Sat. Aug 29th, 2026
Lala: Ibu, aku mencintaimu. Juga tak mau terbakar benci pada ayah.

Cerpen Emanuel Dapa Loka

Malam itu, Tommy menemukan dirinya yang sesungguh-sungguhnya.

Atau mungkin, untuk pertama kalinya, ia berhenti berpura-pura menjadi manusia baik.

Di gudang yang gelap, hanya seberkas cahaya lampu taman yang menyelinap melalui celah pintu. Ilona terikat pada sebuah kursi. Tubuhnya penuh lebam. Napasnya tersengal. Suaranya nyaris habis setelah berjam-jam menjerit meminta pertolongan.

Tommy berdiri di hadapannya dengan napas memburu. Dia kembali memukul Ilona dengan ikat pinggang kulitnya.

Di sudut ruangan ada sebatang stick golf.

Dia melangkah, memalingkan wajah:

“Berhenti menangis!” bentaknya.

Ilona mengangkat wajah. Matanya basah. Bukan hanya karena rasa sakit, tetapi karena ketakutan yang sudah terlalu lama memenuhi rumah itu.

“Tommy… Lala masih kecil,” kata Ilona lirih.

Nama itu membuat tangan Tommy berhenti sesaat.

Lala.

Anak mereka.

Anak yang seharusnya menjadi alasan seorang ayah menjaga rumahnya tetap aman.

Tetapi sesaat kemudian kemarahan menutup sisa-sisa akal sehatnya.

Stick golf itu terangkat.

Ilona memejamkan mata.

Namun sebelum ayunan itu terjadi, terdengar suara kecil dari balik pintu.

“Ibu…”

Tommy menoleh.

Tak ada siapa-siapa.

Hanya suara malam.

Dan sesaat kemudian stick golf itu melayang. Meregang!

Pagi datang tanpa membawa Ilona lagi.

***

Bagi Lala, pagi itu terasa seperti pagi-pagi lainnya. Ia menunggu ibunya datang membuka pintu kamar. Menunggu suara lembut yang biasanya membangunkannya.

Tidak ada.

“Ibu?”

Tidak ada jawaban.

Lala turun dari tempat tidur.

“Ibu…”

Ia berjalan ke ruang tengah.

Kosong.

Sejak hari itu, ia tidak pernah melihat ibunya lagi.

Tommy mengatakan bahwa ibunya pergi.

“Jangan banyak bertanya.”

Tetapi anak kecil tidak pernah benar-benar bodoh.

Lala tahu ibunya tidak pergi.

Ia tahu ada sesuatu yang terjadi.

Ia hanya belum tahu apa.

Setiap malam ia menangis sambil memeluk sebuah foto. Dalam foto itu, Ilona memeluk ibunya erat. Senyum ibunya begitu hangat, seolah tidak ada satu pun kejahatan di dunia yang sanggup menyentuh mereka.

“Aku ingin peluk Ibu.”

Lala mencium foto itu.

Lalu sesuatu yang aneh terjadi.

Seorang gadis kecil sekonyong-konyong muncul di samping tempat tidurnya.

Usianya kira-kira sebaya dengan Lala.

Rambutnya panjang. Wajahnya tenang. Matanya memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Lala tidak takut.

Gadis itu tersenyum.

Kemudian menyodorkan sepiring ayam goreng sambal.

Lala terdiam.

Itu makanan kesukaannya.

Lebih aneh lagi, rasanya persis seperti masakan ibunya.

Setelah itu gadis kecil tersebut memberikan segelas milk tea.

Lala menyeruputnya.

Rasa yang sama.

Persis seperti buatan Ilona.

“Ibu yang membuatnya?”

Gadis itu hanya tersenyum.

Sejak malam itu, ia selalu datang.

Tidak pernah berkata banyak.

Hanya menemani.

Mengusap kepala Lala ketika ia menangis.

Menggenggam tangannya ketika ia ketakutan.

Dan setiap kali Lala merasa dunia terlalu kejam, gadis itu selalu berada di sana.

***

Tahun-tahun berlalu.

Lala tumbuh dalam rumah yang sebenarnya lebih mirip penjara.

Ia tidak boleh keluar dari kompleks.

Tidak boleh menggunakan telepon.

Tidak boleh bertanya tentang ibunya.

Tidak boleh membantah ayahnya.

Tommy adalah seorang pebisnis besar. Di hadapan orang lain ia bisa menjadi lelaki yang murah senyum, dermawan, dan terhormat.

Tetapi di rumah, ia berubah.

Satu kesalahan kecil cukup untuk membuat tangannya terangkat dan memakan korban.

Lala dan ibunya pernah dikunci di kamar mandi.

Pernah tidak diberi makan.

Pernah dipukul dengan ikat pinggang.

Dan yang paling menyakitkan, ia pernah melihat neneknya sendiri dipukul oleh anak kandungnya.

Nenek hanya bisa menangis.

“Tommy… dia ibumu.”

Tetapi Tommy tidak peduli.

Setahun setelah kematian neneknya, Lala menemukan sesuatu yang membuat seluruh masa kecilnya runtuh.

