
Setelah satu dekade, lebih dari 1.200 katekumen dan calon anggota bersiap untuk masuk Gereja, seiring dengan meningkatnya minat terhadap iman Katolik di Keuskupan Agung Singapura. Gereja Katolik di Singapura bersiap menerima kelompok umat Katolik baru terbesar dalam sepuluh tahun terakhir pada Paskah mendatang.
Di tengah gemerlap modernitas Singapura, sebuah arus yang lebih sunyi namun mendalam tengah bergerak. Menjelang Paskah, Gereja Katolik di negara-kota ini bersiap menyambut lebih dari seribu wajah baru—sebuah angka yang menjadikannya yang terbesar dalam satu dekade terakhir.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di balik angka fantastis tersebut, tersimpan perjalanan panjang pencarian, pergulatan, dan harapan. Mereka datang dari latar belakang berbeda, bahasa berbeda, bahkan iman yang berbeda—namun bertemu pada satu titik: keinginan untuk mengenal Kristus lebih dalam.
Perjalanan Menuju Terang
Momen penting dalam perjalanan ini terjadi dalam Tata Cara Pemilihan, sebuah ritus yang menandai tahap akhir sebelum penerimaan sakramen inisiasi pada Malam Paskah. Di gereja-gereja seperti Gereja Hati Maria yang Tak Bernoda dan Gereja Kristus Raja, para peserta melangkah maju—secara harfiah dan spiritual.
Salah satu simbol paling kuat dalam liturgi ini adalah saat para katekumen menuliskan nama mereka dalam “Kitab Orang Terpilih.” Tindakan sederhana ini mencerminkan keputusan besar: meninggalkan kehidupan lama untuk memulai perjalanan baru dalam iman.
“Allah memilihmu,” demikian pesan yang ditekankan oleh Terence Kesavan. Dalam dunia yang sering menekankan pilihan manusia, pernyataan ini membalik perspektif: iman bukan hanya tentang mencari Tuhan, tetapi juga tentang menyadari bahwa kita telah lebih dahulu dicari.
Iman yang Diperjuangkan
Namun perjalanan iman tidak berhenti pada satu upacara. Dalam homilinya, William Goh mengingatkan bahwa iman membutuhkan ketekunan. Ia mengajak para katekumen untuk meluangkan waktu setiap hari merenungkan Kitab Suci—sebuah disiplin yang sederhana namun menuntut komitmen.
Seruannya juga menyentuh sisi paling manusiawi: pengakuan akan kelemahan. Masa Prapaskah, katanya, bukan sekadar tentang pantang dan puasa, tetapi tentang keberanian menghadapi diri sendiri tanpa pembenaran.
Kisah-Kisah di Balik Angka
Lonjakan ini menjadi lebih bermakna ketika dilihat melalui kisah personal.
Dr. Susanna Bay, seorang akademisi berusia 55 tahun, telah lama merasakan ketertarikan pada Katolik meski dibesarkan dalam tradisi Protestan. Perjalanannya bukanlah keputusan instan, melainkan hasil dari relasi, pengalaman, dan refleksi panjang—termasuk keterlibatannya dalam program pembinaan pernikahan.
Di sisi lain, ada Wang Xi Heng, 22 tahun, seorang prajurit muda dari Tiongkok. Jauh dari tanah air dan bergulat dengan adaptasi budaya, ia justru menemukan kekuatan dalam sesuatu yang awalnya terasa asing: Misa. Dari kebingungan, tumbuh pemahaman; dari rutinitas, lahir keteguhan.
Iman yang Menyebar
Apa yang mendorong pertumbuhan ini? Tidak ada satu jawaban tunggal. Namun, dinamika penginjilan komunitas, terutama di kalangan muda, memainkan peran penting. Selain itu, kunjungan Paus Fransiskus ke Singapura pada 2024 disebut memberi dampak yang menginspirasi banyak orang.
Iman, dalam konteks ini, tidak menyebar melalui kampanye besar, melainkan melalui perjumpaan—teman yang mengundang, komunitas yang menerima, dan pengalaman yang menyentuh.
Menyambut Generasi Baru
Menjelang malam Paskah, Gereja Katolik di Singapura tidak hanya bersiap untuk sebuah perayaan liturgi, tetapi juga untuk sebuah awal baru. Setiap nama dalam “Kitab Orang Terpilih” membawa cerita unik—tentang pencarian makna, tentang luka yang ingin dipulihkan, dan tentang harapan akan hidup yang diperbarui.
Di sebuah kota yang dikenal karena efisiensi dan kemajuan teknologinya, kisah-kisah ini mengingatkan bahwa pencarian terdalam manusia tetap sama: menemukan makna, menemukan kasih, dan pada akhirnya, menemukan Tuhan. (Vatican News/tD)

