
Di pulau yang musim kemaraunya lebih panjang dari musim hujan itu, angin kerap berlari bebas di antara ilalang. Di sana, sabana tidak sekadar bentang alam; ia adalah napas, ingatan, dan puisi. Dari tanah itulah lahir seorang novelis dan penyair: Agust Dapa Loka.
Pulau itu juga melahirkan nama besar lain dalam dunia puisi Indonesia, Umbu Landu Paranggi. Namun bagi Agust, sabana tidak hanya menjadi latar, melainkan sumber kata-kata yang terus berdesir di dalam dirinya.
Ia memandang padang yang luas, ilalang yang bergemerisik, langit yang seakan tak bertepi—semuanya seperti baris-baris puisi yang dituliskan langsung oleh alam.
Tidak mengherankan jika ia menamai antologi puisinya Gemerisik Ilalang Padang Sabana. Judul itu seolah menangkap suara halus tanah kelahirannya: bisikan sabana yang mengalir menjadi larik-larik puisi.
Namun sebelum buku puisi itu lahir, Agust terlebih dahulu menandai jejaknya melalui sebuah novel berjudul Perempuan Itu Bermata Saga. Novel tersebut bukan sekadar karya sastra; ia adalah pernyataan keyakinan.
Dalam pandangan Agust, perempuan Sumba menyimpan energi yang nyaris tak terukur—ketangguhan yang tumbuh dari tanah keras, dari kehidupan yang sering kali menuntut keberanian.
Istrinya, Inspirasinya

Inspirasi paling dekat untuk keyakinan itu justru hadir di rumahnya sendiri: istrinya, Anastasia Talu Tadi.
Perempuan ini, dengan ketenangan yang hampir sunyi, dengan ketelitian dan ketulusan yang jarang dipamerkan, menjadi sumber kekuatan bagi Agust—terutama ketika hidup menghadapkan mereka pada tragedi yang tak pernah mereka bayangkan.
Suatu kecelakaan lalu lintas merenggut satu kaki Agust. Amputasi itu bukan hanya luka fisik. Ia datang bersama rentetan beban lain: guncangan psikologis, ketidakpastian ekonomi, dan pergulatan iman.
Bagi banyak orang, peristiwa seperti itu mungkin menjadi titik runtuh. Namun Agust memilih cara lain untuk memandangnya. “Mengeluh adalah kegagalan menangkap rahmat Tuhan,” katanya suatu ketika.
Kalimat itu tidak lahir dari kehidupan yang mudah. Ia mungkin sendiri mengalami jatuh bangun untuk benar-benar menghidupinya. Tetapi seperti sabana yang tetap tegak di bawah matahari panjang kemarau, Agust belajar berdiri kembali.
Dan ia tidak berdiri sendirian. Bersama Anastasia, ia terus menjalani hidup dengan cara yang nyaris tak terbayangkan bagi banyak orang.
Sebelum diserang stroke ringan, dengan satu kaki yang sewaktu-waktu meradang, Agust masih menerima undangan menjadi pembawa acara berbagai kegiatan.
Dengan motor mereka menempuh perjalanan yang tidak jarang melewati jalan-jalan ekstrem—jalanan yang lebih dekat pada risiko daripada kenyamanan.
Sering kali mereka harus berhenti di tengah perjalanan. Menunggu rasa sakit mereda. Menunggu kaki yang diamputasi itu memberi sedikit ruang bernapas.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan lagi. Begitu saja. Tanpa drama. Tanpa banyak keluhan. Ya, perjuangan yang nyaris spartan.
Agust percaya Tuhan tidak menutup mata terhadap upaya keras manusia. Bahwa setiap langkah—betapapun tertatih—tetap dilihat dan dihargai oleh Yang Maha Menjaga. Terutama ketika langkah itu diambil demi keluarga, demi masa depan tiga anak perempuan mereka.
Tidak Sia-sia

Dalam keterbatasan ekonomi setelah musibah itu, Agust dan Anastasia tetap memegang satu keyakinan: pendidikan adalah jalan terang bagi anak-anak mereka.
Perjuangan itu tidak sia-sia. Tiga putri mereka berhasil menempuh pendidikan tinggi dengan gelar sarjana, dan kini telah bekerja, menapaki hidup mereka sendiri. Sebuah capaian yang lahir bukan dari kemudahan, melainkan dari ketekunan yang panjang.
Cobaan hidup ternyata belum berhenti di sana. Agust sempat diserang stroke. Ia pulih—meski tidak sepenuhnya.
Namun seperti sabana yang tak pernah benar-benar kehilangan matahari, semangatnya tetap menyala.
Ia tetap aktif dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan gereja. Bahkan pada tahun lalu, dengan dukungan para sahabat, ia kembali menulis sebuah buku: Bintang Kejora Pinduhapi Menuju Maria Bunda Selalu Menolong Kambajawa.
Pierro Pioppo Hadir

Buku itu diluncurkan pada momentum peresmian Gereja Maria Bunda Selalu Menolong di Kambajawa, pada 7 Oktober 2025—sebuah peristiwa yang dihadiri oleh Piero Pioppo, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, serta Uskup Weetebula Edmund Woga.
Bagi Agust, menulis mungkin bukan sekadar kegiatan intelektual. Ia adalah cara bertahan. Cara merawat harapan. Cara berdialog dengan Tuhan dan kehidupan.
Di Pulau Sumba, sabana tetap berdesir setiap kali angin melintas. Ilalang bergoyang seperti halaman-halaman puisi yang dibalik oleh alam.
Dan di antara bentang luas itu, seorang penyair dengan satu kaki tetap berdiri, menulis, dan berjalan sejauh yang ia bisa.
Agust Dapa Loka telah membuktikan bahwa manusia tidak selalu diukur dari kelengkapan tubuhnya, tetapi dari keluasan jiwanya.
Semoga ia tetap sehat, tetap menulis, dan terus menebar inspirasi dari sabana tak berbatas bernama Pulau Sumba. (M. Ana Lalo)