Siang itu, ketika Tommy pergi, Lala menyelinap  masuk ke ruang kerja ayahnya.

Ia mencari foto ibunya.

Tangannya menarik sebuah buku dari rak.

Dia mengira itu adalah album foto.

Siapa tahu ada lagi foto ibu.

Klik.

Justru sebuah pintu terbuka.

Di baliknya terdapat ruangan sempit.

Dan di sana ada cemeti.

Ikat pinggang.

Kabel.

Tongkat.

Berbagai benda yang pernah ia lihat di tangan ayahnya saat murka.

Lala membeku.

Dadanya sesak.

Ia melihat satu benda yang membuat lututnya lemas.

Stick golf.

Tiba-tiba kepalanya dipenuhi suara jeritan.

Suara ibunya.

Suara neneknya.

Suara tangisnya sendiri.

Lala jatuh terduduk.

“Ibu…”

Gadis kecil itu berdiri di belakangnya.

Kali ini tidak tersenyum.

Ia hanya menunjuk ke arah stick golf.

Lala menatapnya.

“Ini… yang membunuh Ibu?”

Gadis kecil itu mengangguk.

Air mata Lala jatuh.

Untuk pertama kalinya, ia mengerti.

Ibunya tidak pergi.

Ibunya dibunuh.

Dan orang yang membunuhnya adalah ayahnya sendiri.

Malam itu, sesuatu dalam diri Lala berubah.

Bukan lagi rasa takut.

Bukan lagi kesedihan. Melainkan kemarahan. Kemarahan yang bertahun-tahun terkurung di dalam tubuh kecilnya.

***

Gadis kecil itu membawanya ke sebuah tempat yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

Sebuah hutan kecil.

Indah.

Tenang.

Setiap subuh ada yang latihan pencak silat.

Lala pun ikut latihan.

Dia cepat menguasai jurus melampaui mereka yang sudah lama ikut latihan.

Ketika melakukan sparing, Lala sangat lincah memainkan jurus-jurus itu.

Dia bahkan mengimprovisasi jurus-jurus itu sehingga lebih mematikan saat menyerang lawan. Semua terheran-heran.

Walau lompat sangat tinggi dan jatuh ke tanah, tidak sedikit pun kulitnya lecet atau cedera. Selalu mendarat sempurna. Ternyata gadis kecil temannya itu yang menatangkan tangannya.

Lala makin hebat.

Dan yang terpenting temannya itu selalu bersamanya.

Selalu menghibur dan menguatkan.

Subuh itu, pukul 03.30.

Pintu rumah terbuka.

Tommy pulang.

Ia masuk ke kamar Lala.

Kosong.

“Lala!”

Tidak ada jawaban.

Tangannya meraih cemeti.

“Lala!”

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

“Saya di sini.”

Tommy menoleh.

Lala berdiri di ambang pintu.

Tatapannya berbeda.

Tidak ada ketakutan.

Tidak ada tangis.

“Ke mana saja kamu?” bentak Tommy.

Lala diam.

Tommy mengangkat cemeti.

“Kurang ajar!”

Tangannya bergerak.

Tetapi sebelum cemeti itu menyentuh tubuh Lala, tangan gadis itu menangkapnya.

Tommy terkejut.

“Sudah cukup.”

Lala menatap ayahnya.

“Cukup pada Ibu.”

Napas Tommy berhenti sejenak.

“Cukup pada Nenek.”

Tommy mundur.

“Dan cukup pada saya.”

“Brengsek!” teriak Tommy.

Lala menatapnya.

“Masih berani memaki?”

Tommy hendak menyerang.

Dalam sekejap Lala menjatuhkannya. Menyarangkan tendangan pada kedua lututnya.

Tommy terpental dan tak mampu berdiri.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, lelaki itu melihat ketakutan di wajahnya sendiri.

Lala menyeretnya ke gudang.

Tempat semuanya bermula.

Ia mengikat Tommy pada kursi.

Persis seperti Tommy dahulu mengikat Ilona.

Lala mengambil cemeti.

Tangannya gemetar.

Tommy melihat mata anaknya.

“Lala… jangan.”

Sabetan pertama menghantam udara.

Sabetan kedua menghantam kedua tangan dalam ikatan.

Tommy memejamkan mata.

Sabetan ketiga menghantam punggung.

Lala menangis histeris.

Tangannya masih menggenggam cemeti.

Ia melihat wajah ayahnya.

Kemudian ia melihat wajah ibunya Ilona dalam ingatan.

Ilona yang tersenyum.Ilona yang memeluknya. Ilona yang pernah berkata: “Jadilah anak yang kuat.”

Air mata Lala mengalir semakin deras.

Sesenggukan.

“Aku ingin membunuhmu.”

Tommy terdiam.

“Aku ingin sekali.”

Tangannya mencengkeram cemeti.

“Aku ingin kau merasakan semua yang Ibu rasakan.”

Lala mengangkat stick golf.

Tommy menutup mata.

“Lala… ampuni Ayah.”

Lala mengangkat stick itu tinggi-tinggi.

Menggosok-gosokkan ke kepala Tommy.

