Sun. Nov 30th, 2025

Kepada Umat Kristen di Turki, Paus Leo: Nicea Masih Bertanya kepada Kita, Siapakah Yesus bagi Kita?

Paus Leo mengajak umat Kristen di Turki untuk terus percaya kepada Tuhan.

Bapa Suci mendesak minoritas kecil di Turki untuk percaya pada jalan Tuhan, karena Ia memilih kekecilan dan bekerja dengan kuasa Roh Kudus.

Memberikan gambaran umum sejarah Yahudi-Kristen di Turki, dari Abraham hingga Santo Paulus dan zaman Bizantium, Paus Leo mendesak komunitas Kristen kecil di Turki saat ini untuk memelihara benih iman yang diwariskan oleh Abraham, para Rasul, dan para Bapa Gereja.

Bapa Suci bertemu di Katedral Latin Roh Kudus di Istanbul dengan para uskup, imam, dan pemimpin Gereja lainnya, pada tanggal 28 November, hari pertama kunjungannya.

Mengikuti jejak Paulus VI pada tahun 1967, Yohanes Paulus II pada tahun 1979, Benediktus XVI pada tahun 2006, dan Fransiskus pada tahun 2014, Paus Leo XIV berjalan menuju bagian tengah Katedral Latin disambut sorak-sorai umat beriman yang antusias.

Matanya berkaca-kaca saat ia mengambil tempat di altar gereja, tempat para uskup dan patriark Katolik berkumpul, termasuk Kardinal Sako, Patriark Kaldea, yang datang dari Irak untuk menghadiri acara tersebut. Primata Gereja Katolik Suryani, Ignatius Joseph III Younan, juga hadir.

Mengakui bahwa umat Kristiani merupakan minoritas kecil di Turki, Paus mendesak mereka untuk percaya pada jalan Tuhan.

Katanya, ketika kita memandang dengan mata Tuhan, kita menemukan bahwa Dia telah memilih jalan kerendahan hati, turun ke tengah-tengah kita. Inilah jalan Tuhan, yang kepadanya kita semua dipanggil untuk bersaksi. Logika kerendahan hati inilah kekuatan sejati Gereja.

Lebih lanjut katanya, kekuatan itu tidak terletak pada sumber daya atau strukturnya, dan buah misinya pun tidak bergantung pada jumlah, kekuatan ekonomi, atau pengaruh sosial. Gereja justru hidup oleh terang Anak Domba; berkumpul di sekitar-Nya. Ia diutus ke dunia oleh kuasa Roh Kudus.

Paus juga berbicara tentang pentingnya Konsili Nicea, dan kemudian tentang sejarah yang lebih baru, tentang kasih sayang calon Santo Yohanes XXIII terhadap Turki.

Saya ingin mengenang seseorang yang begitu Anda sayangi, Santo Yohanes XXIII, yang mengasihi dan melayani rakyat negeri ini. Beliau menulis, “Saya ingin mengulangi apa yang saya rasakan dalam hati saya: Saya mengasihi negeri ini dan penduduknya.”

Tentang Kredo, yang dirumuskan di Nicea, Paus Leo berkata: Kredo bukan sekadar rumusan doktrinal; melainkan sebuah ajakan untuk mencari — di tengah berbagai kepekaan, spiritualitas, dan budaya — kesatuan dan inti hakiki iman Kristiani yang berpusat pada Kristus dan Tradisi Gereja.

”Nicea masih bertanya kepada kita: Siapa Yesus bagi kita, dan apa arti hakiki menjadi seorang Kristiani,” katanya lagi. (Aleteia)

Related Post