesia berpartisipasi dalam perhelatan tahunan yang digagas Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tersebut.
Selama sepekan, para peserta tidak hanya mengikuti berbagai sesi diskusi dan pelatihan, tetapi juga bersama-sama merumuskan “cetak biru” tata kelola komunikasi Gereja yang akan dikembangkan sesuai kebutuhan dan karakteristik daerah masing-masing.
Kembalikan Mandat

Suasana haru terasa pada malam penutupan, Sabtu (30/5). Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Pontianak, Paulus Mashuri, secara simbolis menyerahkan kembali mandat penyelenggaraan kepada Komsos KWI yang diwakili Sekretaris Komsos KWI, RD Petrus Noegroho Agoeng.
Tongkat estafet itu kemudian diteruskan kepada Keuskupan Manado yang akan menjadi tuan rumah PKSN XIV tahun 2027. Melalui tayangan video di videotron Aula Magna Gedung Pasificus Bos, Kompleks Katedral Santo Yosep Pontianak, Ketua Komisi Komsos Keuskupan Manado, RD Yohanes I Made Pantyasa, menyampaikan kesiapan keuskupannya.
“Bapa Uskup Manado menyatakan, kami siap menjadi tuan rumah PKSN XIV tahun depan. Bagi para pegiat Komsos se-keuskupan di Indonesia, kami tunggu kehadiran Anda nanti,” ujarnya, disambut tepuk tangan para peserta.
Puncak penutupan berlangsung pada Minggu (31/5) melalui perayaan Ekaristi yang dipimpin Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Samuel Oton Sidin, OFM Cap. Ia didampingi sejumlah imam konselebran, di antaranya RD Petrus Noegroho Agoeng, RP Aloysius Adiantus, CP, dan RD Alexius Alex.
Sarana Pewartaan
Dalam pesan penutupnya, Mgr Samuel menegaskan pentingnya komunikasi sosial sebagai sarana pewartaan Gereja di tengah perubahan zaman, khususnya ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, perkembangan teknologi membawa peluang sekaligus tantangan. Karena itu, para pegiat komunikasi Gereja perlu memiliki kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti pewartaan.
“Kiranya apa yang kita terima di sini telah menginspirasi kita semua. Kita hidupi dan praktikkan di paroki dan keuskupan masing-masing. Kalian telah mengalami perjumpaan meski singkat dengan umat di sini. Sekembalinya ke keuskupan masing-masing, sampaikan salam hangat saya kepada Uskup kalian,” pesan Mgr Samuel.
Tema yang diangkat dalam PKSN XIII tahun ini selaras dengan pesan Paus Leo XIV pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, yakni “Menjaga Suara dan Wajah Manusia.” Tema tersebut menjadi refleksi Gereja atas derasnya perkembangan teknologi komunikasi, termasuk kecerdasan buatan yang semakin memengaruhi cara manusia berinteraksi dan menyampaikan informasi.
Tempatkan AI secara Proporsional
Paulus Mashuri menjelaskan, Gereja mendorong para pegiat media Katolik untuk menempatkan AI secara proporsional sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia.
“Para pegiat media Gereja Katolik diharapkan bijaksana menempatkan AI sebatas alat bantu. Dengan begitu, suara dan wajah manusia yang otentik tetap terpelihara, tidak justru terseret kecenderungan manipulasi yang menghilangkan jati diri,” katanya.
Sejak pertama kali digelar pada 2014 sebagai tindak lanjut Hari Komunikasi Sosial Sedunia, PKSN telah menjadi ruang belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat jejaring komunikasi Gereja Katolik di Indonesia. Dari tahun ke tahun, kegiatan ini terus berupaya menerjemahkan pesan-pesan Gereja universal ke dalam konteks konkret kehidupan umat di tanah air.
Di Pontianak, semangat itu kembali diteguhkan. Para peserta pulang membawa lebih dari sekadar materi pelatihan. Mereka membawa pengalaman perjumpaan, persaudaraan lintas keuskupan, serta komitmen untuk menghadirkan komunikasi yang semakin manusiawi di era digital.
Ketika lampu-lampu aula mulai padam dan para peserta bersiap kembali ke daerah masing-masing, satu pesan tetap menggema: teknologi boleh berkembang tanpa batas, tetapi suara dan wajah manusia harus tetap menjadi pusat komunikasi Gereja. (tD/*)

