Sat. May 30th, 2026

Menyusuri Harmoni Tiga Etnis di Pontianak: Ketika Budaya Menjadi Bahasa Persaudaraan

PONTIANAK – Suara tabuhan musik tradisional berpadu dengan gerak gemulai para penari menyambut kedatangan rombongan peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di berbagai sudut Kota Pontianak, Jumat (29/5/2026).

Bagi ratusan pegiat komunikasi sosial dari 18 keuskupan se-Indonesia, hari itu bukan sekadar agenda kunjungan budaya. Mereka diajak menyelami wajah keberagaman Kalimantan Barat yang hidup dalam harmoni.

Di tengah derasnya arus teknologi komunikasi yang menjadi tema utama PKSN XIII, para peserta diajak keluar dari ruang seminar dan workshop.

Mereka menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat melalui kunjungan ke tiga rumah budaya yang merepresentasikan etnis Dayak, Melayu, dan Hakka—tiga komunitas yang selama berabad-abad hidup berdampingan di tanah Kalimantan.

Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak, Paulus Mashuri, menyebut perjalanan budaya tersebut sebagai upaya menghadirkan “wajah dan suara lokal” kepada para peserta.

“Melalui kunjungan ini, kami berharap para pegiat komunikasi sosial dapat melihat dan merasakan langsung esensi wajah dan suara lokal melalui pendekatan kultural,” ujarnya.

Kampung Caping dan Kearifan yang Terawat

Lisa Ariyanto tampak mencoba membuat caping.

Salah satu tujuan kunjungan adalah Kampung Caping, kawasan wisata berbasis budaya Melayu yang berada di tepian Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Di sana berdiri sebuah rumah panggung tua berbahan kayu ulin yang menjadi saksi perjalanan masyarakat setempat sejak 1918.

Rumah yang kini menjadi cagar budaya itu telah direvitalisasi Pemerintah Kota Pontianak dan difungsikan sebagai ruang edukasi berbasis kearifan lokal. Nama Kampung Caping sendiri berasal dari tradisi kerajinan caping, topi kerucut yang dahulu digunakan para petani.

Bukan hanya bangunannya yang menarik perhatian. Kehangatan warga terasa sejak rombongan tiba. Beragam camilan tradisional disajikan menggunakan daun pisang, sementara nampan bambu dan rotan menggantikan wadah plastik modern.

Pendamping masyarakat Kampung Caping, Sinta Devianti, menjelaskan bahwa tempat tersebut menjadi ruang bersama untuk melestarikan seni tradisi, mengembangkan kerajinan lokal, mengelola perpustakaan kampung, hingga mengampanyekan pengurangan sampah plastik.

Bagi artis senior Lisa A. Riyanto yang turut mendampingi kegiatan, kunjungan itu memperlihatkan bagaimana budaya mampu menjadi sumber pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Kerajinan lokal memiliki nilai budaya dan ekonomi yang besar. Awalnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, kemudian berkembang menjadi produk unggulan bahkan mampu menembus pasar ekspor,” katanya.

Rumah Hakka dan Semangat Satu Hati

Perjalanan kemudian berlanjut ke Rumah Hakka Kalimantan Barat. Di sana, para peserta disambut pengurus Perkumpulan Hakka yang memperkenalkan berbagai nilai budaya komunitas Tionghoa Hakka.

Dengan penuh semangat, Dewan Pengawas Perkumpulan Hakka, Antonius Kadir, bahkan mengajarkan ungkapan “Hari Komunikasi Sosial Sedunia” dalam bahasa Hakka: si kai sa fui chon bo nyit.

Namun lebih dari sekadar bahasa, Rumah Hakka menyimpan filosofi kebersamaan yang kuat.

“Rumah Hakka menyimbolkan semangat orang Hakka yang punya satu hati. Kami berharap semangat ini menginspirasi kita semua untuk memiliki kesatuan hati yang sama,” ujar Kadir.

Nilai itulah yang ditangkap oleh Ketua Komisi Komsos Keuskupan Malang, RD Stephanus Jemmy Fantaw. Menurutnya, rumah budaya tidak hanya menyimpan warisan tradisi, tetapi juga menunjukkan bagaimana nilai spiritualitas dan semangat hidup positif dapat memperkuat persaudaraan.

“Nilai-nilai seperti ini perlu diperkenalkan lebih luas agar menjadi inspirasi di tengah keberagaman Indonesia,” katanya.

Rumah Betang, Simbol Hidup Bersama

Sambutan yang tak kalah meriah menanti di Rumah Betang. Tabuhan alat musik tradisional mengiringi tarian penyambutan, sementara beras kuning ditaburkan sebagai simbol penerimaan dan penghormatan bagi tamu.

Di hadapan replika rumah adat Dayak itu, para peserta mendengarkan kisah tentang filosofi hidup masyarakat Dayak yang diwariskan turun-temurun.

Ketua Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalimantan Barat, Eugene Yohanes Palaoensuka, menjelaskan bahwa Rumah Betang bukan sekadar bangunan tradisional.

“Filosofi utama Rumah Betang terletak pada kehidupan komunal dan kebersamaan masyarakat Dayak yang sangat kuat. Sejak lahir hingga menikah, leluhur kami dulu hidup di Rumah Betang,” ujarnya.

Bagi masyarakat Dayak, rumah panjang tersebut merupakan pusat kehidupan sosial sekaligus simbol hubungan harmonis antara manusia, sesama, dan alam. Nilai-nilai itu terus diwariskan sebagai bagian dari identitas budaya yang tetap relevan hingga kini.

Saprahan, Musyawarah dalam Kebersamaan

Kunjungan budaya ditutup di Rumah Melayu. Dua penari putri menyambut rombongan sebelum memasuki balairungsari. Sebelum masuk, pimpinan rombongan menjalani ritual bepapas, tradisi penyucian dan penghormatan kepada tamu.

Kain kuning dibentangkan di kaki tamu kehormatan, beras kuning ditaburkan ke udara, lalu air mawar dipercikkan ke tangan dan kaki sebagai simbol doa dan harapan baik.

Di tempat itu, peserta diperkenalkan pada tradisi saprahan, sebuah kearifan Melayu yang mengajarkan penyelesaian persoalan melalui kebersamaan.

Ketua Departemen Pendidikan dan Kepelatihan Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat, M. Rustam, menjelaskan bahwa dalam tradisi saprahan, masyarakat duduk melingkar dan makan bersama saat bermusyawarah.

“Ketika suasana hati tenang dan kebersamaan terjalin, maka persoalan akan lebih mudah diselesaikan dengan musyawarah,” katanya.

Filosofi sederhana itu seolah merangkum seluruh perjalanan budaya yang dijalani para peserta PKSN XIII hari itu.

Di tengah perbedaan etnis, bahasa, dan tradisi, masyarakat Dayak, Melayu, dan Hakka menunjukkan satu pesan yang sama: bahwa keberagaman dapat tumbuh menjadi kekuatan ketika dirawat dengan saling menghormati dan semangat hidup bersama.

Melalui rumah-rumah budaya itu, para pegiat komunikasi sosial tidak hanya belajar tentang tradisi lokal Kalimantan Barat. Mereka juga menyaksikan bagaimana budaya menjadi bahasa universal yang menjembatani perbedaan dan menumbuhkan persaudaraan. (tD/*)

Related Post