
Pater Kimy Ndelo, CSsR, Salam dari Biara Santo Alfonsus, Weetebula, Pulau Sumba
Ada sebuah legenda orang Yahudi yang dikenal baik pada masa Yesus. Pada masa pembangunan Bait Allah oleh Raja Salomo, semua batu untuk dinding Bait Allah dipotong dengan ukuran yang sama persis.
Suatu ketika, para tukang menemukan sebuah batu yang bentuk dan ukurannya berbeda dari batu-batu lainnya.
Karena dianggap tidak berguna, batu itu lalu dibuang ke arah Lembah Kidron dan menggelinding ke bawah menuju sungai.
Ketika pembangunan tembok hampir selesai, ternyata batu yang seharusnya dipasang di pojok bangunan—batu yang menjadi penentu kekuatan bangunan dan disebut batu penjuru—tidak ada.
Kepala proyek dan arsitek kemudian meminta para tukang mencari kembali batu yang telah dibuang itu. Sebab, sesungguhnya, batu itulah yang sangat penting sebagai batu penjuru.
Dengan susah payah, mereka akhirnya mengangkat kembali batu itu dari Lembah Kidron dan memasangnya pada dinding Bait Allah. Batu yang semula dianggap tidak berguna itu justru menjadi batu terakhir sekaligus batu yang terutama.
“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” (Mat 21:42)
Kisah Yesus dalam Injil hari ini merupakan sebuah kiasan atau alegori tentang penolakan.
Orang-orang pilihan yang menolak Allah dan rencana-Nya adalah bangsa Israel. Mereka diumpamakan sebagai para pekerja di kebun anggur yang seharusnya bekerja dengan baik sehingga kebun itu menghasilkan buah yang berlimpah. Yang dimaksud terutama adalah orang-orang Yahudi, khususnya para pemimpin agama.
Alegori semacam ini bukanlah sesuatu yang baru. Selama berabad-abad, relasi antara Allah dan orang Yahudi berlangsung dalam ketegangan yang sama. Allah selalu mencintai dan mengharapkan cinta-Nya dibalas. Namun, yang terjadi justru penolakan.
Mereka menolak harapan Allah akan hasil panenan berupa ketaatan, keadilan, kebaikan, dan kesetiaan. Sebaliknya, mereka menolak para nabi yang diutus untuk mengingatkan dan menasihati mereka.
Puncaknya, mereka menolak Yesus sebagai Putra Allah. Bahkan, mereka membunuh-Nya.
Penolakan itu akhirnya mendatangkan murka Allah. Status mereka sebagai bangsa pilihan, sebagai umat yang menerima berkat istimewa, dicabut.
Privilege mereka dihapus. “Kebun anggur” kesayangan itu diserahkan kepada orang lain untuk digarap agar menghasilkan buah sesuai dengan harapan pemiliknya.
Menjadi orang yang menerima privilege khusus tidak berarti bahwa seseorang boleh hidup semaunya. Janji keselamatan kepada orang-orang Kristiani harus diimbangi dengan buah-buah kehidupan yang nyata.
Kita pun bisa menjadi orang-orang yang menggantikan posisi orang Yahudi sebagai “bangsa terpilih”. Tetapi status sebagai umat pilihan tidak otomatis menjamin keselamatan. Ada tanggung jawab yang menyertainya.
Penolakan tidak selalu terungkap secara eksplisit atau verbal.
Kita bisa bertanya, misalnya, bagaimana Gereja memperlakukan tokoh-tokoh revolusioner seperti Thomas More, Oscar Romero, Martin Luther King Jr., dan banyak tokoh lainnya. Mereka berjuang agar Gereja dan masyarakat menghasilkan buah penebusan, keadilan, dan keselamatan.
Namun, banyak di antara mereka justru mengalami penolakan, bukan hanya dari orang luar, melainkan juga dari orang-orang di dalam komunitas sendiri.
Hidup tidak sesuai dengan harapan Allah juga merupakan bentuk penolakan. Mengabaikan perintah dan larangan Allah berarti menolak Dia, meskipun secara tidak langsung.
Kita tidak bisa beralasan bahwa kita tidak tahu atau tidak bermaksud melakukan penolakan itu.
Seorang ibu mendengar putranya yang berusia enam tahun menangis kesakitan. Ia berlari ke kamar dan mendapati putrinya yang berusia tiga tahun sedang menarik rambut kakaknya.
“Sudah, sudah, Dek. Jangan begitu sama kakakmu.”
Kemudian kepada putranya ia berkata, “Jangan marahi adikmu, ya. Dia tidak bermaksud menyakiti. Dia tidak tahu kalau itu sakit.”
Lalu ibu itu meninggalkan mereka.
Tidak lama kemudian, terdengar lagi suara tangisan putrinya. Ibu itu berlari ke kamar dan mendapati putranya sedang menarik rambut adiknya.
“Ka, kenapa kamu melakukan itu kepada adikmu? Itu sakit!”
Putranya menjawab, “Biar dia juga tahu kalau itu sakit, Ma.”
Cinta Allah bagaikan hukum gravitasi. Ia selalu mengarah ke bawah, merengkuh dan mencari mereka yang jatuh.
Melawan cinta Allah berarti melawan hukum gravitasi itu.
Menolak kasih Allah berarti memilih untuk jatuh semakin jauh—ke dalam lembah penyesalan yang paling dalam.
Karena itu, jangan sampai kita menjadi seperti batu yang dibuang: bukan karena tidak berharga, melainkan karena kita menolak ditempatkan pada tempat yang telah disediakan Allah bagi kita.