“Kenapa sekarang meminta ampun?”

Tommy menangis.

“Karena Ayah takut mati.”

“Dulu Ibu juga takut mati.”

Sunyi.

Lala mengayunkan stick golf.

BRAK!

Bukan kepala Tommy yang terkena.

Melainkan bingkai foto Tommy di dinding, persis di atas kepala Tommy dengan pose menerima piala kejuaraan golf.

Bingkai itu pecah.

Kacanya berserakan.

Tommy membuka mata.

Lala berdiri sambil menangis.

“Aku bukan kamu.”

Tommy terdiam.

“Aku bukan ayahku.”

Stick golf itu jatuh dari tangan Lala.

“Aku tidak akan membunuhmu.”

Ia membuka ikatan Tommy.

“Ingat!! Bukan karena kamu pantas hidup. Tapi karena Ibu tidak pernah mengajariku menjadi sepertimu.”

***

Matahari mulai muncul.

Lala berjalan keluar dari kompleks.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia melangkah melewati pagar tinggi yang selama bertahun-tahun mengurungnya.

Ia berjalan menuju rumah ketua RT.

Dengan tangan gemetar, ia menggunakan telepon.

“Pak… tolong panggil polisi.”

“Ada apa?”

“Ayah saya menyiksa Ibu sampai meninggal.”

Lala berhenti sebentar.

Air matanya jatuh.

“Dan selama bertahun-tahun dia menyiksa saya dan Nenek.”

Beberapa tetangga mulai berdatangan.

Mereka semua tahu.

Mereka pernah mendengar jeritan dari rumah besar itu.

Tetapi selama ini mereka diam.

Mereka takut kepada Tommy.

Pagi itu, ketakutan mereka berakhir.

Polisi datang.

Tommy diborgol.

Ketika dibawa melewati Lala, ia menundukkan kepala.

“Lala…”

Lala tidak menjawab.

Ia hanya memandang ayahnya pergi. Air matanya kembali tumpah.

***

Di sampingnya, gadis kecil itu tersenyum.

Lala menggenggam tangannya.

“Sekarang Ibu ada di mana?”

Gadis kecil itu menunjuk ke depan.

Lala melihat sesuatu yang tidak mungkin dilihat orang lain.

Ilona berdiri di bawah cahaya matahari.

Tersenyum.

Di sampingnya ada sang nenek.

Lala berlari.

“Ibu!”

Ia memeluk perempuan itu.

Pelukan yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia bayangkan.

Kini benar-benar ada.

Ilona mengusap rambutnya.

“Kamu sudah menjadi anak yang kuat.”

Lala menangis di dada ibunya.

“Aku hampir membunuh Ayah.”

Ilona memeluknya semakin erat.

“Tetapi kamu tidak melakukannya.”

Lala terisak.

“Kenapa?”

“Karena kamu memilih menjadi dirimu sendiri.”

***

Dua belas tahun kemudian, Tommy keluar dari penjara.

Ia tidak lagi menjadi pengusaha besar.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada orang yang berebut menjabat tangannya.

Ia hanya seorang lelaki tua tukang sapu di sebuah lembaga pemasyarakatan.

Dia tidak mau kembali ke rumah.

Dia bertekad meninggalkan segalanya.

Setiap pagi ia membersihkan lorong-lorong penjara.

Orang-orang berkata ia berubah.

Ia menyesal.

Ia bertobat.

Tetapi tidak ada hari ketika Tommy benar-benar bisa melupakan gudang itu.

Setiap kali melihat stick golf, tangannya gemetar.

Setiap kali mendengar suara anak kecil memanggil “Ibu”, dadanya terasa sesak.

Suatu pagi, ketika sedang menyapu halaman, seorang petugas memberinya sebuah surat.

Tidak ada nama pengirim.

Tommy membukanya.

Hanya ada dua kalimat.

“Aku tidak memaafkan apa yang Ayah lakukan. Tetapi aku juga tidak mau hidup dengan kebencian seperti Ayah.”

Tommy membaca kalimat itu berkali-kali.

Air matanya jatuh.

Untuk pertama kalinya, ia menangis bukan karena takut mati.

Tetapi karena sadar bahwa orang yang paling ia sakiti justru menjadi manusia yang jauh lebih baik daripada dirinya.

***

Di tempat lain, Lala berdiri di depan sebuah makam.

Makam Ilona.

Ia meletakkan bunga.

“Aku tidak pernah lupa, Bu.”

Angin bergerak pelan.

Daun-daun bergoyang.

Dan untuk sesaat, Lala merasa ada tangan kecil menggenggam tangannya.

Gadis kecil itu kembali tersenyum.

Lala membalasnya.

Kemudian ia memandang langit.

“Ibu… aku sudah belajar.”

Ia tersenyum.

“Aku tidak menjadi seperti dia.”

Dan mungkin, itulah kemenangan terbesar seorang anak yang pernah kehilangan segalanya.

Bukan ketika ia mampu membalas kejahatan, melainkan ketika ia mampu menghentikan kejahatan itu agar tidak diwariskan kepada dirinya.*

Related Post