Thu. Mar 26th, 2026

Kisah di Balik Bahasa Indonesia Menembus Vatikan: Dari Usulan Komunitas hingga Diplomasi Global

Rombongan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), berfoto bersama dengan Dubes RI Untuk Takhta Suci Trias Kuncahyono (berpeci) dan Ketua Komisi Komsos Mgr Agustinus Tri Budi Utomo (berjubah).

VATICAN – Di sebuah ruangan resmi di Vatikan, Rabu, 25 Maret 2026, sebuah dokumen ditandatangani. Sekilas, ia tampak seperti kesepakatan administratif biasa. Namun bagi Indonesia, momen itu lebih dari sekadar tinta di atas kertas. Ia adalah penanda hadirnya identitas bangsa di pusat komunikasi Gereja Katolik dunia.

Melalui Vatican News, Bahasa Indonesia kini resmi menjadi salah satu bahasa yang digunakan. Kesepakatan itu lahir dari penandatanganan nota kesepahaman antara Konferensi Waligereja Indonesia dan Dikasteri Komunikasi Takhta Suci—sebuah pencapaian yang ternyata berakar dari inisiatif komunitas jurnalis.

Dari Gagasan Kecil ke Panggung Dunia

Adalah Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia yang pertama kali menggulirkan ide tersebut. Ketua PWKI, Asni Ovier Dengen Paluin, tak menutupi rasa harunya. Baginya, ini adalah buah dari perjalanan panjang yang dimulai sejak Juni 2022.

Nama AM Putut Prabantoro dan Lucius Gora Kunjana menjadi dua sosok kunci di balik usulan awal. Mereka yang pertama kali menyampaikan gagasan agar Bahasa Indonesia digunakan di kanal resmi Vatikan.

Apa yang terdengar sederhana itu ternyata membutuhkan lobi, pertemuan, dan kesabaran panjang. PWKI bahkan bolak-balik ke Vatikan, membangun komunikasi dengan berbagai pihak. “Kami mengawal ini dengan serius,” ujar Mayong Suryo Laksono, yang ikut terlibat dalam upaya tersebut.

Bahasa, Identitas, dan Angka yang Bicara

Massimiliano Menicheti (Kepala Radio Vatican), Trias Kuncahyono (Dubes RI Untuk Takhta Suci), DR Paolo Ruffini (Prefek Dikasteri Komunikasi Takhta Suci, Vatikan), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo (Ketua Komisi Komsos), Andrea Tornielli (Direktur Editorial Vatican News) dan AM Putut Prabantoro (Founder / Penasihat PWKI).

Mengapa Bahasa Indonesia penting hadir di Vatican News? Jawabannya bukan semata soal kebanggaan nasional.

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk besar, termasuk umat Katolik yang tersebar aktif di berbagai belahan dunia. Dalam konteks Vatikan—yang memiliki jaringan diplomatik dengan 184 negara—bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga representasi kehadiran suatu bangsa.

Fakta lain memperkuat urgensi itu. Dalam perayaan Yubelium 2025, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah peziarah terbanyak kedua ke Vatikan. Di sisi lain, bahasa lain seperti Melayu, Hindi, Mongolia, dan Kannada sudah lebih dulu hadir di Vatican News.

“Kalau dilihat secara objektif, sudah waktunya Bahasa Indonesia mendapat tempat,” kata Mayong.

Diplomasi yang Tidak Selalu Berisik

Langkah ini juga tidak lepas dari jalur diplomasi resmi. Usulan PWKI pertama kali disampaikan kepada Laurentius Amrih Jinangkung, saat menjabat Duta Besar RI untuk Takhta Suci. Meski masa jabatannya singkat, ia memastikan gagasan tersebut tidak berhenti di tengah jalan.

Tongkat estafet kemudian berlanjut ke Michael Trias Kuncahyono, yang bersama sejumlah tokoh lain melanjutkan lobi hingga ke tahap final.

Di balik layar, kerja sama antara PWKI, KBRI untuk Takhta Suci, dan KWI menjadi kunci. Mereka menyusun langkah, memenuhi prosedur, hingga akhirnya menemukan satu syarat utama: penggunaan Bahasa Indonesia hanya bisa disahkan melalui MOU resmi antara KWI dan Dikasteri Komunikasi.

Dari Audiensi Paus hingga Forum Global

Perjalanan menuju titik ini juga diwarnai sejumlah momentum penting. Pada November 2022, delegasi PWKI berkunjung ke Vatikan dan beraudiensi dengan Paus Fransiskus. Pertemuan itu membuka jalan komunikasi lebih luas dengan Dikasteri Komunikasi.

Dorongan semakin kuat setelah Paus Fransiskus menyebut Indonesia sebagai salah satu sumber utama biarawan dan biarawati dunia. Pernyataan itu menjadi pengakuan simbolik atas kontribusi Indonesia dalam kehidupan Gereja global.

Tak lama setelah itu, PWKI menggelar pertemuan bertajuk Indonesia Goes To Continents, yang diikuti ribuan misionaris Indonesia dari lebih 70 negara. Dari forum itu, satu pesan menguat: Bahasa Indonesia bukan hanya milik dalam negeri, tetapi telah menjadi bahasa diaspora iman.

Lebih dari Sekadar Bahasa

Bagi Putut Prabantoro, keberhasilan ini tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik. Ia mengaitkannya dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan prinsip good neighbour policy—bersahabat dengan semua negara tanpa berpihak pada kekuatan besar.

Vatikan, sebagai entitas dengan jaringan diplomatik luas, menjadi mitra strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di panggung global.

Dalam perspektif ini, Bahasa Indonesia di Vatican News adalah simbol kehadiran—sekaligus pengaruh.

Menyambung Sejarah, Menatap Masa Depan

Hubungan Indonesia dan Takhta Suci sendiri bukanlah hal baru. Vatikan termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1947. Kini, 75 tahun hubungan diplomatik itu menemukan bentuk baru—dalam bahasa.

Bahasa Indonesia yang dahulu hanya bergema di nusantara, kini akan terdengar dari pusat komunikasi Vatikan, menjangkau umat Katolik di seluruh dunia.

Dan di balik capaian itu, tersimpan cerita tentang kegigihan—bahwa sebuah ide, bahkan yang lahir dari komunitas kecil, dapat menjelma menjadi kebijakan global.

Stanislaus Jumar Sudiyana, Umat Gereja Santa Clara, Bekasi Utara melaporkan langsung dari Vatican

Related Post