Fri. Mar 20th, 2026

Oleh Budiyanto Delima

Di hari Jumat Agung, kita datang satu per satu menghampiri salib. Kita menunduk. Kita menyentuh. Kita mencium. Kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya itu momen yang sangat pribadi.

Salib bukan lambang kemenangan yang gemilang. Salib adalah lambang kegagalan di mata dunia.

Ada kesepian Getsemani. Pengkhianatan Yudas. Penolakan Petrus. Teriakan massa.

Namun justru di tempat yang tampak paling gelap itu, kasih Allah dak mundur.

Ketika kita mencium salib, kita seper berkata: “Tuhan, aku mungkin tidak selalu setia. Tapi Engkau setia.” “Aku sering jatuh. Tapi Engkau tetap mengasihi dan menopang.”

Mencium adalah tanda cinta. Kita tidak mencium karena salib itu indah.

Kita mencium karena Dia yang tergantung di sana telah lebih dahulu mencintai kita sampai menyerahkan diri-Nya.

Mungkin kita datang membawa beban: kegagalan usaha, konflik keluarga, luka pelayanan, rasa lelah yang tak terlihat.

Saat bibir kita menyentuh salib, sebenarnya kita sedang meletakkan semua itu di sana. Dan “salib” dak menolak.

Di kayu salib itu, penderitaan tidak dihapus secara ajaib, tetapi diberi makna. Air mata tidak dihilangkan, tetapi ditemani dan dikuatkan.

Hari ini kita tidak merayakan kematian. Kita merayakan kasih yang tidak menyerah. Maka ketika kita mencium salib, biarlah itu bukan sekadar tradisi tahunan.

Biarlah itu menjadi keputusan: untuk tetap mengasihi, tetap setia, tetap percaya — meski hidup belum sempurna.

Dari salib yang sunyi ini, Tuhan sedang berkata pelan kepada kita: “Aku tidak turun dari salib, karena kasih-Ku kepadamu dak pernah menyerah.”*

Related Post