Thu. Jul 18th, 2024
Dr Eleine Magdalena ditemani suaminya Singgih H. Wijaya menerima Penghargaan MURI.

JAKARTA-Keberhasilan Eleine Magdalena Sengkey meraih gelar Doktor Teologi Katolik dari STF Widya Sasana Malang pada 23 maret 2024, menempatkannya sebagai perempuan pertama peraih gelar doktor teololgi Katolik lulusan Indonesia.

Keberhasilan tersebut ternyata terpantau oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) dan kemudian menganugerahkan penghargaan sebagai Perempuan Pertama Peraih Gelar Doktor Teololgi Katolik Lulusan Indonesia kepada ibu dari dua anak tersebut. Penyerahan penghargaan dilaksanakan pada 10 Juli 2024 di Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta bersama tujuh rekoris lain pada bidang masing-masing.

Pencapaian langka tersebut terjadi karena pada 2019 baru untuk pertama kalinya sebuah lembaga pendidikan Katolik di Indonesia, yakni STFT Widya Sasana Malang membuka Program Studi Doktoral Teologi. Sejak berdiri, Prodi tersebut telah meluluskan beberapa doktor, dan Eleine merupakan doktor perempuan pertama.

Melalui penelitian untuk disertasinya Aplikasi Teologi Detachment Santo Yohanes Salib dalam Perkawinan yang Menderita, Eleine menemukan bahwa hidup perkawinan beberapa perempuan berada dalam penderitaan.

Atas penghargaan tersebut Eleine mengucapkan terima kasih kepada MURI. Penulis buku Menjadi Kekasih Tuhan dan Kekasih Suami ini memaknai penghargaan MURI ini sebagai motivasi untuk semakin bersemangat dalam pelayanan dan memberi kontribusi kepada Gereja Katolik Indonesia melalui disiplin ilmunya.

Menurutnya, Gereja membutuhkan perspektif, pandangan atau sentuhan perempuan dalam teologinya. ”Semoga pencapaian Rekor MURI ini menjadi motivasi bagi saya dan perempuan yang lain. Juga mendorong meraih pencapaian-pencapaian lain dalam hidup sesuai dengan bidang dan panggilan masing-masing. Saya yakin, setiap orang mempunyai tujuan yang ingin dicapai, yang Tuhan taruh dalam dirinya. Saya berharap itu berdampak bagi orang lain,” ungkap Eleine usai menerima penghargaan.

Dr Eleine Magdalena ingin memberi kontribusi bagi Gereja Katolik.

Kata Eleine, sebagian perempuan menghadapi dan menjalani penderitaan dalam hidup perkawinan mereka sebagai jalan transendensi dan pengembangan diri menuju persatuan dengan Tuhan karena memperdalam relasi dengan Tuhan, menumbuhkan iman, harapan dan memurnikan kasih.

Kata Eleine, walaupun melewati jalan yang benar-benar gelap, mempertahankan perkawinan menjadi jalan yang membawa mereka pada pertumbuhan rohani dan membangun diri.

Dalam penelitian ini, ibu dari dua anak tersebut menemukan bahwa keterikatan manusia pada segala  yang bukan Allah, baik indrawi maupun rohani menjadi penghalang untuk menikmati keindahan hidup dan menziarahi jalan kekudusan dalam hidup perkawinan. Bahkan keterikatan yang tidak teratur inilah penyebab dari banyak penderitaan dalam relasi suami-istri. Dan menurutnya, aplikasi teologi detachment Santo Yohanes Salib dapat menjadi treatment dari sudut spiritualitas bagi keluarga yang sedang menghadapi masalah atau perkawinan yang menderita.

Detachment menolong perempuan menumbuhkan kebajikan dan melepaskan ikatan yang membebani perempuan untuk bertumbuh sebagai pribadi yang kuat. Detachment menolong perempuan berkembang dalam iman, harapan dan kasih justru di tengah situasi terbatas dan situasi menderita dalam perkawinan.

Untuk menolong banyak keluarga, khususnya perempuan yang mengalami penderitaan dalam hidup perkawinan, Eleine akan menerbitkan disertasinya tersebut menjadi buku, tentu setelah dilakukan penyesuaian, agar menjadi buku yang enak dibaca. (tD/01)

Related Post