Sun. May 24th, 2026

Doa dan Peluh Ama Yanu dan Ina Yanu dari Sumba Menjelma Seragam Loreng

Capaian anak membuat Ama Yanu dan Ina Yanu dipenuhi rasa syukur dan haru.

Perasaan haru menyeruak di tengah lapangan Mako Secata Rindam IX/Udayana Singaraja, Bali, 22 Mei 2026. Di antara ribuan keluarga yang datang menyaksikan pelantikan prajurit Tamtama TNI AD, berdiri pasangan sederhana dari Desa Pero, Waijewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Agustinus Dappa Loka dan Heronima Wini atau yang akrab dipanggil dengan sapaan Ama Yanu dan Ina Yanu tak kuasa menahan air mata ketika nama anak mereka, Yanwarius Lalo Dodo, dipanggil sebagai salah satu prajurit yang resmi menyandang pangkat Prada—Prajurit Dua.

Bagi banyak orang, pelantikan itu mungkin hanya seremoni militer biasa. Namun bagi keluarga petani kecil dan pemotong batu putih dari pelosok Sumba itu, hari tersebut adalah salah satu etape penting dari lintasan perjalanan panjang yang dipenuhi kerja keras, luka hidup, dan doa yang nyaris tak pernah putus.

Di kampung mereka, hidup tidak pernah mudah. Ama Yanu dan Ina Yanu menghabiskan hari-hari dengan bekerja di kebun dan memotong batu putih demi menyambung hidup serta membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Hujan dan panas bukan alasan untuk berhenti bekerja. Tenaga dan waktu seakan habis ditukar demi harapan sederhana: anak-anak mereka harus hidup lebih baik.

“Modal kami hanya kerja keras dan semangat. Kami tidak kenal hujan dan panas demi masa depan anak-anak,” kata Ama Yanu.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan cerita tentang keluarga yang bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, tetapi menolak menyerah pada keadaan.

Kakek 90-an Tahun Hadir

Bangganya seorang Kakek: semestinya saya entakkan kaki dan berpekik.

Pelantikan Yanwarius menjadi semakin mengharukan karena di antara para tamu hadir seorang lelaki renta berusia lebih dari 90 tahun: Ama Bulu Dodo, sang kakek.

Dengan tubuh yang mulai melemah dan langkah yang tak lagi tegap, ia tetap datang untuk menyaksikan cucunya dilantik menjadi tentara.

Kain Sumba yang dia selempangkan kepada sang cucu menjadi momen indah yang menegaskan jawaban Tuhan atas perjalanan hidup yang penuh luka.

“Saya (baca: kami) selalu jadi korban perampokan, tetapi saya tidak pernah membalas. Tuhan tahu semuanya. Dan sekarang Dia memberi kami bukti,” ucap Ama Bulu lirih.

Kalimat itu keluar dari seorang tua yang telah melewati banyak getir kehidupan. Suaranya pelan, tetapi sarat makna. Ia percaya bahwa kesabaran dan ketekunan pada akhirnya menemukan jalannya sendiri.

Bahkan di tengah kondisi tubuh yang sakit, Ama Bulu masih menyimpan semangat yang meluap-luap.

“Kalau saya tidak sakit, waktu saya selempangkan kain Sumba itu saya mau hentakkan kaki dan berpekik karena gembira,” katanya sambil tersenyum haru.

Dukungan keluarga terus mengalir. Bapa Yogan dan Mama Yogan, bapak kecil hadir menemani dan mendukung.

Kebahagiaan keluarga ini terasa semakin lengkap karena sebelumnya Krispinus Lede Dodo, anak ketiga mereka, juga telah lebih dulu diterima menjadi tentara dan kini sudah mendapatkan penempatan tugas. Dua anak menjadi tentara adalah kebanggaan besar bagi keluarga sederhana yang sehari-hari hanya akrab dengan kebun dan batu putih.

Tetap Harus Kerja Keras

Saat ini perjuangan mereka belum selesai. Anak kedua sedang menempuh semester enam di Universitas Katolik Weetebula, jurusan Peternakan. Sementara tiga anak lainnya masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMK. Semua membutuhkan biaya, tenaga, dan pengorbanan.

Tetapi bagi Ama Yanu dan Ina Yanu, menyerah bukan pilihan. Mereka tetap bangun pagi, pergi ke kebun, memotong batu putih, dan bekerja hingga matahari tenggelam. Sebab mereka percaya, pendidikan dan masa depan anak-anak adalah jalan keluar dari aneka persoalan hidup yang selama ini membelit hidup mereka.

Dari Desa Pero yang jauh di pelosok Sumba Barat Daya, kisah keluarga ini menjadi penanda bahwa harapan bisa tumbuh dari tempat paling sederhana.

Bahwa tangan kasar petani dan pemotong batu pun mampu mengantar anak-anak mereka berdiri tegak sebagai prajurit negara.

Di balik seragam loreng yang dikenakan Yanwarius hari itu, ada peluh orang tua, doa seorang kakek tua, dan perjuangan panjang sebuah keluarga kecil yang tak pernah berhenti percaya pada masa depan. (tD/EDL)

 

 

Related Post