Mon. Aug 17th, 2026

Malam Renungan Kebangsaan GMNI: Rawat Ingatan dan Teguhkan Semangat Kebangsaan

Eros Djarot saat sampaikan refleksinya: Pancasila Jangan hanya dihafalkan.

JAKARTA — Atas inisiatif Dewan Pakar, Alumni GMNI menggelar Malam Renungan Kebangsaan bertajuk “Merawat Ingatan, Meneguhkan Ruh Kebangsaan” di pelataran Sekretariat Alumni GMNI, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (16/8/2026) malam.

Malam renungan tersebut menjadi ruang refleksi bagi para alumni dan anak-anak ideologis Bung Karno untuk kembali mengingat jejak sejarah perjuangan bangsa, sekaligus meneguhkan sikap dalam merawat Indonesia sebagai warisan para pendiri bangsa, termasuk Bung Karno, Bung Hatta, dan para perintis kemerdekaan.

Sejumlah tokoh hadir dan menyuarakan pentingnya menjaga arah perjalanan bangsa agar tetap sehat, beradab, serta berpijak pada sejarah dan nilai-nilai kebangsaan.

Arief Hidayat: Pidato 1 Juni Menjawab Pertanyaan Radjiman

Ketua Alumni GMNI, Arief Hidayat, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas ditemukannya dokumen draf naskah asli pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang sebelumnya sempat dinyatakan hilang atau belum ditemukan.

Guru Besar Ilmu Hukum tersebut menilai dokumen itu memiliki arti penting dalam memahami sejarah lahirnya Pancasila.

Menurut Arief, dokumen tersebut menjadi bukti mutlak bahwa pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 merupakan jawaban atas pertanyaan Ketua BPUPK, Radjiman Wedyodiningrat, mengenai dasar negara Indonesia merdeka, yakni Pancasila.

Pandangan itu menempatkan dokumen pidato 1 Juni bukan semata sebagai arsip sejarah, tetapi sebagai bagian penting untuk memahami hubungan antara pertanyaan mengenai dasar negara yang diajukan dalam persidangan BPUPKI dan jawaban Soekarno pada 1 Juni 1945.

Eros Djarot: Pancasila Jangan Sekadar Dihafalkan

Politisi dan budayawan Eros Djarot dalam refleksinya mengajak generasi bangsa untuk memahami ideologi Indonesia secara substantif.

Menurut Eros, Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan, demikian pula UUD 1945 dan Marhaenisme. Semuanya harus dipahami dan dihayati sehingga dapat diterjemahkan menjadi sikap serta tindakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Eros juga mengkritik penggunaan istilah “Empat Pilar”, khususnya ketika Pancasila ditempatkan sebagai salah satu dari empat pilar. Menurut dia, secara logika Pancasila semestinya ditempatkan sebagai dasar, karena pilar berdiri di atas dasar. “Yang benar itu satu dasar, tiga pilar,” ujar Eros dalam refleksinya.

Ia sekaligus mendorong para pakar konstitusi untuk terus mengkritisi perkembangan ketatanegaraan Indonesia, termasuk perubahan terhadap UUD 1945. Menurutnya, bangsa Indonesia harus memastikan dengan jelas apa yang menjadi pijakan dasar dalam kehidupan bernegara.

Marhaenisme: Kemerdekaan, Merdeka, Memerdekakan

Dalam refleksinya, Eros juga menyoroti kesulitan menerjemahkan Marhaenisme ke tingkat operasional.

Ia menawarkan tiga kata yang menurutnya menjadi intisari ajaran Bung Karno: “Kemerdekaan, merdeka dan memerdekakan.”

Menurut Eros, kemerdekaan merupakan nilai tertinggi bagi Soekarno. Karena itu, seorang Marhaenis tidak cukup hanya mengaku sebagai Marhaenis, tetapi harus mampu menerjemahkan nilai kemerdekaan dalam perilaku dan kehidupan politik.

Ia menekankan bahwa seseorang harus mampu memerdekakan dirinya sendiri sebelum memerdekakan orang lain.

Eros juga mengingatkan agar Indonesia tidak membangun budaya feodal dalam kehidupan politik. Indonesia membutuhkan pemimpin dan presiden, bukan raja ataupun ratu. “Yang kita inginkan seorang pemimpin, kita inginkan seorang presiden, bukan seorang raja ataupun ratu,” tegasnya.

Pada bagian akhir refleksinya, Eros menitipkan perhatian pada persoalan budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, perdebatan mengenai ekonomi dan politik tidak boleh membuat bangsa kehilangan pijakan budaya dalam menjalankan kehidupan kenegaraan.

Andreas Hugo Parera: Tanpa 16 Agustus, Tak Ada Proklamasi 17 Agustus

Pesan penting lainnya datang dari alumnus GMNI Andreas Hugo Parera. Sebelumnya, Andreas mengingatkan pentingnya memahami rangkaian peristiwa menjelang Proklamasi Kemerdekaan secara utuh.

Menurut dia, peristiwa 16 Agustus 1945 merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari lahirnya Proklamasi 17 Agustus 1945. “Kalau tidak ada peristiwa 16 Agustus, tidak mungkin ada Proklamasi 17 Agustus,” kata Andreas.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lahir dalam ruang kosong, melainkan melalui rangkaian peristiwa, perdebatan, ketegangan dan keberanian para tokoh bangsa.

Puisi “Pada Tiang Matahari”

Refleksi melalui puisi

Nuansa reflektif semakin terasa ketika Emanuel Dapa Loka menyampaikan refleksinya melalui puisi “Pada Tiang Matahari”.

Emanuel membacakan puisi tersebut bersama tiga alumni GMNI, yakni Lensi, Ibenk, dan Emmy.

Puisi itu membawa kembali ingatan pada pengorbanan para pejuang yang telah memberikan hidup dan nyawanya bagi Indonesia. Semangat tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati generasi sekarang merupakan hasil perjuangan panjang yang harus terus dirawat.

Malam Renungan Kebangsaan akhirnya diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan mengenang masa lalu. Pesan yang mengemuka dari para pembicara adalah pentingnya menjadikan ingatan sejarah sebagai pijakan untuk menentukan arah masa depan bangsa.

Merawat ingatan berarti menjaga agar bangsa tidak kehilangan akar sejarahnya. Meneguhkan ruh kebangsaan berarti memastikan cita-cita kemerdekaan tetap hidup dalam sikap, kebijakan, dan tindakan generasi penerus. (tD)

Related Post