Wed. Apr 1st, 2026

Laporan Langsung dari Asisi, Italia: Menapaki Delapan Abad Jejak Kasih di Assisi

Basilika Santo Fransiskus Assisi dari kejauhan (Foto: Jumar)

ASISI -ITALIA – Menjelang peringatan 800 tahun wafat Santo Fransiskus dari Assisi pada 2026, kota kecil Assisi berubah menjadi simpul ziarah global.

Ribuan peziarah dari berbagai negara berdatangan, menghidupkan kembali jejak spiritualitas Fransiskan yang menekankan jalan kemiskinan, kesederhanaan, perdamaian, dan cinta pada sesama serta alam ciptaan.

Di Assisi, Italia, keheningan bukan sekadar suasana—ia adalah bahasa yang berbicara langsung ke hati. Kota kecil ini menjelma menjadi magnet ziarah dunia, tempat orang-orang berdatangan bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk mengalami.

Para peziarah Tahun Yubileum Santo Fransiskus memasuki Basilika Santo Fransiskus Assisi. (Foto: Jumar)

Momentum ini semakin dipertegas ketika Paus Leo XIV menetapkan Tahun Yubileum Fransiskan, yang berlangsung dari 10 Januari 2026 hingga 10 Januari 2027. Sebuah tahun suci yang tidak hanya mengundang langkah kaki menuju tempat-tempat kudus, tetapi juga mengajak hati kembali pada nilai-nilai yang diperjuangkan Fransiskus: kemiskinan, kesederhanaan, perdamaian, dan cinta kepada seluruh ciptaan.

Perjalanan menuju Assisi sering dimulai dari Roma. Dengan kereta Trenitalia, rute sepanjang 176 kilometer ditempuh dalam waktu sekitar dua setengah jam.

Namun bagi banyak peziarah, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan ruang. Ia adalah peralihan batin—dari hiruk-pikuk kota menuju ruang sunyi yang mengundang refleksi.

Jalanan Bebatuan

Sesampainya di stasiun kecil Assisi, perjalanan berlanjut ke kota tua di lereng bukit. Jalanan batu, lorong sempit, dan bangunan abad pertengahan seolah membuka lorong waktu menuju abad ke-13, ketika Fransiskus berjalan tanpa alas kaki, mewartakan Injil dalam kemiskinan.

Fransiskus lahir sebagai Giovanni di Pietro di Bernardone, anak saudagar kaya, namun memilih meninggalkan segalanya. Bahkan pakaian mewahnya ia lepaskan—sebuah simbol radikal penolakan terhadap dunia lama—demi hidup bersama yang kecil dan terpinggirkan.

Pilihan itu tidak berhenti sebagai kisah masa lalu. Ia hidup kembali di setiap langkah peziarah hari ini.

Minggu Palma

Memasuki Pekan Suci, suasana di Assisi mencapai puncaknya. Pada Minggu Palma (29/3/2026), ribuan umat bergerak dalam arus ziarah yang terarah namun hening. Mereka mengunjungi tiga pusat spiritual utama: Basilika Santo Fransiskus, Basilika Santa Clara, dan Gereja Santa Maria Maggiore.

Di Basilika Santo Fransiskus, doa-doa dilantunkan dalam berbagai bahasa—Italia, Inggris, dan lainnya—mencerminkan wajah Gereja yang melampaui batas bangsa.

Daun zaitun dilambaikan, menggantikan palma, sebagai simbol sukacita. Sementara itu, benda-benda rohani seperti rosario, salib Fransiskan, dan kalung PAX diberkati, menjadi kenangan yang lebih dari sekadar benda: ia adalah tanda pulang.

Perjalanan berlanjut ke Basilika Santa Clara, tempat kesaksian hidup kontemplatif berakar. Lalu ke Gereja Santa Maria Maggiore, di mana peziarah berhenti lebih lama, seakan enggan beranjak. Di sana bersemayam Carlo Acutis, sosok muda yang dikenal sebagai “influencer Tuhan.”

Melalui karya digitalnya tentang Ekaristi, Carlo menjembatani iman dengan dunia teknologi, menghadirkan kekudusan dalam wajah yang akrab bagi generasi masa kini.

Assisi tidak hanya berbicara melalui tempat-tempat sucinya. Ia juga berbicara melalui lanskapnya. Suhu sejuk—sekitar 15 derajat Celsius di siang hari dan turun hingga 3 derajat pada malam hari—membungkus kota ini dalam pelukan yang menenangkan.

Ladang-ladang hijau yang membentang di sekelilingnya menghadirkan ruang kontemplasi yang luas, seolah alam sendiri ikut berdoa bersama manusia.

Biara hingga Hotel Berbintang

Para peziarah memenuhi Basilika Santo Fransiskus Assisi mengikut Misa Minggu Palma. (Foto: Jumar)

Fasilitas bagi peziarah tersedia dalam kesederhanaan: dari biara hingga hotel berbintang, dengan tarif berkisar 50 hingga 100 euro per malam. Namun kenyamanan bukanlah tujuan utama. Di Assisi, orang menemukan sesuatu yang lebih dalam—sebuah pengalaman kembali ke akar iman.

Di tengah dunia yang serba cepat dan bising, Assisi menawarkan jeda. Ia mengajarkan bahwa keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang perjumpaan.

Perayaan 800 tahun wafat Santo Fransiskus dalam bingkai Tahun Yubileum Fransiskan bukan sekadar mengenang seorang tokoh besar.

Ia adalah undangan untuk menghidupkan kembali pesan yang tetap relevan: menghadirkan damai di tengah konflik, merajut persaudaraan lintas batas, dan merawat bumi sebagai rumah bersama.

Di Assisi, pesan itu tidak hanya terdengar—ia dialami. Dan bagi setiap peziarah yang datang, perjalanan ini pada akhirnya bukan tentang tiba di sebuah kota, melainkan tentang pulang.

(Stanislaus Jumar Sudiyana, Umat Gereja Santa Clara, Bekasi Utara melaporkan dari Asisi, Italy)

 

Related Post