
Setiap Senin pagi, ketika sebagian besar warga Jakarta masih bergulat dengan kantuk dan enggan meninggalkan hangatnya selimut, suasana berbeda justru tampak di sebuah sudut Andara, Jakarta Selatan.
Matahari bahkan belum sepenuhnya menebarkan cahaya, tetapi Shinta Hidayat bersama sejumlah rekannya sudah sibuk menata makanan sehat, menyiapkan obat-obatan, memeriksa perlengkapan medis, hingga membuka buku-buku tabungan kecil yang lusuh namun penuh arti.

Bagi banyak orang, angka dua ribu atau lima ribu rupiah mungkin hanya recehan yang tercecer di saku. Namun bagi para pemulung, pengamen, dan tunawisma yang datang ke tempat itu, uang kecil tersebut adalah harapan yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
Mereka menitipkannya kepada Shinta dan tim karena tidak memiliki tempat aman untuk menyimpan uang. Tidak ada rumah, lemari, atau bahkan ruang pribadi yang bisa memberi rasa tenang.
Setiap lembar catatan dalam buku tabungan sederhana itu menyimpan cerita perjuangan hidup. Ada yang menabung sedikit demi sedikit untuk kebutuhan mendadak, ada pula yang terpaksa mengambil tabungannya saat anak sakit atau ketika kebutuhan hidup tak lagi bisa ditunda.
“Kalau ada anggota keluarga yang sakit, mereka ambil. Karena ada juga yang tidak terdaftar di BPJS karena tidak punya KTP,” tutur istri dari pemilik Perusahaan Jamu Sido Muncul ini.

Pelayanan yang dilakukan tim ini bukan sekadar memberi makanan atau bantuan medis gratis. Mereka menghadirkan rasa dihargai bagi orang-orang yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.
Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang bergerak cepat, Shinta dan kawan-kawannya memilih berhenti sejenak untuk mendengarkan cerita mereka yang nyaris tak pernah didengar.
Mereka Orang Sibuk
Yang membuat pelayanan ini semakin istimewa adalah orang-orang di baliknya. Mereka bukan relawan yang memiliki banyak waktu luang. Ada dokter, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga yang sehari-harinya sibuk dengan pekerjaan dan keluarga masing-masing. Namun di sela kesibukan itu, mereka tetap menyediakan ruang untuk melayani sesama.

Bagi Shinta Hidayat, istri pengusaha jamu Irwan Hidayat, pelayanan ini bukan sekadar kegiatan sosial. Bersama komunitas Kerabat Kerja Ibu Teresa, ia mengaku semakin mengenal dan mencintai Yesus melalui sosok-sosok yang ia sebut sebagai “Yesus yang tersamar” — mereka yang hadir dalam rupa pemulung, pengemis, dan tunawisma di jalanan Jakarta.
Pelayanan yang telah berlangsung lebih dari 35 tahun itu ternyata tidak selalu berjalan mulus. Tempat pelayanan mereka berkali-kali dibakar oleh orang tak dikenal. Namun ancaman dan intimidasi tidak membuat mereka berhenti.
“Biar saja mereka bakar. Kami akan terus melayani. Suatu saat mereka juga akan melihat mengapa kami tetap setia melayani walau dibakar,” ujar Shinta dengan tenang.

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan keteguhan hati. Selama lebih dari 35 tahun, Shinta dan rekan-rekannya terus hadir membagikan makanan sehat, memberi pengobatan gratis, hingga membantu menyimpan uang receh milik kaum marjinal.
Kesetiaan mereka menjadi bukti bahwa kasih tidak selalu hadir dalam tindakan besar. Kadang, kasih justru hidup dalam hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus.
Ajak Orang Muda
Semangat itu juga ingin diwariskan kepada generasi muda. Bersama mahasiswa dampingannya di Wisma Sahabat Yesus, Shinta mengajak anak-anak muda turun langsung melayani para pengemudi ojek dan pekerja jalanan di Depok.
Mereka membagikan makanan sambil mendengarkan kisah perjuangan para driver yang bekerja di bawah panas matahari dan hujan demi keluarga.

Dari percakapan-percakapan sederhana itu, para mahasiswa belajar memahami arti kerja keras dan pengorbanan. Mereka diingatkan pada orang tua di kampung yang membanting tulang di sawah dan ladang agar anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan.
“Ibu Teresa menunjukkan cintanya kepada yang kecil, lemah, miskin, terlantar, bahkan yang hampir mati di jalanan. Kami ingin melakukan hal-hal kecil seperti dilakukan Bunda Teresa dalam semangat iman yang kami peluk,” kata ibu dua anak tersebut.
Kini, sekitar 15 orang rutin terlibat dalam pelayanan tersebut. Mereka mungkin tidak mengubah dunia dalam semalam.
Namun setiap Senin pagi, di sudut sebuah Andara yang sederhana, mereka terus menyalakan harapan — satu piring makanan, satu pemeriksaan kesehatan, dan satu recehan tabungan pada satu waktu. (EDL/tD)

