Tue. Mar 31st, 2026

Menabung Saham ala Irwan Hidayat: Mengubah Kebiasaan, Membangun Masa Depan

Irwan Hidayat mengajak "menabung saham"

Irwan Hidayat, Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk menggagas ikhtiar “menabung saham”.

Gagasan tersebut berangkat dari pengamatan sederhana namun tajam: banyak orang memiliki uang lebih, terutama pada momen seperti Lebaran, tetapi tidak mengelolanya secara produktif. Dana tersebut kerap hanya mengendap—aman, tetapi tidak berkembang.

Bagi Irwan, kondisi ini adalah peluang sekaligus tantangan. Ia melihat pasar modal bukan sekadar arena investasi, melainkan jalan strategis untuk memperluas kesejahteraan masyarakat. Dengan mengajak lebih banyak orang terlibat, ia percaya pertumbuhan ekonomi dapat menjadi lebih inklusif.

Literasi Masih Rendah, Potensi Masih Terbuka

Partisipasi masyarakat Indonesia di pasar saham masih tergolong rendah. Dibandingkan negara seperti Amerika Serikat, di mana lebih dari separuh penduduk telah berinvestasi, Indonesia masih berada di kisaran 3–4 persen.

Kesenjangan ini tidak lepas dari persoalan literasi keuangan. Banyak orang masih memandang instrumen seperti tabungan bank sebagai pilihan paling aman, meskipun imbal hasilnya terbatas. Ketidakpahaman terhadap risiko dan mekanisme saham membuat pasar modal terasa jauh dan rumit.

Padahal, di balik rendahnya partisipasi itu tersimpan potensi besar. Dengan edukasi yang tepat, jutaan masyarakat dapat bertransformasi dari sekadar penabung menjadi pemilik aset.

Mengganti Istilah, Mengubah Cara Pandang

Salah satu langkah paling menarik dari pendekatan Irwan adalah pemilihan kata. Ia sengaja menghindari istilah “investasi saham” dan menggantinya dengan “menabung saham”.

Pilihan ini bukan tanpa alasan. Kata “investasi” kerap diasosiasikan dengan risiko tinggi dan kompleksitas, sementara “menabung” terasa akrab, sederhana, dan aman.

Perubahan istilah ini adalah strategi psikologis—menggeser persepsi tanpa mengubah substansi. Dengan pendekatan ini, masyarakat diajak memahami bahwa membeli saham tidak harus dalam jumlah besar atau sekaligus.

Bahkan, dengan Rp100 ribu per bulan, seseorang sudah bisa mulai membangun portofolio.

Kunci: Pilih yang Sudah Terbukti

Dalam praktiknya, Irwan menekankan pentingnya kehati-hatian. Menabung saham bukan berarti membeli secara sembarangan, melainkan memilih perusahaan dengan fundamental kuat dan rekam jejak yang konsisten.

Ia mencontohkan bank-bank besar seperti Bank Central Asia, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Mandiri—perusahaan yang dinilai stabil, memiliki kinerja baik, serta rutin membagikan dividen.

Pendekatannya sederhana: jika perusahaan terbukti kuat, maka saham tersebut dapat “didiamkan” layaknya tabungan—namun dengan potensi pertumbuhan nilai.

Dimulai dari Lingkar Terdekat

Kampanye ini tidak berhenti pada wacana. Irwan memulainya dari internal perusahaan. Dari sekitar 4.000 karyawan Sido Muncul, baru sebagian kecil yang memiliki saham—sebuah gambaran nyata bahwa literasi keuangan masih perlu ditingkatkan bahkan di lingkungan korporasi.

Ia mendorong karyawan untuk mulai menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin guna membeli saham. Baginya, perubahan perilaku paling efektif lahir dari contoh konkret, bukan sekadar anjuran.

Menabung Hari Ini, Sejahtera Nanti

Pada akhirnya, “menabung saham” adalah ajakan untuk menggeser cara pandang terhadap uang: dari sekadar disimpan menjadi alat untuk bertumbuh. Jika gerakan ini meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh perekonomian nasional.

Partisipasi yang lebih luas di pasar modal dapat memperkuat struktur ekonomi, meningkatkan kepemilikan domestik, dan menciptakan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Pesan yang ingin disampaikan Irwan sederhana namun kuat: menabung tidak harus diam. Ia bisa hidup, berkembang, dan membawa masa depan yang lebih sejahtera—asal ditempatkan di tempat yang tepat. (tD/FMR)

Related Post