
Menjalani hidup pada tanah yang jauh dari pusat hiruk-pikuk republik selalu menghadirkan cerita yang tak pernah selesai diceritakan. Di wilayah-wilayah yang kerap hanya menjadi latar belakang berita—yang sesekali muncul karena konflik, bencana, atau kegelisahan sosial—sesungguhnya berdiam manusia-manusia tangguh yang menjahit hari-harinya dengan keberanian dan keuletan yang tak biasa.
Salah satunya adalah Zainal Abidin Chan, tokoh sentral dalam buku Zainal Abidin Chaan: 84 Tahun Perjalanan dari Babo hingga Wamena, sebuah biografi yang tidak hanya menuturkan perjalanan hidup seorang pengusaha, tetapi juga memotret denyut kehidupan Papua dari masa ke masa.
Membaca kisah Zainal Abidin Chan ibarat menelusuri jejak panjang yang dimulai dari sebuah titik yang nyaris tak menjanjikan apa pun. Ia bukan anak saudagar besar. Ia bukan pula keturunan terpandang yang dibekali tumpukan fasilitas. Bahkan untuk sekadar menjalani masa kecil yang tenang, ia tidak diberi kesempatan.
Zainal lahir pada masa ketika dunia yang seakan sedang ditelan bara Perang Dunia II. Ibunya, yang tengah mengandung dirinya dalam kondisi hamil tua, terpaksa berlari menyelamatkan diri bersama tiga anaknya, menumpas rasa takut dalam selokan air dengan perut besar yang menanti kelahiran.
Bayangkan, seorang bayi membuka mata untuk pertama kali di tengah gemuruh dunia yang kacau-balau. Dari awal hidupnya saja, kita telah melihat betapa hidup seolah ingin menguji ketangguhan anak manusia ini – (baca halaman 7).
Ketika menapaki masa remaja, kehidupan Abidin tetap belum memberi banyak keringanan. Jalannya berkelok, terjal, bahkan sering kali menyesakkan.
Ia harus bekerja di banyak tempat, melakukan pekerjaan apa saja yang bisa membuatnya bertahan: menjadi sopir, mengangkut pasir di pinggir sungai, hingga ikut berburu buaya di Sungai Memberamo—sebuah profesi yang dengan sendirinya menjelaskan betapa kerasnya medan yang ia masuki.
Hidup baginya bukanlah tempat bernaung yang hangat, melainkan gelanggang yang menuntut keberanian, ketabahan, dan pilihan untuk tetap berdiri kendati berkali-kali terhempas.
Namun, justru dari ladang-ladang kesulitan itulah keajaiban-keajaiban kecil bermunculan. Penulis biografi ini dengan cermat menunjukkan bahwa perjalanan hidup Abidin bukan hanya tentang kerja keras seorang manusia, tetapi juga tentang bagaimana Tuhan diam-diam berkarya lewat tikungan-tikungan tak terduga.
Ketika masa depan tampak samar bahkan gelap, sebuah pintu terbuka: Abidin mendapat kepercayaan mengelola sebuah hotel. Pada tikungan kehidupan yang lain, gajinya dibayar bukan dengan uang, melainkan dengan sertifikat sebuah CV—sebuah titik awal yang kelak membuka jalan panjang menuju dunia usaha yang lebih besar.
Di sinilah menariknya kisah Zainal Abidin Chan. Ia bukan sukses karena keberuntungan semata, melainkan karena ia berani memegang setiap peluang kecil dan merawatnya dengan disiplin serta kerja keras yang hampir tak masuk akal.
Dari pengalaman sebagai sopir dan buruh pasir, ia naik kelas menjadi pengelola hotel, kemudian merintis berbagai unit usaha hingga menjelma menjadi salah satu pengusaha yang disegani di Papua. Hotel Baliem Pilamo—salah satu kebanggaannya—bukan hanya bangunan usaha, tetapi simbol perjalanan panjang seorang anak manusia yang berangkat dari ketidakpastian menuju pencapaian yang kokoh.
Sebagai wartawan yang selama puluhan tahun mengamati denyut kehidupan manusia, peresensi percaya bahwa biografi seperti ini memiliki nilai lebih dari sekadar dokumentasi pribadi. Kisah Zainal Abidin Chan adalah cermin bagi generasi muda Papua maupun anak-anak bangsa di mana pun berada.
Kisah ini menunjukkan bahwa kehidupan di tanah yang keras bukan alasan untuk tunduk pada keadaan. Bahwa dari latar yang sederhana, dari hidup yang dikepung keterbatasan, manusia tetap bisa menembus batas.
Buku ini juga menyimpan pesan sunyi tentang bagaimana Tuhan berkarya dalam diam. Tidak dengan gemuruh, tidak dengan keajaiban besar, melainkan melalui peristiwa-peristiwa sederhana yang jika dirangkai membentuk jalan keselamatan. Kehidupan Abidin adalah bukti bahwa mukjizat kerap menampakkan diri dengan cara yang tak disangka.
Akhirnya, nikmatilah buku ini dengan hati terbuka. Anda akan menyusuri kisah tentang keberanian, kerendahan hati, kerja spartan, dan syukur yang dalam. Biografi ini tidak hanya memperkenalkan kita pada sosok Zainal Abidin Chan, tetapi juga pada tanah Papua yang memberi tantangan sekaligus membentuk karakternya.
Selamat membaca, dan selamat memasuki sebuah perjalanan hidup yang layak dikenang. (EMANUEL DAPA LOKA, Wartawan dan penulis biografi)
=======================
Judul Buku: H. Zainal Abidin Chandra; Kisah Juang Sopir, Porter dan Tukang Roti Menjadi Pengusaha Hotel, 84 Tahun Perjalanan Dari Babo Hingga Wamena I Penyusun: Gusty Masan Raya I Kata Pengantar: Andy F. Noya I Penerbit: Altheras Publishing (2025)I Jumlah Halaman: XVI + 366 halaman

