
Dalam pertemuan hangat di Gereja Santa Devota di Monako pada 28 Maret, Paus Leo XIV menyampaikan pesan yang kuat dan penuh harapan kepada kaum muda dan para katekumen.
Di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat, ia melihat satu kekuatan yang tak tergantikan: energi kaum muda yang melimpah, yang bila diarahkan dengan iman, mampu mengubah dunia.
Pertemuan ini menjadi momen penting dalam kunjungan satu hari Paus ke negara mikro tersebut. Setelah mendengarkan kesaksian beberapa anak muda, Paus mengajak mereka meneladani keberanian Santa Devota, pelindung Monako.
Ia menggambarkannya sebagai sosok muda yang teguh dalam iman, bahkan ketika harus menghadapi penganiayaan hingga wafat sebagai martir.
Menurut Paus, kisah Devota adalah pengingat bahwa “kebaikan lebih kuat daripada kejahatan,” bahkan ketika situasi tampak gelap.
Iman, katanya, adalah benih yang mampu bertumbuh jauh melampaui apa yang bisa dibayangkan manusia.
Ia juga mengaitkan teladan Devota dengan sosok modern: Carlo Acutis, seorang remaja yang hidup di era digital namun tetap setia pada Kristus.
Dengan cara yang berbeda namun semangat yang sama, keduanya menunjukkan bahwa kekudusan bukan milik masa lalu—melainkan panggilan yang hidup dan relevan bagi generasi sekarang.
Iman yang Hidup, Bukan Sekadar Tradisi
Paus Leo XIV menekankan bahwa inti kehidupan Kristen terletak pada hubungan yang hidup dengan Kristus. Dari hubungan ini lahir persatuan—baik dalam diri sendiri maupun dengan orang lain.
Di tengah era modern dan pasca-modern, ia mengakui adanya banyak hal baik, tetapi juga tantangan besar yang tidak boleh diabaikan. Dunia digital, tekanan sosial, dan pencarian identitas sering kali membuat kaum muda terjebak dalam kegelisahan dan kekosongan batin.
Namun, jawabannya bukanlah pelarian sementara.
“Yang memberi kekokohan pada kehidupan adalah kasih,” tegas Paus—dimulai dari pengalaman akan kasih Allah, lalu diwujudkan dalam kasih kepada sesama.
Melampaui “Like” dan Ilusi Kepuasan
Dengan nada yang sangat relevan bagi generasi digital, Paus mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam validasi virtual, seperti ribuan “like”, atau dalam kepemilikan materi yang sementara.
Sebaliknya, ia mengajak kaum muda untuk berani menyingkirkan hal-hal yang menghalangi hati mereka—segala sesuatu yang artifisial, dangkal, bahkan merusak. Dengan begitu, hati dapat kembali dipenuhi oleh “udara rahmat” dan digerakkan oleh Roh Kudus.
Energi Kaum Muda sebagai Harapan Gereja
Pesan utama Paus Leo XIV jelas: energi kaum muda bukan sekadar potensi—melainkan harapan nyata bagi masa depan Gereja dan dunia.
Namun energi itu perlu arah. Ia perlu akar dalam iman, keteguhan dalam kasih, dan keberanian untuk hidup berbeda di tengah arus zaman.
Seperti Santa Devota dan Carlo Acutis, kaum muda dipanggil bukan hanya untuk percaya, tetapi untuk menjadi saksi—dalam cara yang konkret, relevan, dan penuh semangat.
Karena pada akhirnya, seperti diingatkan Paus, hanya dengan hidup dalam kasih sejati, kegelisahan menemukan damai, dan kekosongan batin benar-benar terisi. (FMS)

