
JAKARTA – Di balik aroma rempah dan pahit-manis jamu yang akrab di lidah masyarakat Indonesia, tersimpan sebuah keyakinan: bahwa warisan leluhur tak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga harus dijaga dengan ilmu pengetahuan.
Keyakinan tersebut yang terus dipegang Dr (HC) Irwan Hidayat selama puluhan tahun menekuni dunia jamu.
Bagi Irwan, jamu bukan sekadar produk kesehatan. Jamu adalah identitas bangsa, jejak peradaban, dan cara halus mencintai Indonesia.
Melalui PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan berupaya memastikan warisan tersebut tetap hidup, dipercaya, dan dihormati, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di mata dunia.
Komitmen itu kembali mendapat pengakuan ketika Sido Muncul meraih penghargaan “Pelopor Herbal Indonesia – Penjaga Marwah Jamu Aman Nasional” dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam Malam Inagurasi HUT ke-25 BPOM di Auditorium Gedung Merah Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (31/1/2026).
Penghargaan tersebut menjadi simbol dari perjalanan panjang Irwan dalam memperjuangkan jamu berbasis sains. Ia menolak menjadikan jamu sekadar cerita masa lalu tanpa pembuktian ilmiah. Sebaliknya, ia memilih jalur yang lebih panjang dan tidak mudah: memastikan setiap produk jamu aman, teruji, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Produk jamu yang kami hasilkan tidak hanya diperkenalkan ke masyarakat, tetapi juga harus bisa dipertanggungjawabkan keamanannya secara ilmiah,” ujar Irwan.
Ia menyadari, tidak semua produk bisa serta-merta diklaim aman. Tanpa pengujian yang ketat, jamu justru berisiko kehilangan kepercayaan publik. Karena itu, seluruh produk Sido Muncul diuji melalui berbagai tahapan, mulai dari uji toksisitas hingga uji khasiat, disertai pengawasan internal dan audit berkala dari BPOM.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, Irwan paham betul betapa rapuhnya kepercayaan masyarakat. Satu keraguan saja bisa meruntuhkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun.
Namun, alih-alih berdebat di ruang digital, ia memilih menjawabnya dengan data, sertifikat analisis, dan proses produksi yang transparan.

Baginya, menjaga kepercayaan masyarakat adalah bagian dari menjaga kehormatan jamu itu sendiri.
Lebih dari itu, kecintaan Irwan pada Indonesia tak berhenti di industri jamu. Ia aktif terlibat dalam pengembangan kebudayaan dan pariwisata nasional. Irwan melihat jamu sebagai bagian dari ekosistem budaya yang lebih luas—beririsan dengan tradisi, alam, dan kearifan lokal yang menjadi daya tarik pariwisata Indonesia.
Menurutnya, ketika jamu dihargai dan dikembangkan dengan benar, Indonesia tidak hanya menjual produk, tetapi juga cerita, nilai, dan jati diri bangsa.
“Jamu adalah kebanggaan Indonesia. Kalau kita ingin jamu dihormati, maka kita harus menjaganya dengan cara yang benar,” ucapnya.
Penghargaan dari BPOM pun bukan sekadar prestasi korporasi bagi Irwan. Pengakuan tersebut menjadi penegasan bahwa jamu, sebagai warisan budaya bangsa, dapat berdiri sejajar dengan produk kesehatan modern tanpa kehilangan akarnya.
Di tengah dunia yang terus berubah, Irwan Hidayat memilih setia pada satu hal: merawat jamu, berarti merawat Indonesia. Dengan sains sebagai pegangan dan budaya sebagai jiwa, ia terus melangkah, membuktikan bahwa cinta pada negeri bisa diwujudkan melalui kerja panjang, sunyi, dan konsisten—sebotol jamu demi sebotol jamu. (tD)

